Kabar Terkini

Dari Dubrovnik ke Jakarta


Oleh-oleh dari 7000 mil, inilah tema yang diangkat dalam pagelaran Dubrovnik Symphony Orchestra yang dikomandani Noorman Widjaja pada Jumat malam lalu.

Mengusung beberapa solois, pergelaran konser yang diadakan di Aula Simfonia Jakarta ini mengangkat banyak karya simfonik dari zaman romantik. Pianis Ani Takidze, violinis Iskandar Widjaja, soprano Lorena Campari dan tenor Kim Jeong Kyu adalah beberapa solois yang tampil malam itu.

Ani Takidze tampil memukau dengan Piano Concerto no.1 karya Frederick Chopin yang diperingati 200 tahun lahirnya tahun ini. Terlihat jelas bahwa Ani adalah pianis yang sangat terlengkapi dengan kecepatan jari yang kokoh khas Rusia namun juga memiliki sensitifitas yang mendalam ketika memainkan konserto yang digolongkan tersulit oleh kebanyakan pianis. Setiap untaian nada terangkai dengan cermat dan bersih juga dengan aksentuasi yang kaya namun natural. Sayangnya ukuran piano yang digunakan tidak mampu mengimbangi volume orkestra, sehingga di beberapa bagian tidak terlalu terdengar.

Iskandar sendiri membawakan karya Carmen Fantasy untuk Biola dan Orkes. Gubahan Sarasate atas tema-tema opera karya Bizet ini merupakan karya virtuos untuk biola. Namun Iskandar Widjaja yang mengenyam pendidikannya di UDK Berlin, bermain dengan penuh energi dan teknik tinggi. Nada-nada tinggi dan harmonik dieksekusi dengan cukup bersih. Cukup jarang kita melihat violinis muda bermain dengan penguasaan yang matang di Indonesia.

Soprano Lorena Campari dan tenor Kim Jeong Kyu juga tampil cukup mempesona. Proyeksi yang jelas membahana seakan menari di atas permainan orkes dan paduan suara Batavia Madrigal Singers.

Secara umum konser ini sukses. Dubrovnik sendiri memiliki warna suara yang cukup kental, kaya dan berisi khas kebanyakan orkes Eropa Timur, interpretasi pun cukup baik. Kemampuan rata-rata pemainnya juga cukup tinggi, namun sayang sekali orkes asal Kroasia dan dibentuk tahun 1925 ini memiliki kendala dalam presisi. Beberapa kali terdengar di banyak tempat yang membutuhkan ketelitian nada saat eksekusi seakan terlewat begitu saja tanpa digarap bersama.

Namun bagaimana pun juga menyaksikan sebuah orkes Eropa bermain di Indonesia bukanlah kesempatan yang sering terjadi di Indonesia, bahkan Jakarta sekalipun. Dubrovnik beserta oleh-oleh musik dari Noorman Widjaja ini pun pasti akan memperluas khasanan penikmat musik yang menyaksikannya. Sungguh sayang karena aula malam itu lebih banyak kosong daripada terisi.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Dari Dubrovnik ke Jakarta

  1. Is it allowed to take picture during the performance?

  2. from the announcement, only audio and audio-visual recordings that are not allowed. As I learned, taking photographs is not considered a violation.

  3. haha, yg dikomentari ngga terlalu penting yah Mike😛

    Hmm, publikasi masih jadi bidang yang belum digarap maksimal rupanya oleh para penggelar acara kebudayaan, terutama musik Klasik. Tingginya harga tiket pun juga amat berpengaruh pada kosongnya bangku penonton. Uda jelas2 pertunjukan seperti ini butuh banyak perbaikan di bidang peniketan dan publikasi, namun kenapa ngga banyak yang mau nyemplung di bidang ini yah? Art Summit tahun ini di TIM dan bbrp tempat juga ngga banyak diketahui dan ditonton orang. Beda banget klo liat keberhasilan Salihara dalam mempublikasikan acara2nya, bahkan hingga tiket habis di pertunjukan2nya! Padahal gw lihat sponsor untuk konser Dubrovnik ini banyak buanget, kenapa bisa gitu ya?

  4. Hei mike thanks untuk ulasannya yah, tulisan lu sering menambah pemahaman gue.🙂

    @Andreas:
    Btw terus terang memang sangat banyak kendala dalam menghadirkan para musisi ini ke tanah air. Wacana kehadiran mereka ke Indonesia pun sebenarnya sudah ada 2 tahun yang lalu, hanya saja memang baru berhasil kita hadirkan ke Indonesia. Oya Kebetulan gw sendiri yang handle media partner dalam acara ini.

    Jangan tertipu dengan banyaknya logo para sponsor yang ada di lembaran publikasi, karena belum tentu bantuan yang diberikan benar-benar sesuai harapan kita.

    Dan sebenarnya untuk publikasipun itu butuh dan tergantung lagi kepada seberapa besar dana yang tersedia dan partner kita siapa, karena lagi-lagi untuk bekerja sama dengan media juga butuh dana yang tidak sedikit, semuanya tergantung budget dan ya strategi yang tepat tentunya.

    Ya untuk event kebudayaan saya akui sangat sulit apalagi kalau event-event seperti pertunjukan musik klasik, karena target pasarnya sendiri sudah segmented dan lagi-lagi karena permasalahan dana terpaksa tiket yang dipatok juga cukup menyurutkan minat sebenarnya …

    Beda halnya dengan Salihara, festival yang mereka adakan sendiri sudah konsisten, mereka memiliki komunitas tersendiri sehingga pemasarannya jauh lebih efektif plus sponsor dibelakangnya memiliki dana super gemuk, sebut sajalah para produsen rokok, nah kalau belum memiliki kredibilitas dimata para sponsor dan media partner, ya tentunya akan banyak kendala …

  5. Kalau dari Jakarta bisa bawa oleh-oleh yang namanya The Jampang, kaos jakarta loh…. bisa dilihat di http://www.thejampang.com , ayo pakai dan cintai ploduk-ploduk Indonesia…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: