Kabar Terkini

Menggali Makna: “Musik Tidak Bisa Bohong”


Lembut, tegar dan mendalam inilah kesan yang membekas pada permainan piano Iravati M Sudiarso Sabtu malam lalu. Setelah beberapa tahun vakum dari resital solo, malam itu Iravati M. Sudiarso kembali ke panggung Gedung Kesenian Jakarta.

Resital tunggal malam ini memang terkesan sangat personal bagi Iravati maupun pendengar. Setiap karya mengesankan kenangan Iravati akan para gurunya, Leon Fleisher, Mieczyslav Munz dan Walter Hautzig. Pada karya-karya yang lain, juga terkesan kenangan pianis yang didaulat MURI sebagai Empu Pianis Indonesia ini dengan rekan-rekan sejawat musisi seperti komposer Rusia Dmitri Kabalevsky dan komposer Indonesia Amir Pasaribu yang beliau kenal secara pribadi.

Variasi pada f minor Hob XVII/6 karya Haydn menjadi pembuka konser malam itu, dan kemudian dilanjutkan dengan Sonata no.3 op.46 karya Dmitri Kabalevsky. Sedang babak kedua giliran dua karya komposer Amir Pasaribu, Indyhiang dan Sriwijaya Variations yang memang ditulis di tahun 1960an untuk dipentaskan Iravati di Amerika Serikat. Dan akhirnya konser ditutup dengan 3 karya Chopin, Grand Valse Brilliante dan 2 Nocturne, op. posth dalam cis minor dan op.27 no.1 yang cukup populer.

Di usianya yang tidak lagi muda, Ibu Ira, begitu ia biasa dipanggil, masih menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah rasa dalam nada. Bermain solo bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan stamina fisik dan mental yang luar biasa untuk bisa mengemas sebuah rangkaian konser secara utuh, dan itulah yang diperlihatkannya pada konser kemarin, sebagai sebuah pesan bagi generasi muda.

Beberapa orang mungkin ada yang merasa Ibu Ira bermain dengan tempo yang relatif lebih lambat dari kebanyakan orang. Namun dalam permainannya, terkandung pesan bahwa keindahan musik bukan hanya dilihat dari sisi permainan cepat dan briliant, tetapi juga dari kedalaman setiap untaian nada.

Kemilau nada bisa didengar dari setiap tarikan nafas musik dan juga ornamentalia. Begitu juga gelapnya kepedihan terasa begitu menusuk dalam setiap nada yang diproyeksikan secara utuh kepada penonton. Sedari karya Haydn yang seringkali tidak tergali kedalaman tonalitasnya hingga Chopin yang memang mengeksplorasi tone secara khusus, Ibu Ira menampilkan kejernihan yang berbalut melankoli dengan pengendalian bobot nada yang mencengangkan.

Kehadirannya di atas panggung juga terkesan berbeda. Ketika ia muncul di pentas, seakan magnet yang kuat menarik mata penonton untuk terpaku pada Ibu Ira dan pianonya. Magnet ini kemudian berubah menjadi fokus yang mantap pada tarikan nafas pertama yang menghantar seluruh penonton pada musik. Karenanya, bahkan kesalahan memainkan nada sekalipun seakan menjadi bagian dari musik itu sendiri. Fokus setaraf ini tentunya membutuhkan stamina dan juga karisma panggung yang luar biasa, suatu hal yang tentunya menantang bagi seorang Iravati yang tidak lagi muda.

Resital kali ini memang terasa begitu personal bagi mereka yang mengenal Iravati M. Sudiarso. Dan musik yang dipilih dan dibawakan pun seakan berbicara langsung dan gamblang dari hati. Memang benar kata Iravati, “Musik tidak bisa berbohong.” Dan beliau dengan sungguh membuktikan pernyataan itu.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Menggali Makna: “Musik Tidak Bisa Bohong”

  1. tommy prabowo // 11 Februari 2011 pukul 4:47 pm //

    Sayang saja microphone MC di awal acara lupa dimatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: