Kabar Terkini

Harus Belajar Dulu Baru Nikmat?


Semua kita seringkali berbicara bahwa musik klasik kita kekurangan penonton muda, bahwa mereka yang menjadi pemerhati musik klasik umumnya sudah berumur dan berambut putih. Pun apabila ada kelompok-kelompok pemuda jumlahnya cukup terbatas.

Indonesia harusnya bisa sedikit berbangga karena jumlah pecinta musik klasik di Indonesia, khususnya kota Jakarta sedang berkembang dengan cukup pesat. Pertumbuhan juga disebabkan kalangan muda yang baru saja bermunculan dan mulai aktif terlibat dalam pagelaran musik klasik. Sehingga tidak melulu orang-orang tua yang menghiasi gedung-gedung konser. Pun konser musik klasik terkadang bagi kalangan penikmatnya di Indonesia menjadi sebuah ‘eksklusivitas’ tersendiri yang sebenarnya harus ditinggalkan.

Namun satu poin yang perlu difokuskan adalah mengapa kebanyakan peminat musik klasik kebanyakan adalah mereka yang pernah secara aktif terlibat dalam proses kognitif ataupun kreatif musik tersebut. Bisa dilihat mereka yang menjadi peminat setia pada umumnya adalah mereka yang pernah belajar instrumen ataupun belajar musik secara khusus. Bahkan termasuk mereka yang sudah secara aktif menjadi penampil di acara-acara musik.

Lain halnya dengan beberapa jenis musik lain. Banyak dari peminat setia mereka tidaklah perlu untuk mengetahui ataupun pernah terlibat langsung dengan proses kreatif ataupun kognitif dari musik itu sendiri. Katakanlah musik pop, dangdut ataupun RnB mereka yang mencintai musik ini sepertinya tidaklah banyak yang aktif menjadi musisi ataupun pernah belajar secara khusus akan musik ini. Sepertinya memang timpang.

Lantas apakah yang menyebabkan musik klasik begitu sulit menjaring penggemar? Mungkin salah satu faktor utamanya adalah karena seringkali untuk menikmati musik klasik, penonton dituntut untuk mengerti lebih jauh mengenai musik yang didengarnya. Pendengar sepertinya harus mengerti tingkat kesulitan karya itu, apa yang menjadi latar belakangnya ataupun sejarah komposer dan era itu supaya paling tidak bisa mengapresiasi musik klasik.

Alhasil, kebanyakan mereka yang mengerti dan mencintai musik jenis ini kebanyakan adalah dari kalangan mereka yang setidaknya pernah mencicipi proses belajar tersebut ataupun pernah belajar untuk mengerti musik klasik tersebut untuk bisa menangkap arti dan kemudian menyukainya. Pun karena sulit, akhirnya usia yang membatasi mereka untuk mengerti musik jenis ini, atau alternatif peminat lain adalah pemuda-pemudi yang sedari kecil sudah merasakan proses belajar musik klasik ini, sebuah hal yang sebenarnya patut disayangkan.

Lalu apakah musik jenis ini terlalu superfisial sehingga sulit untuk mengerti dan menyukainya? Mungkin saja. Apa pendapat Anda?

Pictures:

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Harus Belajar Dulu Baru Nikmat?

  1. Sebelum baca sampai paragraf #5, gw jg sudah berpikiran yg sama ^^
    Salah satu daya tarik musik klasik yaitu pendengar jarang ada yg bisa menikmati hanya dg mendengar sambil lalu. Musik klasik baru menarik kalau didengar sembari ditelaah instrumen apa saja yg dimainkan, jenis suara apa saja yg bernyanyi. Apresiasi akan muncul kalau kita tahu ada bagian2 yg sulit dibawakan tp berhasil disampaikan dg baik.

    Entah kalau menurut pendapat yg lain, tp begitulah pengalaman gw. Belakangan ini ada siaran radio yg menurut gw teramat membantu pendengar utk menikmati musik klasik (terutama yg msh amatiran seperti gw). Krn programnya bukan hanya memutar lagu2, tapi sebelumnya dijelaskan sekilas sejarah atau latar belakang dr lagu tsb.

    Akibatnya, memang musik klasik lebih mudah dinikmati bagi orang yg mengerti. Sayangnya dari semua org yg mengerti, belum tentu semuanya bisa menikmati musik klasik. Kembali ke masalah selera masing2.

  2. belajar belajar belajar…….minat…minat minat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: