Kabar Terkini

Wibi Soerjadi, Sang Lokomotif Musikal


Malam Minggu (17/09) meninggalkan kesan yang berbeda kala itu. Erasmus Huis penuh dengan penonton yang antusias menantikan penampilan seorang pianis Belanda berdarah Indonesia yang diakui prestasi dan kualitasnya di dunia internasional, Wibi Soerjadi. Bukan hanya auditorium yang penuh, namun juga deretan bangku di luar yang disediakan panitia dilengkapi layar lebarnya. Setelah beberapa kali batal datang ke negara nenek moyangnya Indonesia , Wibi akhirnya sungguh datang dan menyelenggarakan pertunjukan di Jakarta.

Resital piano ini menjadi bukti bagaimana seorang Wibi yang juga dikukuhkan sebagai Ksatria Oranye Nassau oleh Ratu Belanda menapaki kariernya sebagai pianis konser. Besar karena prestasinya di ajang Franz Liszt Piano Competition, Wibi mengikuti jejak pianis dan composer Franz Liszt semasa hidupnya. Ia memadukan virtuositas, musikalitas dan juga kreativitasnya untuk membangun repertoire resital ini.

Bisa dikatakan Wibi bagai lokomotif teknik malam ini. Stamina yang luar biasa dipadu nafas romantisme yang begitu kuat mewarnai permainan malam ini. Toccatta dan Fuga dalam d minor karya Bach/transkr. Busoni dan Rémininisceses of Norma karya Bellini/transkr. Liszt menunjukkan kualitas tersebut dengan nyata.

Permainan dengan tenaga yang luar biasa dipadu dengan kegesitan eksekusi yang jernih membuat karakter karya ini  terdengar begitu kuat sekaligus unik. Ciri khas dari pianis yang mengalami gangguan pendengaran akut tahun 2009 ini yaitu bermain dengan pendekatan pianistik yang kental dengan romatisme sungguh menjadi sajian yang mengundang decak kagum.

Kreativitas Wibi memang tidak berhenti pada karya-karya standar musik klasik. Namun ia juga menggunakan kreativitasnya untuk menyadur bagian Adagio konserto piano KV488 Mozart dan konserto no.5 Beethoven menjadi karya untuk piano solo yang penuh ketenangan.

Wibi Soerjadi sebagai pianis dan komposer menjadi sorotan pada bagian kedua recital ini. Memainkan karya-karyanya sendiri, Wibi mempertontonkan musikalitasnya dipadu dengan virtuositas dan tentu saja kedekatannya dengan idiom musik piano era romantik. Fearless yang menggebu, To Mom yang romantik dan sebuah karya balada 9 bagian “Amore e Psiche” yang kaya dalam bertutur ditampilkan di babak kedua ini. Walaupun karya-karyanya secara harmoni tidak banyak menyuguhkan kejutan-kejutan, namun kesederhanaan harmoni dipadu dengan variasi dan eksekusi tingkat tinggi membuatnya mudah dicerna dan memukau banyak penonton malam itu.

Akhirnya di penghujung recital, Wibi Soerjadi yang berbalut setelan putih berdasi merah menuai sorakan dan sambutan yang begitu meriah dari para penonton. Tiga encore disuguhkan malam itu salah satunya sebuah tema dari Pirates of the Caribbean untuk tangan kiri yang sungguh menunjukkan energi dan teknik Wibi sebagai pianis yang paripurna. Sebuah transkripsi Bengawan Solo karya Wibi yang akhirnya menuntaskan recital malam itu.

Sebuah oleh-oleh yang begitu bermakna bagi kebanyakan penonton malam itu. Inspirasional? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi di malam itu memang kita melihat bagaimana luarbiasanya kualitas permainan seorang pianis konser kelas dunia.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Wibi Soerjadi, Sang Lokomotif Musikal

  1. inspirasional? hehe, pertanyaan yang menggelitik Mike!

  2. menggelitik ini maksudnya bagaimana ndre? bisa dielaborasi lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: