Kabar Terkini

Ensemble Kuno Membawa Warna Baru untuk Indonesia


20110930-223644.jpg

Musik kamar mungkin merupakan sebuah istilah yang masih terdengar janggal dalam bahasa Indonesia. Tapi memang rupanya jenis musik klasik yang memang dimainkan khusus untuk audiens dalam jumlah sedikit ini masih sangat langka di kalangan awam musik di negeri kita.

Hari ini sedikit angin segar bertiup untuk musik jenis ini. Pun bukan sekedar musik kamar biasa, tapi karena musik kamar, pertunjukan ini juga mengusung musik periodik, dengan instrumen otentik dari abad 18 dan 19, yang tentu berbeda bentuk dengan instrumen modern. Hampir seperti angan-angan jadi kenyataan, bahwa akhirnya Indonesia tersentuh oleh musik klasik yang dimainkan dengan alat musik otentik.

Dan grup yang membawa momen khusus ini adalah New Dutch Academy Chamber Soloists. NDA pun membuka khasanah musik Barat di Indonesia dengan berbagai musik dan juga alat musik ‘kuno’. Karya-karya komposer seperti Bach, Telemann, Molino, Matiegka dan Schickhardt dimainkan bergantian.

Dengan instrumen kuno ini, terdengar jelas pendekatan yang berbeda dalam bermusik. Instrumen tiup seperti recorder kayu dan oboe kayu yang cenderung lebih hangat dari saudaranya di masa kini, membuat jalinan melodi yang dimainkan Amy Power terasa manghanyutkan. Begitu juga dengan baroque viola dan instrumen khas cello piccolo yang dimainkan Simon Murphy memiliki rentang nada seperti cello modern tetapi dimainkan seperti biola, memberikan nuansa lain dan warna suara yang berbeda

Pun penonton juga menyaksikan Caroline Kang memainkan baroque cello dengan dua pendekatan yang berbeda, satu dengan french bowing dan satu lagi dengan german bowing yang identik dengan permainan viola da gamba saat itu. Pun untuk penonton disajikan pilihan kontinuo unik dengan baroque lute dan baroque guitar yang dimainkan Karl Nyhlin.

Hampir semua musisi malam itu dituntut untuk memainkan beberapa instrumen dengan gaya yang berbeda, juga dengan rentang karya 1.5 abad dengan evolusi musiknya. Akhirnya penonton bukan saja dibawa pada cengkrama musikal khas musik, tetapi juga semakin diperkaya dengan warna musik barok sampai romantik awal dengan instrumen-instrumen musik otentik kala karya itu ditulis. Pun semua pemain menunjukkan kepiawaiannya, Karl dengan improvisasi, Caroline dengan tarikan cello yang kokoh tapi penuh warna, Simon dengan jalinan nafas dan nada yang hidup, dipadu dengan permainan virtuosik pada instrumen tiup Amy.

Sampai saat ini, bisa dikatakan kesempatan ini masih sangat jarang ditemui di Indonesia. Ensemble musik klasik dengan instrumen kuno adalah sebuah barang langka di Indonesia, pun publik belum bernah mendengar ensemble jenis ini dimainkan oleh orang kita sendiri.

Memang, pagelaran yang diselenggarakan Erasmus Huis malam itu memperkaya khasanah musik tanah air juga membuka warna baru dalam perbendaharaan suara di telinga pecinta musik kita, sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: