Kabar Terkini

Siklus Tembang Puitik Trisutji


Charles Nasution-Adelaide Simbolon dan Clarentia Prameta-Aditya Setiadi

Trisutji Kamal adalah seorang komposer wanita kebanggaan Indonesia selama 6 dekade lebih. Tergolong cukup produktif, Oma Titi, biasa ia dipanggil, belajar di beberapa negara di Eropa, Italia, Austria, Hungaria dan Rusia. Karyanya pun ditampilkan di banyak negara di dunia. Jasanya pun telah diakui pemerintah dengan pemberian penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma oleh presiden tahun lalu.

Dari 500 karyanya yang beraneka ragam, Trisutji juga menulis siklus tembang puitik yang berupa kumpulan karya vokal yang diangkat dari puisi. Banyak dari karya-karyanya yang belum ditampilkan di depan publik. Untuk itulah, resital malam ini diadakan, untuk menyuguhkan karya-karya yang hampir terlupakan ini. Dan mereka yang berkesempatan mempremierkan karya ini adalah penyanyi-penyanyi handal kebanggaan negeri Binu Sukaman, Aning Katamsi, Charles Nasution, Christine Lubis, Daniel Christianto, dan Clarentia Prameta. Pun pianis senior seperti Adelaide Simbolon yang mengiringi bersama dengan Aditya Setiadi.

Bagi mereka yang menonton, resital malam itu sungguh memperkaya. Karya Trisutji mengandalkan percampuran gaya musik Barat dengan modus dan ritme Nusantara dipadu dengan teks puisi yang ditulis oleh komposer sendiri. Setiap vokalis yang masing-masing menampilkan satu siklus juga unjuk kebolehan.

Binu Sukaman-Adelaide Simbolon dan Christine Lubis-Aditya Setiadi

20111214-235016.jpg

“Sketsa Kehidupan” dibawakan oleh Charles Nasution dengan bersemangat. Clarentia dengan siklus “Harapan dan Kekecewaan” bernyanyi dengan sangat elegan khas puteri Jawa. Lain lagi dengan soprano senior Binu yang membawakan “In Memorium” dengan membara dan penuh gairah.

Di babak kedua giliran siklus “Kepada Kawan” yang dibawakan oleh Christine dengan penuturan yang lancar. Daniel membawakan warna yang berbeda, dengan “Sebuah Renungan, ia membawa nuansa puitis romantis yang berkesinambungan. Resital pun ditutup oleh Aning dengan siklus “Cinta dan Pengorbanan” dengan efisiensi dan fleksibilitas yang meyakinkan.

Adelaide pun memberi dukungan yang mumpuni pada piano dengan eksekusi permainan warna yang kaya. Aditya mengusung gaya yang berbeda, bermain dengan proyeksi penuh disertai tendangan-tendangan ritmis yang kuat.

Premier adalah satu hal, tapi konser yang memperkaya pendengarnya tidak selalu dapat dirasakan. Dan resital malam ini adalah satu dari sedikit resital yang memperkaya tersebut.

Daniel Christianto-Adelaide Simbolon dan Aning Katamsi-Aditya Setiadi

20111214-235239.jpg

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: