Kabar Terkini

Profesionalisme di Amatir


20120112-011100.jpg

~sedikit tersentil tweet @rinimarnoto, flautist Indonesia

Dengan berkurangnya pertunjukan di dunia musik profesional saat ini, khususnya di Jakarta, memang membuat dunia musik klasik menjadi lesu. Namun demikian, ada satu hal yang berkembang saat ini, pertunjukan dari musisi amatir. Agaknya ini menjadi sebuah berita gembira bagi pecinta seni musik, bahwa dunia musik tidak mati suri, pun dengan banyak elemen musisi muda yang terlibat di pertunjukan musisi amatir, kita menyadari bahwa regenerasi pemusik terus berjalan.

Namun demikian, profesionalisme ini yang seringkali kurang ada di antara mereka. Menurut Marini, ada sebagian yang merasa dapat mengadakan konser dan menjual tiket namun seringkali tidak dibarengi dengan kualitas permainan musik yang memadai.

Lantas sekarang bagaimana membangun profesionalisme tersebut?

Sebetulnya fenomena di atas tidak selalu terjadi, namun kontrol publik terhadap kejadian ini hampir bisa dikatakan tidak ada. Setiap orang yang merasa mampu, bisa mengadakan pertunjukan musik, terlepas dari kualitasnya baik atau buruk. Akhirnya memang kembali kepada mentalitas dan mentalitas hanya bisa dibentuk melalui pendidikan yang baik.

Ya, mentalitas dalam bermusik dan pertunjukan seharusnya sudah dibentuk dari dalam kelas. Di sini peran guru sejak dini menjadi penting, untuk mendorong musisi sejak dini mencari bentuk terbaik dari musik yang dibawakan dan juga membekali mereka dengan rasa tanggungjawab kepada musik.

Hal yang tersederhana adalah memberikan kepada pelajar karya yang sesuai dengan kapabilitas mereka dan membentuknya hingga kualitas terbaik dan layak dipentaskan. Mungkin hal ini sering disalahartikan sebagai bermain ‘tanpa salah’, namun sesungguhnya bermain tanpa salah bukanlah bagian dari seni musik, bermain ‘dengan penuh tanggungjawab’ lah yang seharusnya dibina sejak dini.

Beri kesempatan murid untuk menyicipi panggung dan tanggung jawab berdiri di atas panggung. Sedari dini mereka harus sadar benar apa yang harus dipersiapkan demi sebuah pertunjukan. Panggung bukanlah tempat sembarangan. Di satu sisi memang hal ini bisa menimbulkan pengkultusan panggung yang berlebihan, namun memang layak atau tidak layaknya suatu musik ditampilkan adalah sebuah standar yang harus dibentuk sedari dini di benak musisi muda.

Mungkin yang terpenting adalah bagaimana menanamkan kecintaan pada musik dan tanggung jawab kepada publik. Kalau memang musisi seberapapun amatir, apabila mencintai musik, pasti mereka akan melakukan yang terbaik. Itu pasti.

Hal ini tidak bisa dibentuk semalam ataupun melalui kuliah pendek ataupun tulisan seperti ini, hanya penanaman nilai terus menerus yang bisa membawa dampak pada tanggung jawab musisi amatir maupun profesional agar memberikan yang terbaik dan layak kepada publik. Ingat selalu musik bukan dimainkan demi kepuasan ataupun kebanggaan si musisi, tetapi juga demi kepentingan publik dan kehormatan musik itu sendiri. Bertanggungjawablah!

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: