Kabar Terkini

Sejenak Mengintip Singapore Symphony


Lesunya kegiatan orkestra simfoni di Jakarta tampaknya tidak berpengaruh dengan Singapore Symphony Orchestra sebagai orkes kebanggaan kota singa tersebut. Itulah yang terlihat dalam konser Gala mereka Sabtu lalu di Esplanade Hall.

Tampil dalam format orkestra besar, SSO menjelajah karya romantik. Sebagai orkestra purnwaktu, SSO memiliki banyak kesempatan untuk menggali lebih banyak repertoar musik, dan tampaknya memang lebih berkonsentrasi pada repertoar standard orkestra. Didukung oleh musisi-musisi internasional, SSO membawakan karya Harold en Italie dari Hector Berlioz dengan solis viola Zhang Manching dan Piano Concerto no. 1 dari Johannes Brahms dengan solis piano Andreas Haefliger.

Pada konser ini jelas sekali bahwa SSO memilih solois yang terbaik dan sungguh menguasai setiap detil instrumen dan musik yang dimainkannya. Zhang sebagai violis di Harold en Italie yang juga adalah prinsipal viola SSO tampil dengan begitu memukau. Setiap rangkaian nada dan kalimat mengalir dengan begitu pasti namun tetap memperhatikan keindahan dan gradasi warna nada yang begitu luas. Proyeksi volume suara pun begitu meyakinkan sehingga berpadu baik sebagai melodi maupun pengiring dengan orkestra, menjadikannya bintang pada malam itu dengan tepuk tangan yang tidak berkesudahan.

Haefliger pun tampil dengan tidak kalah mengagumkan. Dengan postur yang tinggi, Haefliger juga bermain dengan cemerlang. Kecakapan teknik pada bagian cepat disertai nada-nada jauh tidak menjadikan permainannya mekanis. Setiap bagian digarap dengan musikal dan tetap mempertahankan gaya Brahms yang kokoh dan elegan. Namun sangat disayangkan kali ini terlihat bahwa piano yang digunakan tidak terstem dengan baik, menyebabkan permasalahan intonasi yang agaknya mengganggu kepaduan nada dan karya.

Dipimpin oleh sang direktur musik Lan Shui, tampak bahwa SSO tampil dengan kualitas yang prima. Sebagai barisan pemusik, SSO tampil dengan disiplin yang tinggi. Seksi gesek pun bermain dengan warna yang tidak setengah-setengah walaupun di beberapa tempat terdengar bahwa musik sempat kehilangan arah, namun semua dapat dilalui dengan baik. Angkat topi pada barisan tiup logam yang begitu jernih, megah dan sigap menjadi pegangan bagi seluruh orkestra.

Mungkin sebuah pengalaman berbeda melihat orkestra sebuah kota lain bermain di aula andalannya. Esplanade Concert Hall sendiri memiliki karakter yang cukup kuat dan akustik yang baik untuk ukurannya: setiap detail terdengar dan akustik yang malah memperkaya suara dan memberikannya kehangatan – memang patut dicatat…

Picture:

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: