Kabar Terkini

Kilas Empat Musim di Tahun 2012


20120122-144710.jpg

Menjelang perayaan Imlek, yang juga perayaan menyambut musim semi, kilas 4 musim berkumandang melalui dawai The Butterfly Symphony Orchestra. Dalam format orkes kamar gesek didukung continuo harpsichord, muda-mudi ini membawakan “Four Seasons” Vivaldi secara lengkap didukung 4 solois biola – Aditya Kertarahadja, Gavrila Setiawan, Dary Mohammad Reiner, Yani Listiyani- yang masing-masing bertanggung jawab pada setiap musim di karya tersebut.

The Butterfly Symphony (TBS) yang didukung oleh 20 musisi muda berbakat tampil tak mengecewakan. Walaupun bisa disebut sebagai pagelaran amatir dari para taruna, namun nyatanya kualitas tetap mereka utamakan. Dibawah baton Rendy sebagai konduktor, musik ditampilkan dengan matang dan tergarap.

Selain karya tadi, 4 solois biola lain -Giovani Biga, Madeleine Tandu, Marcel Hanardi, Febe Permatasari- juga membawakan Concerto untuk 4 biola. Rachman Noor dan Christy Oscar juga menjadi solois dalam Concerto untuk 2 cello.

Mengangkat tokoh Antonio Vivaldi sebagai salah satu komposer monumental zaman barok, konser ini seluruhnya mengetengahkan karya musik komposer yang lahir di tahun 1678 tersebut. Sebagai pebiola yang ulung, Vivaldi tentu menambahkan cita rasa virtuositas gesek yang kuat pada setiap karya yang dibuat dan kesemuanya digarap dengan cukup mendetail.

Dansa ritmis tarian dimunculkan dengan cukup baik, terimakasih kepada bingkai tempo continuo Reza Saputra yang menggawangi harpsichord malam itu. Tonalitas pun tergarap demikian juga dinamika, bahkan kadang terdengar besar dan bulat seperti layaknya orkestra simfoni romantik. Kepemimpinan Rendy yang tenang tampak membimbing orkes dari awal hingga akhir konser tersebut.

Sebagai orkes pemuda yang independen, debut TBS di venue profesional jelas bukan sekedar coba-coba. Musik yang ditampilkan cukup matang walaupun tetap punya ruang untuk perkembangan lebih lanjut. Solois cello menghadapi terbatasan proyeksi dikarenakan instrumen yang mereka gunakan, sedangkan beberapa solois biola terkesan mencoba konform dengan orkestra. Padahal solois malah seharusnya bermain cemerlang dan berada di atas orkes.

Mayoritas movement lambat digarap dengan sangat indah, para solois tampil maksimal demikian juga orkes. Mungkin sedikit perhatian perlu diberikan pada beberapa movement lambat yang mengandalkan perubahan progresi harmoni sepanjang karya. Nuansa akan lebih terbentuk apabila eksplorasi dinamika lebih berani sambil tetap berpegangan pada progresi harmoni yang terus mengalir dan berubah.

Namun demikian, konser ini adalah konser yang menyenangkan untuk disaksikan, terlebih melihat bibit muda musik Indonesia dengan getol menggarap musik yang mereka cintai – sebuah permulaan reflektif untuk tahun 2012 ini.

20120122-150739.jpg

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: