Kabar Terkini

Dari Showmanship Menuju Ekspresivitas


20120129-165303.jpg

Mungkin inilah yang bisa disebut resital, sebuah pergelaran yang dicurahkan dari dalam hati untuk mempersembahkan musik yang dekat dengan diri kita kepada para sahabat. Itulah yang nuansa yang muncul melalui resital di Yamaha Concert Hall Sabtu kemarin yang dipersembahkan oleh Levi Gunardi.

Di atas panggung juga ia menyatakan kedekatannya dengan karya-karya yang sebenarnya sudah cukup lama ia mainkan, beberapa sudah ia mainkan sejak kuliah dahulu. Kedekatannya itu terbukti melalui ekspresivitas yang dimainkan oleh pianis lulusan Manhattan School of Music ini, semua terbingkai dalam romantisme yang begitu kental. Levi bisa saja mengaku bahwa karya ini adalah karya yang telah lama ia mainkan dan pelajari, namun pertunjukan malam itu membuktikan bahwa Levi yang sekarang tidaklah sama dengan Levi 5 tahun yang lalu.

Melalui karya Vivaldi, Bach, Chopin dan Liszt, hilang sudah citra Levi masa lalu yang mengutamakan showmanship. Sekarang tidak ada lagi frase-frase menggelegar yang berdiri sendirian demi unjuk teknik, tergantikan oleh permainan yang jauh lebih dewasa pengolahan frase musikal dalam bingkai romantisme yang matang. Ekspresif, efisien dan jujur, mungkin itu yang keluar dari permainan Levi malam itu.

Sicilenne karya Vivaldi membuka pergelaran dengan tonalitas yang impresif-Barok yang kental nuansa, juga Fantasy and Fugue BWV 994 dari Bach membawa nuansa yang hidup dan gempita terutama pada bagian fuga di mana kecemerlangan, penggarapan garis melodi dan spontanitas menjadi kunci.

Tiga karya Frederick Chopin Nocturne op.48 no.1, Ballad no.2 dan Grande Valse Brilliante adalah bintang malam itu. Kesemuanya menunjukkan betapa topik resital Life on Piano begitu nyata, seorang penyair melalui denting piano. Bagian kedua ditujukan bagi Franz Liszt, melalui Sonetto 104 del Petrarca, aransemen Liszt untuk Liebestod dari Wagner dan Hungarian Rhapsody no.13 yang digarap dengan citarasa, sehingga sebagai pendengar kita tidak terkesima dengan ‘sulit’nya karya tetapi oleh musikalitas yg tergarap.

Dari atas panggung Levi dengan akrab berbincang dengan penonton dan teman dekat, membuang jauh kesan angker dari sebuah resital dan mengingatkan kembali gaya resital abad-19 yang kita baca di buku sejarah. Pun Levi sempat mengajak putranya Ravel untuk bermain encore bersama.

Mungkin ada kita yang kurang sepakat dengan pendekatan Levi untuk karya-karya barok yang cenderung romantis, tapi sesungguhnya di titik inilah evaluasi akademik berhenti dan artistry serta ekspresi hati mengambil alih.

~photos courtesy of @erwinparengkuan

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Dari Showmanship Menuju Ekspresivitas

  1. Andreas Arianto Yanuar // 31 Januari 2012 pukul 7:15 pm //

    “di titik inilah evaluasi akademik berhenti dan digantikan oleh artistry dan ekspresi hati mengambil alih” – gw suka sekali kalimat terakhir ini, thx Mike! Kok gw gak denger kabar ttg kkonser ini yah?

  2. gw juga denger via Twitter bung…😀 kalo ga gw juga ga tau…🙂

  3. twitter … hmmm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: