Kabar Terkini

Bagaimana Cara Supaya Relevan?


~menilik kembali talkshow dengan Addie MS di atAmerica

Menilik generasi masa kini yang tertawan dan diberondong berbagai informasi, dan berkurangnya span atensi dan fokus dari orang-orang masa kini juga membawa pertanyaan akan relevansi musik seni di kalangan masyarakat kini. Musik seni memang dikenal sebagai salahsatu bentuk seni yang menuntut rentang konsentrasi yang panjang untuk bisa mulai menikmatinya. Nyatanya apakah masih relevan? Itu salah satu pertanyaan yang dibiarkan tidak terjawab malam itu.

Jujur, saya tergolong mereka yang ‘masih’ melihat musik jenis ini sebagai musik yang relevan. Akhirnya adalah pertanyaan yang terpenting adalah bagaimana relevansi itu bisa terus terbina dan semakin disadari, dan celakanya memang para musisi dan pecinta musik yang harus menjawabnya.

Memastikan relevansi suatu bidang seni tidak pernah mudah. Seni hanya akan bertahan apabila dia mampu memberi makna pada suatu masa dan membantu penikmatnya semakin mengerti diri mereka sendiri. Untuk melakukan semua tidak pernah merupakan suatu hal yang mudah. Banyak gaya seni akhirnya lenyap karena tidak lagi memiliki makna dan tidak mampu memaknai sekitarnya.

Lalu bagaimana caranya?

Yang pasti dan terutama bagi para seniman adalah bekerja dengan jujur seturut pilihan hati mereka. Ya, suara hati penting sekali. Pilihan selalu banyak, begitu juga pilihan untuk berkarya. Pun masyarakat pun punya hak untuk memilih jenis seni yang berpihak pada mereka. Untuk itulah kejujuran menjadi penting.

Hanya dengan kejujuran, seorang seniman bisa menumpahkan isi hati dan pikiran mereka secara optimal pada seni yang mereka geluti. Hanya dengan karya hasil kesungguhan hati yang mampu berbicara dengan hati penikmatnya dan juga mendefinisikan kekinian mereka. Setiap musisi bisa memilih untuk berbicara dalam berbagai gaya musik, namun kejujuran merekalah yang menjadi penting. Dan dalam kejujuran itulah pendengar bisa berelasi dengan mereka dari hati ke hati.

Satu hal lagi yang penting adalah bagaimana seorang seniman tidak boleh menjadi pribadi yang menutup diri terhadap dunia. Seniman adalah mereka yang reseptif dengan dunia di sekitar mereka. Tanpa kepedulian terhadap sekitar, tidak mungkin seorang seniman bisa mengemas karya mereka dengan relevansi pada kekinian. Tanpa unsur kekinian, apapun yang mereka sampaikan hanyalah menjadi bahan usang yang tidak berbicara pada para pemirsanya.

Masa kini dan teknologinya memungkinkan seniman menerima arus informasi yang deras. Setiap seniman harus punya keinginan untuk tetap bersentuhan dengan dunia di sekitarnya, dan sudah seharusnya seniman merangkul kecanggihan teknologi ini sebagai sahabat. Kita bisa lihat, seniman yang berpengaruh saat ini adalah mereka yang berhasil bersahabat dengan teknologi dan menjangkau lebih banyak orang dengan menggunakan teknologi itu.

Jadi sebenarnya karya apapun yang ditampilkan tidak menentukan relevansi seni itu. Seseorang bisa memainkan/melihat karya yang berusia 1000 tahun dan tetap relevan. Namun bisa saja musik yang baru selesai ditulis 2 hari lalu ternyata tidak relevan ataupun sebaliknya. Seniman sendiri yang menentukan relevansi seni tersebut. Hanya dialah yang harus membina kepedulian terhadap sekitar dan hati yang jujur dalam berkarya. Tidak mudah, tapi semoga saja setiap seniman bisa memilikinya dan menyentuh hati lebih banyak orang…

 

picts:

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Stakeholder: Teridentifikasi? | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: