Kabar Terkini

Sebuah Malam dan Gala Opera


Tampaknya beberapa waktu terakhir ini Jakarta dibanjiri dengan musik-musik vokal operatik. Kini kembali Jakarta disuguhkan dengan sajian tembang-tembang operatik dari Jakarta Chamber Orchestra bersama Avip Priatna dan juga Batavia Madrigal Singers.

Berbagai pilihan karya-karya operatik dilagukan dan bagian pertama berpusat pada komposer ternama W.A. Mozart dan beberapa opera yang diciptakannya, Le Nozze de Figaro, Cosi van Tutte, dan Zauberflöte. Sedang bagian kedua merupakan perpaduan berbagai karya operatik dari Mascagni, Puccini hingga Gilbert & Sullivan.

Banyak solois ditampilkan pada malam itu, mereka yang berasal dari Batavia Madrigal Singers ataupun solois-solois yang cukup senior seperti Rainier Revireino dan Farman Purnama. Namun pujian memang harus ditujukan pada Suzanne Shakespeare, soprano asal Australia yang kini bermukim di Inggris. Suzanne menunjukkan kelasnya sebagai penyanyi opera yang memiliki daya tarik di atas panggung, luwes dan juga mampu mengendalikan instrumen/suaranya dengan mantap.

Sebagai koloratura, ia mampu bernyanyi dengan warna yang indah dan beragam, menjangkau nada-nada tinggi dan sulit dengan ketepatan pitch dan dinamika yang luar biasa. Ia pun menjadi satu-satunya solois malam itu yang mampu menaklukkan sound system Bali Room Kempinski dengan tetap mampu memberi sejentik kecermelangan suara, di mana banyak penyanyi lain tidak mampu mengoptimalkannya.

Solois-solois muda dari Studio Resonanz juga tampil dan menjadi kesempatan bagi mereka untuk mencicipi panggung besar, di antaranya 3 soprani yang sempat berkonser di Erasmus bulan lalu, juga beberapa vokalis-vokalis lain yang sudah sering tampil di berbagai kesempatan. Pun Resonanz Children Choir juga sempat menunjukkan kebolehan mereka.

Jakarta Chamber Orchestra tampil dengan prima, didukung oleh penampilan energetik Michelle Siswanto sebagai concertmistress. Avip Priatna kembali dengan ciri khasnya, permainan yang secara umum bersih dan apik yang juga diselingi dengan sentuhan-sentuhan manis pada orkes. Memang karya-karya pilihan malam itu mampu menunjukkan kekuatan dari Avip sebagai konduktor dan memberi kesempatan penyanyinya untuk unjuk kebolehan. Batavia Madrigal Singers pun tampil dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi, lantang dengan jalinan yang kuat, memberikan sentuhan concert choir yang jernih dan disipilin pada bagian koor operatik yang biasanya menggoda untuk terlalu didramatisir.

Penyajian konser malam itu terbilang cukup mengesankan, dengan latar panggung dan pencahayaan yang tertata. Namun, Bali Room bukanlah sebuah gedung pertunjukan yang ramah secara akustik. Pun akhirnya sound system digunakan untuk mendukung pertunjukan, yang sayangnya tidak mampu menghadirkan kejernihan frekuensi tinggi suara-suara sehingga terdengar ‘mendem’ di sepanjang acara, hanya Suzanne Shakespeare, orkes dan paduan suara yang mampu menutupi kekurangan ini.

Opera? Mungkin inilah salah satu sisi musik klasik yang menghibur dan memanjakan telinga, sebuah khasanah yang harus selalu digali dan digarap oleh publik Jakarta sebagai hiburan alternatif di ibukota masa kini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: