Kabar Terkini

Ketika Suara Mengubah Suasana – Kebangkitan JPO


Malam Minggu ini menjadi saksi lahirnya Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran. JPO sendiri sebenarnya adalah kawan lama namun baru di dunia musik Jakarta karena ia adalah jelmaan baru dari Orkes Simfoni Jakarta yang akrab di telinga sejak dekade 60-an dan sempat mati suri. Perpindahan dari tangan pemerintah provinsi ke sektor swasta, seperti kebanyakan orkestra di ibukota saat ini, diharapkan bisa menggiatkan kembali perhimpunan ini.

Konser hari ini bisa dikatakan sebagai konser perdana mereka. Dipimpin oleh konduktor Yudianto Hinupurwadi, yang dulu adalah konduktor residen OSJ, JPO membawakan repertoar standar dalam khasanah musik klasik.

Sebelum sajian utama dimulai, JPO mempersembahkan karya Leo Delibes Flower Duet dan lagu patriotik Tanah Air karya Ibu Sud bersama duet soprano kebanggan Indonesia Aning Katamsi dan Binu D. Sukaman. Kolaborasi keduanya tampak nyata dan berkesan, mengemas kedua lagu yang familiar di telinga itu dengan matang sembari disampaikan dengan proyeksi yang memadai.

Setelah pengantar dan kata sambutan, JPO membuka sajian utama konser dengan William Tell Overture dari Rossini dan dilanjutkan dengan Symphony no.40 dalam G minor dari Mozart yang dikemas dalam 4 bagian.

Dibuka dengan Rossini karya yang cukup dramatis, nampaknya atmosfir tersebut yang terus bergelayut hingga akhir babak pertama. Dengan simfoni di penghujung era klasik, tidak heran nuansa itu yang muncul. Yudianto sebagai konduktor mengaba dengan efisien dan sedikit gerak. Sebagai pengaba, ia tidak banyak memberikan batas pada orkes, JPO pun merespon dengan permainan yang spontan dan konsentrasi yang tinggi. Alhasil dengan suara yang dihasilkan tebal dan ekspresif namun masih dalam koridor yang bisa dikendalikan.

Di babak kedua, dengan satu-satunya Violin Concerto karya Brahms yang monumental penonton masuk ke puncak acara. Pemain biola muda lulusan Jerman yang luar biasa Iskandar Widjaja-Hadar yang menjadi solois malam ini. Iskandar sebagai violinis yang telah menjuarai berbagai kompetisi internasional sungguh mencengangkan. Dengan biolanya ia bercengkrama dengan seluruh orkes melalui permainannya yang penuh ekspresi sembari didukung dengan teknik wahid. Setiap nada dibina dengan teliti sembari membawa penonton keluar masuk berbagai ruang emosi.

Menarik untuk disimak adalah betapa suara seksi gesek JPO berubah di babak kedua. Nampak bahwa suara biola Iskandar yang beraneka warna dan matang membuat seksi gesek berubah total dan terus berusaha mengimbangi sang solois. Pimpinan konduktor yang cenderung liberal pun memungkinkan orkes dengan menyerap warna suara Iskandar, bermain lebih ekspresif dan berkarakter.

Memang ada harga yang harus dibayar lewat kepemimpinan Yudianto yang cenderung liberal sebagai ganti ekspresivitas pemain yaitu kedisiplinan dan kerapihan beberapa attacka yang memang mengandalkan tangan dingin sang konduktor.

JPO lewat konsernya malam ini sudah membuktikan bahwa kelahirannya kembali bukan sekedar lahir kembali, namun sungguh siap mengusung musik berkualitas ke ibukota. Apakah memang kawan lama tapi baru ini sanggup? Tentunya hanya pagelaran-pagelaran berkualitas berikutnya yang bisa membuktikan.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: