Kabar Terkini

Ketika Pubertas Mengancam Kualitas


Ingatkah Anda akan adanya paduan suara anak? Ya, tentunya. Namun tampaknya di abad ini, paduan suara jenis ini mulai terancam oleh alam, yaitu pubertas. Lucu tapi benar adanya.

Untuk kebanyakan paduan suara anak di Indonesia yang relatif muda usianya, memang pubertas menjadi satu tonggak tersendiri. Pubertas seringkali menjadi satu titik tinggal landas vokalis-vokalis cilik. Pada saat inilah anak-anak beranjak remaja dan terjadi perubahan secara fisik pada diri seniman-seniman cilik ini. Dan untuk elemen suara, anak laki-lakilah yang seringkali harus undur sementara suara mereka berubah. Besar kemungkinannya di Indonesia anak laki-laki bukanlah populasi terbesar suatu paduan suara sehingga undurnya beberapa anak tentunya tidak berpengaruh pada kualitas secara umum barisan penyanyi ini.

Namun di banyak paduan suara di Eropa dengan sejarah ratusan tahun, pubertas adalah musuh yang selalu mengancam terutama karena kebanyakan keanggotaan paduan suara ini adalah anak laki-laki.

Sejak usia dini, setiap anak yang ikut serta dalam paduan suara ini digembleng secara musikal untuk mematangkan baik teknik maupun pemahaman mereka akan berbagai jenis music yang akan dibawakan di dalam paduan suara. Tanpa pemahaman yang baik, mustahil kematangan musik dapat dicapai. Kematangan baru mungkin akan dapat terasa apabila anak tersebut sudah menjalani sekitar 4 sampai 6 tahun pendidikan. Pun usia pun juga mempengaruhi kematangan emosional mereka yang akan berpengaruh pada kemampuan musikalitas mereka.

Namun sekarang ini, usia pubertas semakin muda, alhasil semakin cepat anak-anak masuk usia pubertas dan pecah suara. Dan berdasarkan catatan, pergeseran yang terjadi hampir sebesar 3 tahun dalam jangka waktu 2 abad ini. Alhasil soprano dan alto ini memiliki rata-rata usia yang semakin muda. Bergeser, dan semakin cepat seorang anak harus cuti ataupun bergeser jenis suara karena pubertas. Banyak yang menunjuk perbaikan gizi dan faktor hormonal yang mempercepat proses ini terjadi.

Yang terjadi adalah semakin pendeknya usia pembekalan anak-anak ini. Mereka masuk ke paduan suara ini umumnya pada sekitar usia 7-8 tahun dan mereka akan matang di usia 13 tahun dan memiliki karier paling tidak 2 tahun hingga mereka pecah suara di usia 15-16 tahun. Namun kenyataan ini terjadi sekitar 2 abad yang lalu. Akibat pergeseran ini, anak usia 13 tahun atau bahkan 12 tahun sudah mengalami pecah suara. Alhasil titik start usia 7-8 tahun tidak lagi mencukupi buat sang anak belajar music secara cukup namun tetap memiliki waktu untuk mempergunakan kemampuannya itu.

Memang solusi sementara bisa diambil, yaitu mempercepat usia penerimaan anggota paduan suara yaitu sekitar 2 tahun, sehingga usia pra sekolah (4-5 tahun) pun sudah bisa mengikuti program ini. Alhasil, semakin muda anak yang masuk program ini, diperlukan juga metode yang berbeda untuk mengajarkan musik untuk usia anak yang lebih dini.

Tantangan lain yang muncul adalah walaupun anak tersebut sudah mengecap pendidikan yang cukup, seringkali yang terjadi adalah sang anak masih belum mencapai perkembangan fisik dan mental yang cukup untuk menyajikan musik secara berkualitas. Tubuh yang terlampau kecil berpengaruh pada kualitas nafas yang berdampak pada proyeksi. Semakin kecil proyeksi/ volume suara perorangan, semakin banyak penyanyi yang dibutuhkan. Belum lagi kita berbicara tentang kematangan emosional sang anak. Tentunya anak usia 10 tahun akan berbeda pemahaman akan emosi mereka dibandingkan dengan anak usia 14 tahun dan ini jelas akan berpengaruh pada bagaimana cara masing-masing penyanyi ini membawakan suatu karya. Bagi seorang anak, perbedaan 2 tahun adalah perbedaan yang cukup signifikan dari segi emosional.

Sepertinya kualitas paduan suara anak-anak semakin terdesak oleh panggilan alam? Dengan pubertas? Ya, mungkin saja itu terjadi, tapi penulis yakin penggiat paduan suara anak akan tetap mencari jalan keluar yang pantas dan cerdik untuk mengakali fenomena ini.

picts:

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: