Kabar Terkini

Musik & Harga: Perdebatan Sepanjang Masa


~ tergelitik kembali dari tulisan terdahulu soal harga dan akses musik dan kali ini akan lebih mendalam dan bersambung

Sebagai bentuk kesenian, musik dan pagelarannya, terutama musik seni, membutuhkan sokongan dana. Dan kabarnya dana selalu menjadi masalah, dan hal ini selalu terjadi di dunia pagelaran, apalagi dunia pagelaran musik seni yang katanya tidak profitable dan memang tidak sepantasnya profitable, terutama apabila menyorot fungsi luhur dari musik. Namun seberapa cerdaskah kita menentukan harga – katakanlah untuk selembar tiket?

Hal ini kita angkat karena banyak insan musik tidak sepakat dengan komodifikasi musik, terlebih musik seni. Seni seharusnya mampu menyentuh banyak orang, memperkaya lebih banyak insan, namun tidak sepantasnya dijual hanya untuk keuntungan semata. Inilah yang mungkin berbeda dengan musik industri yang memang berfokus pada keuntungan.

Tapi masih kita lihat fenomena bahwa musik klasik dijual dengan harga yang sedemikian mahal, sehingga menonton pertunjukan musik menjadi sebuah privelese kalangan berduit yang teramat sangat terbatas. Padahal dimana-mana musik klasik sedang mengalami tekanan akan keberadaan dan relevansi mereka di tengah hembusan keras angin zaman.

Di Eropa dan Amerika, musik klasik adalah hiburan greyheads, mereka yang sudah berumur, sedangkan generasi muda tidak terlalu banyak ambil pusing dengan musik jenis ini. Di Asia tampaknya malah berbeda. Konser musik klasik/musik seni malah dipadati oleh pemuda-pemudi dengan rasio yang hampir berimbang. Tentu ini adalah sebuah nilai tambah bagi masyarakat kita, termasuk di Indonesia.

Banyak yang berpendapat bahwa musik seni harus mempunyai aksesibilitas yang lebih luas, sedangkan musik klasik sebagai ajang privelese tidak sesuai dengan pandangan ini. Hanya mereka yang kaya yang berhak mendapat tempat duduk itu adalah pandangan yang salah.

Banyak strategi memang disusun, ada yang menjual dengan harga relatif murah, ada pula yang menjual dengan harga menjulang, namun di satu sisi memberikan subsidi dengan membagikan tiket gratis. Persoalan yang muncul adalah apakah subsidi ataupun harga murah itu sudah tepat arah?

Sebagai sebuah bentuk seni yang kata orang “adiluhung” – walaupun saya kurang sependapat dengan istilah ini-, terkadang pedih mendengar apabila konser hanya diminati bila gratis, atau orang-orang hanya mencari gratisan semata. Jujur, penulis juga pernah mendapatkan tiket gratis dari mereka yang berlebih tiket ataupun mau berbagi tiket, dan penulis sangat berterimakasih akan hal itu. Tapi juga perlu dibangun di masyarakat bahakn di antara pencinta musik bahwa untuk mendapat kualitas seni yang baik. ongkos yang harus dikeluarkan tidak pernah murah.

Strategi harga, mau ke mana?

Musik klasik yang aksesibel juga tidak boleh jatuh dalam kelas murahan. Musik yang berkualitas ada harganya. Apabila bahkan beberapa pecinta musik, terutama yang muda-muda hanya mencari gratisan untuk menonton sebuah pertunjukan musik, berarti ada yang salah dengan aksesibilitas musik dan nilai/value di mata pendengarnya. Bisa jadi harga yang dilempar ke pasar yang disampaikan terlalu mahal atau malahan subsidi yang dibagikan tidak mengena pada tempatnya.

Jujur saja, banyak pagelaran di Jakarta saat ini seakan hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu membeli tiket saja. Mahalnya tidak kira-kira, pertanyaan yang harus dijawab adalah bukan mahal-murahnya, akan tetapi apakah value yang kita semua lihat sudah benar dan luhur.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Musik & Harga: Perdebatan Sepanjang Masa

  1. thefoolshead // 4 Mei 2012 pukul 4:01 pm //

    Ik senang sekali karena jij menyebut ‘value’, Mike. Ik amat setuju.

    Memang akhirnya pembicaraan mengenai ‘pricing’ akan sampai ke sana. Jangankan musik tradisional barat (yang kita sebut klasik). Sedangkan musik tradisional kita saja sudah amat terpinggirkan sampai ke kasta yang terendah. Cuma beberapa suku tertentu saja yang sekarang masih melestarikan musik tradisional khas daerah mereka, itupun hanya fungsi tertentu saja seperti mengiringi upacara perkawinan. Dalam hal itu pun, cakram padat lebih populer ketimbang memainkan musik dengan alat-alat musik asli. Di beberapa kesempatan menghadiri upacara pernikahan yang dilangsungkan secara adat, musik tradisional yang disajikan sudah dicampur-campur dengan bunyi-bunyian (dari alat) musik barat modern.

    Gusti Allah paringono sabar. Miris tapi nyata.

    ‘Value’ dari musik tradisional–negeri sendiri maupun barat–jelas perlu revitalisasi. Ik rasa itu sudah sejelas kematian dan pajak. Tinggal sekarang, bagaimana caranya?

    Kalau dangdut, pop, dan musik tradisional kita dan barat itu kakak beradik, ik rasa sudah akan terjadi Bharatayudha ke-2. Masing-masing iri pada penghasilan dan kepopuleran satu sama lain. Padahal, menurut ik, value yang diusung oleh masing-masing sebetulnya berbeda.

    Menurut ik, kuncinya adalah merakyatkan musik tradisional ini. Kalau boleh beranalogi, problem dalam ‘pricing’ ini mirip dengan problem perawan yang akan menikah. Seandainya yey perempuan, akankah yey menikahi seseorang yang yey sama sekali tidak kenal?

    Nah, mungkin sekali yang ik usulkan ini tidak tepat. Tapi, minimal ik mencoba memberikan jalan keluar.

    Supaya lebih akrab di telinga, musisi-musisi musik tradisional ini kudu rendah hati untuk main di tempat-tempat di mana orang-orang kebanyakan berkumpul. Ada beragam tempat yang bisa dipilih mulai dari mal, halte/terminal busway, kantin kampus, taman kota, 7/11, restoran cepat saji, dan lain-lain. Nampak tidak bergengsi? Mungkin. Tapi ik percaya efektif dalam usaha mengakrabkan orang kebanyakan dengan bunyi-bunyian musik tradisional. Aneh? Bisa jadi. Kreatif? Mungkin tidak. Tapi, tujuannya memang bukan itu. Tujuannya adalah membuat musik tradisional ini menjadi ‘merakyat’; yang ‘asing’ jadi ‘familiar’.

    Sekali itu terjadi, rasanya masalah ‘pricing’ tidak akan lagi dilematis karena kemudian akan ada konsensus tersendiri antara pemusik dan penikmatnya, tergantung dari fungsi (bersamanya juga ‘value’) musik yang hendak diusung oleh keduabelah pihak.

  2. terimakasih atas komentarnya… memang bagaimana merakyat jelas juga harus dilihat bukan dari presentasinya saja tetapi juga termasuk di dalamnya harga dan nilai2 kemasyarakatannya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: