Kabar Terkini

Kembali Soal Harga: Inilah Semuanya Berasal


Seperti di dunia bisnis konvensional, dunia pertunjukan musik seni tidak terlepas dari uang dan karenanya penetapan harga. Pertunjukan harus bisa dijual dan demikianlah adanya. Pun musik klasik yang seringkali dianggap sebagai seni ‘murni’ seringkali berbenturan dengan berbagai ide dan opini. Posisinya sebagai bentuk budaya agak lain dengan musik industri karena musik industri seakan bebas dari aspek kemanusiaan yang banyak diusung musik seni sebagai bagian dari budaya yang luhur.

Banyak yang beranggapan bahwa musik seni dikarenakan kualitasnya bisa dianggap sebagai barang mahal, produk yang langka dan pastinya layak dan harus dijual dengan harga mahal. Ini untuk menjamin kelangsungan dari kualitas dan insan-insan yang ada di dalamnya.

Pun di sisi lain, ada mereka yang melihat bahwa musik seni pun seharusnya bisa menguntungkan. Apalagi dengan demand yang ada tentunya tidak salah apabila keuntungan bisa disaring dan digunakan untuk semakin menghidupkan pasar dan minat di bidang tersebut.

Tapi di sisi lain ada hal lain yang perlu dilhat adalah nilai budaya dari pertunjukan musik seni tersebut. Banyak yang beranggapan, sebagai sebuah produk budaya yang kaya dan memperkaya penikmatnya, sudah sepantasnya musik seni diakses oleh lebih banyak orang supaya lebih banyak orang tercerahkan oleh pagelaran budaya ini.

Dari tulisan sebelumnya, sebenarnya bisa kita lihat bahwa semua itu tidaklah salah. Musik bisa jadi suatu produk, ataupun bisa dilihat sebagai sebuah karya yang harus mampu dinikmati semua orang dan semua tergantung dari bagaimana kita melihatnya. Hampir setiap tahun sejak blog ini ada, harga dan aksesibilitas musik dibahas di sini, namun ada satu hal yang sepertinya belum terbahas, yaitu di mana sebenarnya titik hancur aksesibilitas musik dan harga tiket yang mahal.

Yang menjadi masalah adalah bentuk oligopoli dan juga pemakluman akan penipuan publik yang dilakukan oleh oknum-oknum. Biaya/cost pasti ada dari sebuah pagelaran musik, dan tidak bisa dihilangkan. Biaya bukanlah musuh, karena memang ada dan akan tetap ada.

Banyak dari oknum-oknum ini mengetahui bahwa pertunjukan terbatas. Dan dari sini terjadi pengkatrolan harga yang tidak wajar, menyebabkan peminat musik terpaksa mengeluarkan uang yang tidak wajar untuk pertunjukan yang kualitasnya dipertanyakan. Perceived Value ternyata tidak sepadan dengan harga. Banyak pertunjukan hanya sekedar mahal namun tidak memberikan value yang dikehendaki penonton. Value ini bisa prestise, kualitas, ilmu, network, dan sebagainya. Penonton pun akhirnya kecewa dan merasa ditipu.

Masalah lain yang terjadi adalah manipulasi positioning. Ada beberapa oknum yang menggunakan kesempatan untuk memanipulasi positioning dengan jargon pemasaran yang menyesatkan (false marketing). Ada penyelenggara konser yang bisa saja berkedok di depan pers bahwa mereka bervisi ingin membuka akses luas untuk musik seni untuk semua kalangan, namun kenyataannya di lapangan menjual tiket selangit dan tidak sejalan dengan ‘visi’ yang telah disampaikan. Tapi tidak ada bukti nyata apa yang dilakukan untuk membuka akses tersebut dan konser pun tidak aksesibel.

Mencari untung tidak salah, tapi apabila membungkus kegiatan for-profit dengan kemasan non-profit yang menyesatkan ini adalah masalah besar. Filantropis akhirnya mendukung acara untuk kemanusiaan dan misi budaya akhirnya masuk kantong pribadi sebagian orang penipu yang berkedok berbudi luhur. Maka ada baiknya apabila setiap kegiatan diinformasikan secara benar misalnya konser penggalangan dana bagi kelangsungan orkes, reach-out program, ataupun memang acara tertutup bagi kalangan tertentu yang berorientasi keuntungan.

Inilah cikal bakal masalah yang ada. Setiap pagelaran bisa diperuntukkan bagi pangsa pasar penonton masing-masing dengan kualitas yang layak. Pun insan musik harus awas terhadap false marketing yang dilemparkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk memeras uang pencinta musik. Sayangnya apakah hukum anti-monopoli dan perlindungan konsumen bisa diterapkan di sini, tidak ada yang bisa memastikan.

Nilai budaya dan keluhuran musik yang terus dipercaya dan ingin terus dibagikan pasti akan ada menempel pada musik seni, begitu juga dengan orang yang ingin bertahan hidup melalui seni musik tersebut. Untuk itulah, insan musik baik musisi maupun pencinta musik diharapkan semakin cerdas dan membedakan mana yang berkeinginan baik, mana yang hanya sekedar memeras dan mengail di air keruh. Mampukah kita? Semoga…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: