Kabar Terkini

Certified Artists, Ide yang Absurd


20120501-003920.jpg

~ tergelitik kompas.com -via ka aisha

Agaknya lucu dan aneh respon dari Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti akan sikap menghadapi kompetisi dan serbuan berbagai pekerja seni asing yang masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi kompetisi tersebut, menurutnya perlu sertifikasi pekerja seni terhadap kompetensi agar sesuai dengan standar-standar dan agar dapat bersaing di luar negeri.

Jujur saja, pernyataan ini agak aneh. Sertifikasi kompetensi macam apa yang dibutuhkan untuk pekerja seni? Seniman macam apa yang harus bekerja berdasarkan standar baku tertentu? Dan pertanyaan berikutnya wakil menteri macam apa yang sebenarnya duduk di kementerian tersebut?

Ide bahwa seniman itu harus terdidik dan punya ijazah Sarjana Seni dari sisi akademis saja terkadang menghadapi tantangan pemikiran tersendiri. Karya seni dan keindahan tidak muncul serta-merta dari pendidikan akademis, apalagi standar-standar kompetensi. Standar kompetensi tidak membuat orang mampu berkesenian dengan baik apalagi dengan berbagai bidang yang ada, terlebih dengan seni tradisional kita yang begitu kaya.

Di belahan dunia manapun julukan ’empu’ atau ‘maestro’ dalam bidang seni tidak diberikan pada mereka yang punya ijazah pendidikan tingkat tertentu atau sertifikat tertentu. Namun pada pribadi yang berkontribusi bagi kemanusiaan dan kehidupan berbudaya lewat karya-karyanya.

Seni bukanlah bidang yang bekerja berdasarkan standar-standar. Seni malah seharusnya membobol batas dan merekonstruksinya kembali. Seniman macam apa yang hanya bekerja berdasarkan standar? Akhirnya mereka bukanlah seniman, tapi buruh industri, mereka yang menghasilkan karya-karya generik dengan memenuhi standar industri tertentu. Inovasi dan kreativitas jadi terbatas.

Harus diakui mendongkrak kualitas dan daya saing seniman lokal adalah tujuan yang mulia. Tapi Sertifikasi macam ini pada akhirnya hanya menjadi proyek tak bertujuan lain yang tidak mewujud pada peningkatan kualitas seniman. Seniman yang tersertifikasi misalnya perupa yang mampu bekerja pada satu set media, namun kemampuan ini tidak menjadikannya ‘lebih berseni’ daripada seniman lain yang berkonsentrasi dengan penuh pada suatu media dan satu style.

Ide sertifikasi macam ini adalah tanda nyata keengganan pemerintah untuk benar-benar mengembangkan seni di bumi pertiwi. Sertifikasi dan standarisasi adalah aksi yang terkesan nyata, instan dan berbuah proyek yang seakan besar dan berarti. Padahal, sesungguhnya kosong melompong.

Yang paling kita butuhkan saat ini bukanlah sertifikasi dan standarisasi seni, karyanya dan penggolongan seniman. PR yang lebih besar adalah bagaimana meningkatkan apresiasi masyarakat lewat pendidikan seni yang terarah dan memperkaya baik bagi pekerja seni itu sendiri maupun masyarakat luas. Juga perlu dibina metode mengayomi seniman untuk lebih mampu berkarya dengan bebas dan tanpa gangguan. Kebebasan berekspresi, situasi yang kondusif dan channel yang baik bagi seniman dan akses seniman kepada masyarakat adalah yang utama dibanding sertifikasi yang tidak membantu apresiasi seni.

Sebenarnya sertifikasi dan standarisasi adalah omong kosong di hadapan seni. Kecintaan seni dari masyarakat dan bagaimana warganegara mencintai produk dalam negeri dan seniman dalam negeri sebenarnya lebih penting dari sertifikasi dan standar untuk menahan laju seniman asing. Toh seniman dan pekerja seni tidak pernah ditanya, “Mana sertifikat Anda?” melainkan, “Mana portfolio dan hasil karya nyata seni Anda?”

Seni tidak pernah terbatas sertifikat dan standarisasi, ia lebih luas dan lebih berarti dari sekedar checkpoint dan kertas bertulis.

20120501-003443.jpg

Pict: http://wanderingseeds.files.wordpress.com/2011/10/certificate-giving-ceremony3.jpg

Iklan
About mikebm (1304 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Lagi-lagi Sertifikat Kompetensi untuk Sarjana Seni, Kali ini Menristek – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: