Kabar Terkini

Mengintip Pesona Trompet Eric Awuy


Hampir semua orang tahu bagaimana instrument trompet berbunyi, namun sedikit yang mampu memainkannya dengan piawai. Dan karenanya sedikit sekali bisa kita jumpai resital trompet di ibukota, terlebih resital dengan pemilihan repertoar yang tidak setengah-setengah.

Malam ini pemain trompet Eric Awuy dan pianis Iswargia ”Lendi” Sudarno menyuguhkan resital langka yang dimainkan oleh anak negeri. Sebagai kelanjutan dari konser serupa di tahun-tahun sebelumnya, Eric bersama Lendi mencoba mengetengahkan repertoar standar trompet yang memang banyak berkembang di abad duapuluh namun jarang terdengar di ruang-ruang pertunjukan di Jakarta.

Mengetengahkan karya Paul Hindemith Sonata for Trumpet and Piano dan Légende karya George Enescu sebagai suguhan di babak pertama, harus diakui bahwa resital ini bukanlah resital yang ringan. Beruntung Eric dan Lendi mengemas resital ini menjadi semacam lecture recital, yang memungkinkan kedua pemain berinteraksi dan menjelaskan karya-karya yang mereka mainkan.

Karya malam ini bukan hanya sekedar modern, namun begitu menantang baik secara teknis maupun musikal. Pitch yang tepat saja sudah sulit dimainkan di trompet, apalagi dengan segerombolan nada akrobatis yang tumpah ruah menjadi satu. Permainan ritmis yang seperti disebut Eric, tidak ramah bagi bibir dan lidah, juga memenuhi karya malam itu. Belum lagi permainan warna virtuosik yang harus dibina agar musik tidak terasa hambar. Trompeter yang pernah bermain di orkes ternama Montreal Symphony Orchestra bermain dengan warna dan dinamika yang luar biasa, mendobrak paham sebagian orang bahwa trompet hanya merupakan instrumen fanfare satu warna. Kesemuanya diberi ruang untuk berkembang oleh Eric Awuy yang tergolong musisi senior di jajaran pemain alat musik tiup logam di Jakarta.

Giliran Iswargia yang menunjukkan kepiawaiannya dalam 5 karya Gyorgy Ligeti dari satu set ”Musica Ricercata” yang ia sebut ’akademis’ karena 1 lagu dikembangkan dalam satu set not yang terbatas. Bahkan lagu pertama adalah sebuah lagu yang memainkan 1 not dalam nuansa dan register yang berbeda. Bermain dengan kendali yang mumpuni, Lendi melibas karya yang tidak sederhana. Permainan tempramen di atas not-not yang terbatas menjadikan karya ini mencengangkan sekaligus membutuhkan kerja keras pada eksekusi ketepatan nada. Sebagai penutup, Eric dan Lendi memainkan sebuah sonata dari Kent Kennan yang bercita rasa Amerika, yang lebih mudah dipahami namun sekaligus mengundang penonton untuk melihat kuatnya kolaborasi keduanya dengan permainan yang lebih sederhana dan mengena.

Bisa dikatakan Goethe bukanlah tempat yang ramah untuk volume trompet yang tidaklah kecil, juga resital ini bukanlah resital yang bisa dipahami dan diserap hanya dalam sekali dengar. Harus diakui bahwa adalah tantangan tersendiri bagi musisi agar mampu mengemas resital dengan repertoar ini sebagai resital yang memperkaya dan menyentuh pendengarnya. Walaupun demikian, Eric dan Iswargia sudah menunjukkan bahwa musik kolaborasi trompet dan piano, bisa mencengangkan, menantang sekaligus juga begitu mendalam.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: