Kabar Terkini

Di Antara Gitar Penuh Sidik Jari dan Amplifier


Di antara gitar penuh bekas sidik jari dan 2 buah speaker, duduk Thibault Cauvin, gitaris muda Prancis bermain nada dan suara lewat instrumen 6 senar ini.

Di usianya yang belum genap 30 tahun, Cauvin telah berkeliling dunia dan mempertunjukkan musik di lebih dari 1000 konser di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Mungkin tur-tur inilah yang membuatnya mengangkat kota-kota di dunia sebagai tema resital malam itu.

Berangkat dari repertoar standar gitar, Milonga del Angel dari Piazolla yang berkarya di Buenos Aires Argentina, ia mulai menjelajah dunia. Sebagai gitaris yang aktif juga sebagai juri berbagai kompetisi internasional, Cauvin justru tidak menjelajah repertoar standar gitar, melainkan melangkah maju dari abad 20 ke abad 21.

Walaupun sempat mendengar komentar miring bernada kecewa dari penonton, “Ini bukan musik klasik yang biasanya.” Harus kita acungi jempol bahwa langkah ini yang diambil Cauvin untuk membuktikan bahwa musik gitar ‘klasik’ masih terus hidup dan terus memperbaharui diri lewat karya-karya baru yang segar dengan beraneka gaya.

Dengan interpretasi yang bebas dan hidup, Cauvin merenda karya terkenal Take the “A” Train dari Duke Ellington yang menjalin kota New York dalam permenungan malam itu. Demikian juga dengan pendekatannya pada karya Felicidade Carlos Jobim sang komponis Brazil. Melalui karya Carlo Domeniconi, Cauvin menjelajah sudut kota Istambul yang ia mainkan dengan teknik tinggi, pergerakan di fingerboard yang menakjubkan dan eksekusi yang demikian bersih.

Cauvin memang menunjukkan vitalitas yang tinggi, permainannya yang bersemangat dari awal hingga akhir bukan hanya diwarnai oleh kekayaan nada namun juga diselingi oleh sentuhan nafas yang mencengangkan. Setiap jeda pendek antar frase dirancang begitu menawan pendengar sehingga nyata bahwa musik bukan hanya terdiri dari nada, tetapi juga oleh setiap kesunyian di antaranya.

Bukan hanya nada yang indah dan beraneka bentuk dan gaya seperti gaya bermain tabla dan sitar India pada gitarnya pada karya Raga du Soir, pun koto kecapi asal Jepang ia berhasil tiru dalam karya Chavez A Young Sprout yang mewakili cita rasa kota Kyoto di konser ini. Untuk menyampaikan gaya yang beragam ini, ia hampir selalu mengubah stem gitarnya, hingga bahkan 3 senar, memainkan mikrotonalitas untuk mendapatkan kesan otentik instrumen yang ia ingin tiru.

Melalui karya ayahnya Phillipe Cauvin yang juga adalah gitaris dan komposer, Thiboult mengenang Bordeaux kotanya lewat permainan riff-riff yang berpacu dengan kelincahan tangannya bermain perkusif di setiap jengkal gitar. Dari head gitar, hingga ekor gitar, semua dijelajahi dengan pukulan beraneka irama sambil dihiasi resonansi senar yang turut memberi sentuhan suara. Tidak heran bekas sidik jari memenuhi hampir seluruh gitar yang terlihat makin kusam.

Permainan Thiboult malam itu juga membuktikan bahwa amplifikasi bukanlah musuh musik akustik dan ia membuktikan dengan hasil amplifikasi Erasmus malam itu. Speaker di lantai panggung memberikan sentuhan yang cukup memuaskan, keras tapi tidak bising.

Mungkin benar kata beberapa penonton senior malam itu, “Thiboult Cauvin sudah berubah, malam ini dia tidak main ‘klasik’ seperti dulu.” Tapi apapun pengertian kata ‘klasik’, penonton yang bersorak kemarin telah melihat bahwa musik ‘klasik’ gitar bukanlah musik klasik yang mati dan tidak begerak, ia terus berubah sejalan dengan semangat dan dedikasi pemusik muda, seperti Cauvin bersama gitar penuh sidik jarinya.

Pic: http://www.thibaultcauvin.com/uk/photos.php

Song Info: http://gabrielaamandagita.blogspot.com/2012/05/thibault-cauvin-concert.html#!/

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Di Antara Gitar Penuh Sidik Jari dan Amplifier

  1. berani keluar dari kenyamanan (y)

  2. harus begitu dong… itu baru namanya seniman, betul?😀

  3. bgus2 ku ska klasic…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: