Kabar Terkini

Twilite Orchestra dan Eropa, Pertanda Baik?


Sepanjang sejarah orkestra di Indonesia memang belum ada orkes lokal kita yang berhasil bermain di Eropa. Memang adalah sebuah prestasi tersendiri ketika mendengar orkes Indonesia, Twilite Orchestra, akan bermain di Bratislava dan Berlin di bulan Juni 2012 ini. Namun di balik itu semua, benarkah ini merupakan sebuah tanda kemajuan?

Orkes sendiri sebagai buah budaya dan musik barat sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak zaman kolonial. Orkes Studio RRI sebagai orkes pertama setelah kemerdekaan dibentuk pada tahun 1945 oleh Iskandar dan ketika itu banyak diawaki pemain-pemain warisan Hindia Belanda. Memang kala itu, sebuah stasiun radio negeri sudah sebaiknya memiliki orkes sendiri, seperti sekarang masih dipertahankan BBC, CBC, NDR dan beberapa negara di Eropa.

Tapi memang tidak banyak orkes yang mampu bertahan lama, jangankan bermain di Eropa. Untuk mempertahankan sebuah orkestra selama 21 tahun, sebagaimana Twilite Orchestra saat ini sungguh tidak mudah, terutama dengan mempertahankan konsistensi pertunjukan setiap tahun, dan absennya dukungan pemerintah bagi bentuk seni jenis ini.

Orkes sebagai bentuk seni musik memang sudah seharusnya menjalankan fungsinya sebagai penghubung antar manusia. Adalah sebuah keniscayaan apabila sebuah kesenian menjadi pemersatu, sebagaimana New York Philharmonic dahulu pernah menjembatani RRC-AS yang renggang akibat komunisme dengan bermain di Beijing ataupun ketika bermain di PyongYang untuk menjalin hubungan dengan Korea Utara. Begitu pula dengan kunjungan bersejarah Berlin Philharmonic ke Yerusalem sebagai bentuk persahabatan setelah Perang Dunia II.

Kali ini Twilite (TO) berkesempatan menjadi jembatan tersebut dengan bermain di Eropa, di Bratislava dan Berlin, sebuah peristiwa besar bagi dunia musik klasik khususnya orkes Indonesia yang sudah berusia hampir 70 tahun. Cukup menarik karena KBRI dan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif yang turut berperan mengundang orkes ini memilih orkes pops untuk tampil, suatu hal yang jarang dilakukan di belahan dunia manapun. Tapi hal ini bukanlah sebuah isu, karena memang bisa dikatakan hanya TO yang cukup matang, bugar dan siap untuk menerima mandat ini.

PR TO sungguh berat, mengenalkan Indonesia melalui permainan musik instrumen barat di rumah dan kiblat musik barat sendiri. “Kita harus tahu kemampuan diri,” kata Addie MS di sela salah satu acara ketika membicarakan persiapan keberangkatan ini. Memang bermain repertoar standar di depan publik ‘pemilik musik jenis ini’ memang beresiko tinggi, berjaya atau hancur. Butuh kecermatan yang tinggi, kerja keras dan selera yang tepat untuk memilih karya yang tepat dan mengolahnya.Tentu saja keberhasilan TO bukan hanya untuk kejayaan TO sendiri, tetapi sekaligus juga nama baik Indonesia di mata publik barat.

Sebagai orkes kebanggaan Indonesia saat ini, TO sendiri berpengalaman menjelajah Australia dan tampil di Sydney Opera House di tahun 2009 yang lalu juga membawa harum nama Indonesia. Namun isu yang cukup menggelayut adalah banyaknya orang Indonesia yang hadir saat itu, bahkan terlalu banyak. Sungguh besar sebenarnya harapan kita semua agar konser ini bukan hanya jadi tontonan pejabat diplomatik Indonesia dan keluarga beserta orang-orang Indonesia di negara tujuan tur ini.

Ya, pecinta musik Indonesia ingin sekali agar TO didengarkan oleh publik luas, dalam konser yang memang menunjukkan kualitas musisi-musisi lokal Indonesia. Hanya dengan ini visi musik sebagai penghubung insan benar-benar bisa terlaksana. Menghubungkan dunia barat dengan timur melalui bahasa dan gaya tutur barat, adalah patriotisme yang perlu kita junjung tinggi. Semoga saja konser-konser ini bisa disaksikan publik secara luas.

Satu hal yang mungkin berat bagi orkestra ini adalah mencari karya yang benar-benar Indonesia, yang berbicara dengan dialek kita dengan instrumen barat. Addie MS sendiri menyadari sulitnya mencari karya-karya ini. Tidak banyak karya komposisi Indonesia untuk orkes simfoni yang bisa dibawa ke sana, baik yang mewakili tradisi musik lokal kita maupun perkembangan musik modern komposer kita masa kini dengan berkualitas.

Jujur saja, ini merupakan titik lemah TO dan musik kita, terbatasnya karya yang bisa mewakili identitas ke-Indonesia-an. Alangkah indah apabila kita bisa menunjukkan talenta pemusik kita sekaligus karya musik Indonesia dalam format orkes barat dengan penuh kualitas dan wibawa. Namun itu belum bisa terwujud secara penuh saat ini, dan tentunya adalah PR utama komposer di Nusantara.

Akhirnya besar harapan kita, Twilite Orchestra bisa memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama bangsa. Lebih besar lagi harapan bahwa orkestra kita mencapai taraf di mana bisa tampil di luar negeri secara reguler sebagai bentuk pengakuan terhadap kualitas dan kesungguhan kita di dunia musik. Dan untuk membuka jalan itu, mari kita doakan yang keberhasilan bagi seluruh musisi dan kru Twilite Orchestra. Sebuah pertanda baik? Semoga saja.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Twilite Orchestra dan Eropa, Pertanda Baik?

  1. bukansiapasiapa // 9 Juni 2012 pukul 8:10 pm //

    Masalah nya kan di negara Indonesia sendiri aja, masyarakat nya ga banyak yang suka musik klasik, jadi gmn bisa bertahan orkestra2 lain nya? Beda kalau di Eropa kan masyarakatnya banyak yang suka klasik, opera, balet, dll…

  2. nah makanya kita harus bertanya, apa resep TO bisa bertahan sekian lama? lalu apakah memang orkestra sama sekali tidak relevan di mata orang Indonesia?
    pun memang niche bukan berarti tidak punya pasar ataupun pecinta musik sama sekali kan?

  3. Resep TO adalah mengambil aliran pops, yang relatif lebih mudah dicerna awam. Ditambah dengan sebagian kalangan dalam negri yang cenderung memuja budaya barat meskipun gak ngerti2 amat. Jangan lupa, kalangan ini biasanya hanya di kota besar. Masalahnya Indonesia kan bukan hanya Jakarta dan Jawa.
    Coba, TO dicemplungin di Kalimantan… gak lama juga bubar.

  4. tapi apakah memang itu satu-satunya jurus? memang lokasi dan pemilihan repertoar mereka bisa dikatakan mendukung, tapi saya ragu apakah memang itu adalah kunci? ataukah memang musik klasik yang katakan konservatif tidak memiliki tempat di Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: