Kabar Terkini

Menjadi Duta Budaya, Menjadi Musisi Cerdas


Seberapa banyak musisi kita yang dilatih menjadi seorang instrumentalis yang mumpuni dengan kemampuan teknis yang tidak tercela? Tentunya sangat banyak, apalagi hampir semua orang setuju bahwa belajar musik tentunya adalah belajar bermain alat musik.

Namun nyatanya tidak demikian, menjadi musisi yang penuh tidak bisa hanya pintar bermain alat musik, dia harus juga mampu menjadi duta budaya. Pertanyaan saat ini adalah apakah pendidikan musik saat ini sudah mengarah pada pembentukan tersebut.

Tentu saja sebagai musisi yang lengkap, selain secara teknis mampu bermusik, sudah selayaknya musisi juga paham serba-serbi dunia musik dimulai dari segi keilmuannya hingga ke sisi praktikal dan keadaan dunianya sekarang ini. Sebagai bentuk seni yang tidak umum di Indonesia, sudah sepantasnya setiap musisi dibentuk sejak semula sebagai duta yang mampu menjadi juru bicara bagi seni yang ia geluti.

Pasti ada banyak yang menyanggah dengan alasan bahwa seni, termasuk seni musik tidak perlu bantuan Anda dan saya untuk tetap hidup. Ia agung dan begitu hebat, biarkan seni itu yang berbicara sendiri pada para penikmatnya. Ya, memang tidak sepenuhnya salah, namun itu tidak melepaskan kita tanggung jawab kita untuk juga mampu berbicara tentang seni yang kita sukai.

Sayangnya adalah banyak tempat kursus dan sekolah musik saat ini sebagai akses utama pembentukan karakter pemusik muda hanya berfokus pada teknik, demikian juga banyak guru-guru musik yang ada di lingkungan kita saat ini. Guru-guru sibuk membentuk teknik dan kemampuan bermain alat musik, sehingga bahkan melupakan aspek intelektual dari bermusik. Sedikit murid yang dibekali dengan pengetahuan teori yang baik, kemampuan analisa yang memadai dan pengetahuan latar belakang musik yang cukup. Padahal kesemuanya mampu membantu sang murid menjadi musisi yang baik.

Talenta muda dibentuk menjadi mesin yang bersinar di atas panggung dengan teknik yang cemerlang tanpa kemandirian sebagai musisi yang matang yang mampu menjadi duta musik dan menginspirasi orang lain, bukan hanya dengan permainannya tetapi juga dengan kemampuannya dan kecerdasannya dalam bermusik.

Ada satu hal yang terlupakan dalam pembentukan dan pendidikan musisi, yang seringkali malah membuat musik seni menjadi semakin ditinggalkan dan dianggap tidak relevan. Sangat sedikit sekali murid yang dibekali dengan kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Juga sedikit murid yang dibekali dengan keingintahuan akan dunia musik yang terjadi di sekelilingnya. Murid seakan diajar untuk hidup di dalam dunianya sendiri tanpa peduli tanpa keadaan sekitar. Ini harus dikikis.

Untuk menjadi duta budaya, musisi harus dibentuk semenjak dini dan pendidikan di institusi dasar hingga tingkat lanjut harus membekali bakat-bakat ini dengan baik. Menjadi musisi yang jago secara teknis dan juga intelek serta peduli sekitar harus menjadi fokus pendidikan kita karena ini yang membedakan sekedar menjadi musisi hebat atau menjadi musisi yang luar biasa. Ini tentunya PR untuk kita semua.

Iklan
About mikebm (1217 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Menjadi Duta Budaya, Menjadi Musisi Cerdas

  1. halo pak, apa maksudnya musik yg perduli pada ligkungan sekitar? sy guru musik dan selalu berusaha menanamkan nilai2 yg esensi dr bermain musik, jd sy sangat tertarik dg tulisan di atas. mhn penjelasannya. trmksh

  2. Maksudnya lebih kepada musisinya Bu Dela. Musisi yang tau perkembangan terkini dari kehidupan sosial, ataupun musisi yang mampu mengambil peran sosial sebagai corong zaman, melukiskan masa kini dan harapannya lewat musik yg dimainkan. Bukan cuma sekedar musisi yang asik dengan instrumennya dan lupa terhadap jeritan rakyat di sekitarnya.

  3. Ini bagus, mike.

    Ini memang masalah di sistem pendidikan. Dan lo menunjukkan bahwa masalah ini juga eksis di pendidikan seni, khususnya musik.

    Anak-anak terlalu dilatih secara mekanis, hingga lupa esensi dari pembelajaran, esensi dari dunia yang ia geluti. Analogi “mesin yang bersinar” yang lo gunakan sangat merepresentasikan masalah fundamental ini.

    Dan penggunaan kata “duta” sangat tepat untuk memaknai musisi yang peduli lingkungan sekitar. Lingkungan tempat dia berkarya, serta lingkungan sekitar dia mana ia bisa memberikan impact lebih.

    Gw rasa, setiap individu yang terdidik, terlepas apapun pendidikan yang ia enyam, seyogianya memiliki tanggung jawab untuk menyentuh dunia sekitar melalui value unik yang ia raih melalui pendidikannya. Impact yang seharusnya bisa lebih dari sekedar penghibur atau pemenuhan kebutuhan pasar.

    Thanks again for the article mike 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: