Kabar Terkini

Budaya dan Seni, Kita yang Katanya Kaya


Indonesia diagung-agungkan sebagai negara dengan warisan budaya yang teramat kaya. Kaya bukan hanya sekedar kaya, namun juga unik. Namun seperti yang kita tahu, musik klasik karya anak negeri tidak terlalu banyak. Ada yang berpendapat bahwa musik klasik itu musik barat, bukan kekayaan negeri sendiri. Jadi kalaupun anak negeri membuat karya musik klasik, itu bukan karya negeri sendiri. Apakah memang demikian? Dengan segenap hati saya tidak sepakat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa musik klasik adalah warisan dari tradisi musik di Eropa. Dan Indonesia punya tradisi musik klasiknya tersendiri yang tidak kalah beragam. Diskusi kita ini dipicu oleh kesulitan yang dihadapi musisi simfonik terutama orkes yang ingin tampil di luar negeri. Ya, ini memang berkaitan dengan tur Twilite Orchestra ke Eropa yang kesulitan mendapatkan karya simfonik yang representatif yang mewakili ke-Indonesia-an kita.

Selain memang tidak mudah menulis karya simfonik karena ukuran dan kompleksitasnya, ada juga alasan lain. Komposer jaman sekarang memang tidak banyak berkonsentrasi menuliskan musik orkestral. Mengapa? Karena di mana pun baik Eropa, Amerika dan termasuk di Indonesia, peluang musik baru apalagi dengan format orkes simfonik untuk naik pentas secara rutin sangatlah sulit. Sehingga tidak heran banyak musisi yang tidak berkonsentrasi untuk musik jenis ini seiring dengan menurunnya kesempatan karya tersebut dimainkan.

Tapi meskipun jumlahnya tidak banyak bukan berarti menemukan karya berkualitas menjadi teramat sulit. Kekayaan musik tradisi kita seharusnya menjadi mata air inspirasi yang tidak kunjung kering untuk menciptakan karya-karya baru, termasuk di dalamnya musik simfonik yang terinspirasi musik Nusantara. Namun nyatanya, di hulu berlimpah sumber daya, namun di hilir kita sulit sekali mendapatkan hasil akhirnya. Komposer Indonesia belum cukup banyak menelurkan karya simfonik.

Dengan inspirasi yang ditimba dari mata air tradisi kita, sebenarnya kita menciptakan karya yang 100% Indonesia namun dengan format Barat. Apakah format seperti ini mengurangi ke-Indonesia-an karya yang dibuat? Tentu saja tidak, mungkin itulah sebabnya Addie MS berani memilih karya Tabuh2an karya Colin McPhee seorang Kanada yang terinspirasi dunia suara Indonesia sebagai karya yang penuh nilai musik Indonesia. Namun hanya karya Yazeed Djamin sebagai satu-satunya karya orkestral yang dibawa ke sana sepertinya menunjukkan bahwa musik yang dapat dipilih sangat terbatas. Di Sydney, TO membawakan karya yang sama, tapi apakah memang hanya karya itu yang layak disebut karya Indonesia dari anak bangsa? Semoga tidak.

Namun pada akhirnya, semua orang bisa melihat bahwa kekayaan budaya bangsa tergantung seberapa jauh kekayaan ini juga bisa menciptakan dan menjadi inspirasi mereka yang hidup di dalamnya, termasuk para komposer. Secara obyektif, bisa dikatakan budaya kita kaya, tapi secara subyektif, kita bisa melihat sendiri kenyataan seniman kita terutama musisi musik klasik barat mengoptimalkan kekayaan budaya dan seni tradisi kita.

Yah, ujung-ujungnya adalah kekayaan budaya dan seni suatu bangsa bergantung dari kemampuan bangsa tersebut mengapresiasi budaya dan seninya sendiri, tradisi maupun modern. Pertanyaan besar masih harus ditanyakan kepada kita semua, “Sudahkah kita?”

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: