Kabar Terkini

Membangun Komunitas Sebagai Basis


Mengapa kebanyakan acara musik klasik tidak diketahui orang banyak? Mungkin inilah pertanyaan pertama yang muncul di benak kita. Namun yang mengherankan, tetap saja ada acara yang sukses dan menuai banyak apresiasi dan bahkan kehadiran penikmat musik. Dan bukan musik klasik saja, bahkan pagelaran musik baru pun bisa menarik penonton yang banyak. Nyatanya kerja sama dengan media-media besar dan sponsor tidak menjamin kesuksesan pagelaran dari segi jumlah penonton. Lalu yang salah di mana?

Sebenarnya kunci kesuksesan segelintir penyelenggara ini tidaklah muluk. Penyelenggara yang jumlahnya sedikit ini sadar bahwa kegiatan mereka haruslah berbasiskan komunitas. Ya, kegiatan yang berbasis komunitas itulah kuncinya.

Perlu dicatat bahwa musik klasik dan sejenisnya adalah musik yang sedari dulu berbasiskan komunitas. Musik jenis ini selalu berkembang di antara komunitas. Sebelum maraknya media massa, musik selalu berkembang di dalam komunitas. Ketenaran seseorang pun berkembang dari mulut ke mulut, dari sahabat ke sahabat, dari patron ke patron. Jadi tidak heran apabila banyak insan musik saling mengenal satu sama lainnya dan nama baik menjadi andalan banyak di dunia seni ini.

Beberapa penyelenggara yang sukses umumnya sadar hal ini. Selain mengutilisasi media massa yang bersifat generik, membangun afinitas komunitas yang dekat dan intim adalah suatu keharusan. Menyelenggarakan pertunjukan sesuai dengan kebutuhan komunitas di sekitarnya pun menjadikan pertunjukan relevan adalah satu poin yang harus terus dihidupi oleh penyelenggara.

Maka tidak heran apabila seni yang berbasiskan komunitas juga mengandalkan media-media alternatif untuk membina interaksi yang cukup dengan anggota-anggota komunitasnya. Sebut saja keberadaan social media yang telah banyak membantu untuk menyatukan mereka dan membukakan pintu interaksi yang lebih terbuka lagi antara seniman, penyelenggara dan juga anggota komunitasnya. Untuk itu penyelenggara harus lebih sigap dalam memanfaatkan media-media alternatif, mengelolanya dengan lebih terpadu dan dekat dengan komunitasnya.

Memang ada kecenderungan bahwa pengguna media alternatif adalah mereka yang berusia muda, tapi ingat bahwa komunitas selalu membutuhkan darah segar dari komunitas berusia muda. Adalah salah besar apabila kita terlalu meremehkan mereka yang muda, padahal merekalah yang menjadi penopang utama seni, baik di masa kini maupun di kemudian hari.

Maka tidak heran apabila membentuk komunitas bukan hanya harus dilakukan di dunia maya namun juga harus dilakukan di dunia nyata. Dan alangkah baik apabila afinitas komunitas bukan berdasarkan pada kedekatan yang non-artistik, sehingga memang membentuk komunitas yang sungguh peduli dengan seni, bukan karena kedekatan personal semata misalnya.

Maka sebuah omong kosong apabila pengembangan seni pertunjukan tidak dimulai dari membentuk komunitas yang sehat. Angkat topi bagi penyelenggara dan seniman yang berhasil mengembangkan komunitasnya, dari sanalah sebenarnya seni bisa menjangkau lebih banyak orang lagi, bukan dengan gembar-gembor di depan media massa semata.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Stakeholder: Teridentifikasi? | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: