Kabar Terkini

Evolusi dan Seleksi Alam dalam Penggubahan?


~ Patut dibaca bbc.co.uk or at Soundcloud

Berbagai peneliti dan pengembang ilmu kecerdasan buatan sudah berkali-kali mencoba menganalisa dan merumuskan dalam sebuah algoritma, bagaimana musik dibuat. Berhasilnya metode mereka dalam menciptakan kecerdasan buatan dan algoritma tersebut tampaknya ditujukan untuk menunjukkan bahwa kreativitas manusia dapat dikejar oleh mesin.

Berbagai metode sudah diupayakan seperti membuat mesin belajar karya-karya terdahulu dan kemudian mencoba mengemulasikannya menjadi karya baru. Namun kali ini cukup berbeda, sebuah metode dikembangkan berdasarkan teori evolusi Darwin yang diikuti oleh seleksi alam yang menentukan jenis musik apa yang akan berkembang.

Dari sebuah bunyi, sebuah algoritma dikembangkan untuk membiakkan bunyi dengan mengolahnya dalam komputasi ini sehingga semakin beragam dengan berbagai variasi bunyi. Tahap kedua melibatkan manusia yang akan menjadi pendengar dan akan memberikan rating akan varian-varian tersebut, mana yang paling menyerupai musik. Varian dengan rating tertinggi akan dikembangkan lagi, dibiakkan kembali sebagai hasil seleksi. Dan proses ini terus berulang hingga sebuah bunyi tersebut semakin lama semakin mirip dengan musik.

Para peneliti yang dipimpin Professor Armand Leroy dari Imperial College London mengklaim bahwa dengan metode ini tidak lagi dibutuhkan komposer untuk menciptakan musik. Mungkin ada benarnya tapi tetap ada kelemahan dari metode ini.

Pengembangan musik jenis ini hanya akan berkembang sejauh gambaran besar kita para pendengar akan musik. Karenanya proses evolusi varian-varian di awal yang mengarahkan pada musik seperti yang kita kenal sekarang ini. Ini semua dikarenakan kebanyakan pendengar memiliki konsep umum tentang bagaimana bunyi bisa dikategorikan sebagai musik. Sedangkan suara-suara yang tidak dianggap musik akan mati perlahan-lahan.

Karenanya, musik yang bisa diciptakan dalam metode ini hanya akan berkembang sebatas bunyi yang bisa dianggap sebagai musik oleh pendengar yang memberikan rating. Kecenderungan seperti ini akan membatasi perkembangan dari varian-varian suara ini sebatas suara yang yang disukai dan dianggap musik oleh khalayak ramai.

Dan ini akan menutup jalan musik-musik pendobrak yang inovatif untuk berkembang. Mengandalkan mesin ini untuk mengembangkan musik secara tersendiri tanpa pengaruh selera dan pengetahuan musik dari pendengarnya adalah mustahil. Juga tidak mungkin mengharapkan terciptanya suara-suara baru dalam musik yang sama sekali tidak dikenal sebagai musik.

Jadi, memang benar metode ini bisa menciptakan musik dan bisa mengembangkan musik dari sekedar bunyi hingga taraf musik yang kita kenal. Tapi apakah kreativitas komposer tergantikan? Tentu tidak. Apakah selera manusia tidak lagi relevan dalam musik? Sama sekali tidak, karena seperti yang kita sama-sama ketahui, algoritma bisa mencipta dan mengemulasi, tapi hanya manusia yang bisa menilai, karya tersebut baik atau tidak…

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-18449939

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: