Kabar Terkini

Matah Ati yang Menawan Hati


Sang Matah Ati – dr Kompasiana

Dari seorang gadis yang mencoba mencari jati dirinya dan menemukannya di medan perang bersama Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyowo, Rubiyah yang juga dikenal sebagai Matah Ati menginspirasi sekaligus memukau penonton yang memadati Teater Jakarta, Sabtu lalu.

Pagelaran ini sendiri merupakan kali kedua digelar di Teater Jakarta, sebelumnya di tahun 2011 lalu. Namun jangan salah lakon inipun pernah digelar di gedung teater kebanggaan Esplanade Singapura dan memenangkan hati penonton dan kritikus di sana. Tidak heran, permintaan untuk pementasan ulang membanjir untuk pementasan yang didukung lebih dari 70 orang penari ini.

Sebagai rerun dengan pelakon yang kurang lebih sama, Matah Ati yang diperankan oleh penari oleh Rambat Yulianingsih dan Raden Mas Said oleh Fajar Satriadi mengisahkan pertemuan seorang gadis Rubiyah dengan sang Raden dan kemudian berjuang bersamanya sebagai panglima melawan VOC dengan panggilan Matah Ati. Lakon pun ditutup dengan pernikahan kedua sejoli pejuang ini dan berdirinya Mangkunegaran Kertosuro – Surakarta di abad 18 di mana sampai kini keberadaannya sebagai sebuah kerajaan masih bisa kita saksikan.

Ditulis dan disutradarai oleh Atilah Soeryadjaja, lakon ini tetap mempertahankan kekuatan dan kharisma sebuah pertunjukan tari dan lakon wayang orang khas tanah Jawa. Namun demikian tidak berhenti di situ saja, dengan sentuhan teater modern dari penata artistik Jay Subiyakto yang juga sukses menangani pementasan Laskar Pelangi, lakon ini bukan hanya sekedar menjadi lakon tradisional tapi juga modern dan memikat secara visual.

Lain dari banyak pertunjukan di Teater Jakarta, kali ini orchestra pit dipenuhi oleh perangkat gamelan yang siap memainkan komposisi Blacius Subono untuk mengiringi penari yang dengan tenaga dan intensitas penuh menari sembari menyanyikan teks lakon ini dengan penuh wibawa. Harus diacungi jempol ketiga koreografer Daryono, Nuryanto dan Eko Supendi yang tetap melestarikan kualitas tari Jawa klasik yang beraneka ragam dipadu dengan wayang orang yang sungguh mengoptimalkan fungsi panggung modern di Teater Jakarta.

Tari Pecut sebagai perlambang keangkuhan

Dibagi menjadi 17 adegan, semua alur cerita menggunakan bahasa Jawa dikemas dengan padat dan ringkas namun tetap kaya dengan simbolisme yang sangat khas dengan pertunjukan tanah Jawa di mana semua tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Format khas Jawa yang diselingi dengan goro-goro yang lucu menyentil sembari mengutarakan opini-opini dan fenomena masa kini juga tidak lupa untuk ditampilkan.

Secara utuh, lakon ini cukup kuat dan begitu banyak hal yang bisa kita tarik daripadanya. Pun tidak kalah menginspirasi apalagi dengan adegan pembukaan yang begitu menggugah. Panggung yang miring 15 derajat dilengkapi sling dan permukaan hidrolik pun tidak menghalangi penari yang membawakan tari klasik termasuk bedoyo dengan ketaatan pada tradisi yang cukup tinggi. Penari pun dituntut untuk ‘nembang’ seperti layaknya dalam pagelaran wayang orang. Memang perlu kehati-hatian yang ekstra agar semua pendukung pertunjukan yang gegap gempita tidak menghalangi ruh dari tari klasik Jawa yang begitu kuat dan mengena.

Namun demikian, Matah Ati adalah Matah Ati, di mana tradisi dan modernitas bercampur. Inilah saat di mana seni pun benar-benar menjadi kebanggaan dan kekayaan kita bersama.

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Matah Ati yang Menawan Hati

  1. Salam Kenal Untuk Semuanya Yaa… 🙂

  2. nadiaananda // 27 Juni 2012 pukul 1:21 pm //

    Wahhh,, Om Ane Suka Om Cara Pemilihan Judulnya.. 🙂 Sangat Variatif Sekali.. :/

  3. @jaka Salam kenal juga…
    @nadiaananda terimakasih… bagaimana? sempat menonton juga?

  4. ilhamajipratomo // 28 Juni 2012 pukul 10:33 am //

    Agan mike, itu kayaknya bot/spammer semua deh. Gw juga kena..

  5. Nah, problemnya adalah akismet ga bisa bedain kan ya? hmmm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: