Kabar Terkini

Mengajarkan Keutamaan Bermusik: Berbagi dengan Rendah Hati


Madz di Brusel

Gemuruh sorak-sorai kembali memenuhi auditorium yang penuh terisi penggemar dan aktivis paduan suara Jakarta. Usmar Ismail Hall penuh dengan tepuk tangan seluruh penonton malam ini, ketika Phillippine Madrigal Singers kembali ke Indonesia membagikan musik, bahkan sebelum konser dimulai dan semua personel naik pentas.

Sebagai salah satu dari dua paduan suara(*) yang pernah memenangkan ajang prestisius European Grand Prix for Choral Singing sebanyak dua kali, Madz tampil dengan mengundang decak kagum. Kembali ke Jakarta setelah hampir genap 2 tahun lalu terakhir berkonser di Nusantara, paduan suara yang dipimpin oleh Mark Anthony Carpio ini kembali mempersembahkan musik yang menggetarkan hati pendengar.

Tampil dengan berbagai karya dan gaya, Madz mengemas konser penuh gaya. Tidak hanya karya musik sakra (religius) modern karya Z.R. Stroope, Sounder Choi dan Eduardo Andres Malachevsky yang kaya warna dan keanggunan tetapi juga dengan madrigal Jerman “Mein Lieb Will Mit Mir Kriegen” dari Hans Leo Hassler dan aransemen Bachianas Brasileiras No.5 dari Hector Villa-Lobos. Kesemuanya menggambarkan keluwesan mereka dalam bertutur.

Namun sungguh penutup babak pertama memang harus dicatat secara tersendiri. Kekuatan paduan suara ini untuk menggiring penonton untuk masuk ke dalam imajinasi yang dibangun dalam suara. Mengambil tema ‘ hari kiamat’ dari dua karya, “A Maya Prophecy” dari Meir Mindel dan “An Apocalyptic Alleluia” dari J.E. Balsamo menjadi dua karya yang sungguh menyedot perhatian dan imajinasi penonton dalam setiap helaan nafas dan pergerakan nada paduan suara dalam nuansa keputusasaan, kehancuran, kematian dan harapan yang begitu pekat sekaligus menggugah hati. Semuanya tersampaikan dalam suara yang mencengangkan.

Madz in Argentina

Di babak kedua, Madz sedikit mengendurkan tekanan dengan memilih karya-karya musik tradisi Filipina Itetem dan Babagto dan musik pop dari Prancis dan Kuba yang membawa nuansa informal. Konser pun ditutup dengan rangkaian musik pop dari Eric Clapton “Change the World”, “Africa” dari David Paich & Jeff Porcaro serta karya beraroma jazz “In the Mood” yang santai dan penuh elemen improvisasi yang menghibur penonton. Konser pun ditutup dengan anggun melalui musik John Lennon “Imagine” yang dikemas dalam bentuk paduan suara yang menggerakkan oleh Nilo Alcala II.

Didukung oleh 25 orang vokalis, Madz yang tampil dengan format khas mereka yang menyanyi sembari duduk setengah melingkar. Memang harus diakui bahwa ke-25 orang vokalis mereka memiliki kematangan vokal yang mantap, sehingga dengan jumlah sedikit bisa memberikan keanekaragaman yang mencengangkan dari dinamika hingga nuansa.

Sungguh dari segi kerapihan, Madz tidak tampil sempurna ataupun bersih tanpa cela. Masih sempat terdengar problem pada intonasi dan pergerakan harmoni di beberapa tempat. Tapi nyatanya, hampir seluruh auditorium berdiri tegak riuh rendah setelah mereka menyanyikan “Laskar Pelangi” dari Nidji dalam format paduan suara sebagai encore kedua dan bukan karena menyanyikan lagu Indonesia, tetapi pujian pada kesungguhan paduan suara yang juga menjadi Duta Damai UNESCO ini dalam membagikan musik.

Ya, paduan suara yang hampir berusia 50 tahun ini telah mengajarkan nilai lain pada khalayak malam itu. Nilai tersebut adalah keinginan untuk berekspresi dan berbagi dengan rendah hati melalui musik, sebuah nilai yang indahnya jauh melebihi obesesi paduan suara kita akan kerapihan musik dan haus gelar juara serta ketenaran yang semu. Karena pada akhirnya hanya lewat kerendahan hati dan niat berbagi itulah, musik sebenarnya berbicara dan menyentuh pendengarnya dan karenanya Madz terbukti sebagai salah satu paduan suara terdepan di dunia.

(*) Terimakasih Ka Avip untuk ralatnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: