Kabar Terkini

Mengulas Musik: Bagaimana Memulainya?


Beberapa murid kemarin bertanya kepada saya, “Saya ditugaskan untuk menuliskan ulasan konser musik piano, tapi saya sendiri bermain gitar dan tidak mengerti piano. Apa yang harus saya lakukan?”

Tugas mengulas dan mengapresiasi musik mungkin adalah salah satu kunci utama bagaimana seorang murid belajar untuk mengapresiasi, menjadi lebih peka akan musik yang dimainkan sekaligus juga membuka cakrawala akan pemahaman musik yang ia miliki. Mendengar pertanyaan itu, jawaban praktis lah yang kita butuhkan, namun mudahkah mendapatkannya. Apalagi dengan kekhawatiran tersendiri bahwa kita sebagai pendengar tidak mengerti musik yang dibawakan, juga instrumennya.

Sebenarnya mendengarkan dan mengapresiasi sebuah pertunjukan musik ada bisa dengan dua cara umum: expectant dan non-expectant. Namun semuanya memiliki aspek yang hampir sama. Expectant berarti kita sudah mencanangkan terlebih dahulu apa yang akan kita dengar dengan berbagai persiapan terlebih dahulu, belajar ini-itu, baru masuk ke auditorium dengan citra tertentu sudah menempel di kepala kita. Non-expectant adalah kita masuk ke auditorium tanpa ekspektasi apapun dan berharap bahwa sang musisi akan membelalakkan mata kita tanpa persiapan apapun.

Namun dalam membuat ulasan, sang penulis haruslah mampu meramu dua cara expectant maupun non expectant tersebut. Mungkin inilah sulitnya tapi serunya. Dalam membuat ulasan yang komprehensif, ada beberapa bagian dari kita yaitu otak, mata, telinga, dan hati.

Mengulas sebuah pertunjukan bukan hanya menuliskan ulang buku acara, tentang waktu, tempat dan siapa yang tampil. Pikiran harus kita olah terus sepanjang karya, melalui mungkin ilmu yang sudah kita dapat lewat persiapan kita. Persiapan kita bisa melalui melihat apa saja karya yang dimainkan, latar belakang dan apabila memungkinkan dapat menganalisa langsung karya tersebut di atas kertas. Sedikit riset tentang siapa yang tampil akan sangat membantu. Dengan demikian kita mendapatkan gambaran tentang apa yang mungkin akan kita hadapi. Pun dua hal ini bisa dilakukan sebelum ataupun sesudah kita mendengarkan konser tersebut.

Mata dan telinga di sini tergabung menjadi satu. Tentu saja mendengar musik perlu telinga, tapi karena mereka tampil di bawah lampu sorot di depan seluruh penonton, mata juga memegang peranan. Inti dari bagian ini adalah “Jadilah Peka”. Ya lihat dan dengarkan dengan seutuhnya, tidak dengan sibuk berBBM ataupun merekam pertunjukan lewat ponsel. Ingat ataupun catat hal-hal yang menarik sepanjang pertunjukan. Bisa nuansa karya, cara pembawaannya, bentuknya, tekniknya apabila kita mengerti instrumen tersebut. Bahkan hal-hal mendetail seperti set latar, lighting, kostum dan bahkan antusiasme penonton apabila masih dalam konteks yang tepat bisa menjadi materi tulisan. Tapi selalu ingat untuk seni yang manakah kita datang hari itu, agar materi pelengkap tersebut tidak mendominasi.

Ingat juga, persiapan akan gambaran karya yang kita miliki bisa saja berbeda dengan apa yang akan kita dengarkan langsung di atas pentas. Nah, di sinilah serunya. Kita bisa melihat kreativitas dan perspektif orang-orang akan karya tersebut, variasi apa saja yang berhasil dia buat yang semakin memperkuat karya tersebut. Lalu pertanyaan yang sering muncul, “Lantas mana yang benar?” Tidak pernah mudah menjawab pertanyaan ini. Karena setiap seniman mempunyai hak untuk berekspresi di atas panggung dan juga punya kewajiban untuk taat kepada komposer karya tersebut. Sejauh mana dia bisa mengolah hak dan kewajiban tersebut, sejauh itulah istimewanya seniman itu dan sejauh mana kita bisa menangkap keistimewaan seniman itu, sejauh itulah kemampuan kita dalam mengulas.

Dan yang terakhir tapi tidak kalah penting adalah hati. Ya, merasakan musik perlu hati. Olah rasa menjadi kunci utama dalam mengulas konser. Apa yang kita sebagai penonton rasakan, itu juga bisa menjadi kesan yang kuat dalam mengulas. Tidak apa tidak mengerti bagaimana karakter instrumen yang mungkin dipakai, selama kita tidak meninggalkan rasa kita di depan pintu rumah. Untuk itu adalah baik apabila ketika mengulas kita bersih hati dahulu. Jangan mengulas dalam keadaan hati tidak nyaman karena akan mendistorsi apa yang kita tulis. Satu pesan, jangan takut pada hati kita… Seringkali dialah yang paling jujur di antara semua indera kita.

Perlu disadari adalah dalam mengulas, kita juga membangkitkan semangat jurnalistik, yaitu kesadaran bahwa pembaca berhak atas laporan dan penulisan yang benar. Jurnalisme ada untuk membela kepentingan publik akan kebenaran. Jadi jangan sekalipun membengkokkan kepentingan publik dan haknya untuk mendapatkan laporan yang sejujurnya baik berupa laporan video, audio maupun tulisan.

Satu pesan, mengulas musik adalah membentuk opini yang pada akhirnya akan melayani musik itu sendiri sebagai seni. Jurnalisme seni adalah bentuk dukungan terhadap seni dan juga bentuk kesadaran akan pentingnya seni.

Dan buat murid-murid muda tadi, “Tidak apa kamu belum mengerti instrumennya selama kamu bawa rasa dan hati. Selamat mengulas!”

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: