Kabar Terkini

Romantisme Sebuah Resital Wibi Soerjadi


Tidak mudah menyusun suatu recital berkualitas, namun agaknya kali ini Wibi Soerjadi, pianis kebanggaan Belanda berdarah Indonesia, berhasil memberikan suguhan yang istimewa. Ya, Wibi bersama Erasmus Huis mempersembahkan resital yang mengingatkan pembaca akan resital abad 19 yang banyak menghiasi literatur-literatur sejarah.

Resital yang unik pada malam Kamis ini adalah resital penutup Wibi di Jakarta. Sebagai bagian dari rangkaian tur konser dan program pembinaan pianis-pianis, selama 3 minggu sebelumnya Wibi berkeliling Indonesia untuk memberikan pelatihan bagi 50 pianis muda berbakat dan 5 orang pianis dari 50 orang itu diberikan kesempatan untuk mengisi babak pertama resital ini. Lima orang pianis muda itu adalah Vinsenzo Pratama, Anthony Hartono, Ryan Ferguson, Hintari Garida dan Stephanie Onggowinoto, kesemuanya membawakan pilihan karya Franz Liszt dan Frederick Chopin yang banyak di antaranya menjadi kerangka dari virtuositas Wibi sendiri.

Perlu dicatat memang Stephanie Onggowinoto yang membawakan Parafrase Rigoletto dari Liszt yang menantang baik secara teknis maupun musikal dan didapuk sebagai penampil terbaik malam itu oleh Wibi. Dengan fisiknya yang mungil, Stephanie bukan saja berhasil melibas kesulitan teknis dari karya yang dibangun dari tema opera dari Verdi ini tetapi juga berhasil membangun musik dengan arsitekturnya yang kokoh dan gemilang, bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Wibi Soerjadi sendiri memasuki pentas di babak kedua dengan berbalut beskap khas tanah Jawa yang mengundang senyum penonton yang memadati auditorium. Membina interaksi yang hangat sepanjang resital, Wibi membangun romantisme tempo dengan juga mengetengahkan karya-karya transkripsi dan komposisinya sendiri yang dibangun berdasarkan tema-tema yang cukup populer di telinga seperti “Dance of Devotion” Variations Symphonique dari tema “Passage”, dan Transkripsi Gladiator dari tema musik film Gladiator karya Hans Zimmer. Di tengah-tengah, Transkripsi Widmung oleh Franz Liszt atas sebuah karya vokal dari Robert Schumann pun diperdengarkan dengan merdu dan penuh ketenangan.

Bermain di atas Imperial grand piano bertuts 97 (lebih banyak 9 dari piano normal), Wibi bermain dengan penuh wibawa. Geraman nada yang menggetarkan, nada atas yang manis dan merdu dipadu dengan virtuositas eksekusi prima tampak bahwa Wibi lebih nyaman berada di panggung saat ini dibanding hampir 10 bulan lalu ketika ia datang pertama kali Indonesia. Setiap nafas dibangun dengan virtuositas dan musikalitas dengan rentang dinamika yang luar biasa luas namun tidak terkesan kasar dan memaksa.

Yang istimewa malam itu penonton dibawa merasakan kembali pertunjukan Franz Liszt yang semasa hidupnya menjadi selebritas di depan papan nada namun tidak melupakan musik yang menjadi inti dari sebuah resital. Teknik dipadu dengan musik yang tergarap, dan tidak sekedar gagah berdiri dengan virtuositas yang mengundang decak kagum saja, tetapi juga persembahan musik yang tulus dan indah menjadikan konser ini patut untuk dikenang dan mungkin menginspirasi pianis muda yang memadati ruang auditorium semalam.

Tiga encore pun dimainkan. Kesemuanya merupakan transkripsi Wibi yang selalu penuh dengan idiom pianistik masa romantik beraroma Franz Liszt. Ya, Wibi membuktikan bahwa virtuositas yang paripurna adalah teknik yang menunjang penuturan musik secara utuh.

Dan gegap gempita pun terdengar di seluruh ruangan, Wibi Soerjadi yang berbeskap dan berlangkon pun membungkuk hormat menutup perjumpaan malam itu – sebuah akhir dari perjalanan romantisnya di Indonesia tahun ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Romantisme Sebuah Resital Wibi Soerjadi

  1. He is one of the best pianists in the world.
    I saw him play in Carnegie Hall New York. Amazing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: