Kabar Terkini

Pergelaran Anda Sungguh Dikemas Untuk Publik?


Sering kita dengar seni adalah mercusuar zaman yang menjadi penanda akan kemajuan maupun kemunduran suatu peradaban dan tidak heran karenanya seni harus menjadi bagian dari masyarakat. Namun terkadang kenyataan di sekitar dunia seni kita berbeda, seni menjadi pelayan para patron dan donatur utamanya. Seni menghamba di mana kantong-kantong uang berada.

Bisa kita lihat contohnya di mana-mana. Sebuah pagelaran seni bisa jadi begitu terbatas akibat sulitnya masyarakat umum untuk mendapatkan akses pada seni itu. Tidak sedikit hal-hal semacam kode berpakaian, harga tiket masuk dan pengemasan pagelaran menjadi halangan. Tidak sedikit kita mendengar beberapa pergelaran mengharuskan pengunjung untuk berpakaian resmi dan kedapatan bahwa mereka yang dianggap berpakaian tidak layak dipandang sebelah mata hingga tidak boleh masuk dalam pergelaran. Tidak jarang pula kita mendapati harga tiket yang begitu menjulang tinggi, dan juga ada kalanya pengemasan informasi dan penggunaan bahasa asing yang justru menjadi kendala.

Masalahnya pembatasan seperti ini seringkali tidak disadari oleh penyelenggara pagelaran. Seni yang seharusnya menjadi milik publik akhirnya hanya terbatas pada kalangan berduit untuk menyedot perhatian kalangan ini untuk terus mensupport kegiatan-kegiatan ini. Yang terjadi adalah untuk membuat kegiatan ini menarik bagi kalangan berduit, kegiatan-kegiatan ini dikemas secara khusus untuk mereka dan serta merta membatasi kalangan lain yang secara finansial lebih lemah untuk turut serta.

Tidak sedikit satu acara dibuat seakan mewah dan glamor untuk menarik kalangan-kalangan donatur tapi akhirnya karena terlalu mewah dan glamor aksesibilitas semacam penggunaan bahasa malah menjadi pembatas. Padahal seharusnya sebuah acara yang membutuhkan penjamuan donatur macam ini bisa dibagi menjadi dua. Yang pertama yang memang dikhususkan untuk menggalang dana dengan menyadari bahwa setiap kegiatan berkualitas tentunya butuh sokongan dana yang kuat dari para dermawan yang punya kepedulian bagi seni. Sedang yang lain tetap dibuka sesuai dengan visi pergelaran seni yang memang diperuntukkan bagi publik. Jadi, mengadakan satu acara mahal tidak sejalan dengan visi tersebut.

Tidak perlu jauh-jauh. Bahasa saja bisa menjadi bahan pertimbangan tersendiri apakah sebuah institusi seni memang berpihak pada penyampaian seni dan budaya pada khalayak ramai. Bagi sebuah institusi seni yang berdiri untuk mempertemukan seni dengan publik adalah aneh apabila di seluruh media publikasi institusi tersebut semuanya hanya disampaikan dalam bahasa asing, sekalipun bahasa Inggris. Kita pun bertanya apakah pergelaran ini hanya diperuntukkan bagi para ekspatriat ataukah hanya untuk golongan-golongan yang fasih berbahasa asing tersebut. Ini sering kita lihat dalam berbagai kesempatan.

Demikian pun dari barang sederhana semacam harga sebotol air mineral yang dijual oleh penyelenggara, kita bisa melihat target pasar mereka sebenarnya. Sederhana bukan? Jadi harapan kita semua sesungguhnya adalah bahwa sudah bukan waktunya lagi membungkus manis visi institusi Anda dengan visi ‘Seni untuk Semua’ apabila sesungguhnya hal itu tidak pernah terlintas dalam pikiran Anda. Publik tidaklah buta.

Gbr:

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: