Kabar Terkini

Jakarta Simfonia dan Pemandu Brillian Great Wall String Quartet


Tidak disangka, Great Wall String Quartet yang didaulat sebagai acara pembuka menyuguhkan musik yang luar biasa dan mampu menarik apresiasi penonton pada acara konser malam ini. Sebagai sebuah kuartet gesek dibentuk dari persona-persona berprestasi dari daratan China dan berhasil mendapatkan posisi prestisius di berbagai orkestra di Eropa dan Amerika, membuktikan bahwa arus Asia Timur menyerbu daratan musik klasik Eropa sungguh nyata.

Dengan concertmaster Deutches Symphony-Orchester Berlin Lu Wei pada biola 1, pebiola 2 dari Munich Philharmonic Zhou Qi, pebiola alto dan prinsipal cello San Diego Symphony Orchestra Chen Chi-Yuan dan Zhao Yao, Great Wall String Quartet menyuguhkan karya F.J. Haydn Kuartet Gesek Op.76 No.3 yang dijuluki ‘Emperor’.

Bermain dengan sensitivitas yang luar biasa, mereka menyuguhkan musik era klasik dengan pembawaan yang elegan namun selalu hidup dan cerdas. Selain itu, mereka juga menunjukkan kontrol yang luar biasa terhadap instrumen antik abad 18 dan 17 yang mereka pakai, sehingga mampu menunjukkan kelincahan dan kecemerlangan karya Haydn. Dengan penampilan mereka malam itu, sungguh mereka berhasil menunjukkan bahwa seorang pemain orkes yang mumpuni harus dilengkapi dengan kemampuan bermain musik kamar yang matang, berempat mampu menyedot perhatian ratusan orang dalam menciptakan intensitas dalam keheningan. Sungguh menakjubkan.

Suguhan utama selepas istirahat yang sebenarnya menjadi titik fokus konser malam ini agaknya sedikit berbeda. Bermain di kandangnya sendiri, Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) bersama Jakarta Oratorio Society (JOS) menyuguhkan sajian yang menantang, sebuah mahakarya musik klasik Simfoni No.9 karya Ludwig van Beethoven. Sebagai kreasi akhir dari penggubah yang melegenda karena masa tuanya yang dirundung ketulian, karya ini diciptakan dengan memadukan bentuk standar karya simfoni dengan paduan suara ketika ia sudah tuli total.

Karya yang juga menjadi favorit mendiang mantan presiden Gus Dur ini secara teknis dan perpaduan memiliki kesulitannya tersendiri, penuh dengan energi yang sesaat membuncah dalam klimaks-klimaks yang tersebar di sepanjang karya selama 80 menit ini, mengharuskan penggarapan yang mendetail. JSO dan JOS yang dipimpin oleh Stephen Tong didukung oleh soprano Rachelle Gerodias-Filipina, alto Anna Koor-Malaysia, tenor Joseph Hu-AS dan baritone Noel Azcona-Filipina, keempat melakukan tugasnya dengan sangat baik, proyeksi mencukupi dan interpretasi yang mantap. Stephen Tong tampaknya berhasil menggiring JOS dengan format paduan suara besarnya menggalang suara dengan memikat dan dengan semangat persaudaraan pemuda yang berapi-api sesuai dengan tema teks bagian ke-4 simfoni ini, menjadikan simfoni ini lebih hidup.

JSO sendiri tampil dengan corak yang berbeda. Dengan digawangi keempat anggota kuartet Great Wall tadi sebagai prinsipal di setiap seksi gesek, agaknya merubah keseluruhan pengemasan kualitas nada dari seksi gesek. Dalam memadu suara, intonasi menjadi begitu tergarap dan eksekusi yang cermat dan keterpaduan seperti pada format musik kamar kuartet yang agaknya jarang ditemukan pada orkes ini di kesempatan lain. Dengan sigap pula keempat bintang tamu ini menggiring seluruh orkestra untuk terus melaju, terutama dalam kebimbangan dan impresisi yang sempat muncul dalam pengabaan yang dilakukan oleh Stephen Tong. Setiap seksi, baik woodwind, brass, maupun perkusi terdengar merapatkan barisan, sembari mencermati kawan dalam seksi maupun keempat prinsipal yang menjadi pilar seksi gesek.

Alhasil, karya yang memang monumental dan menantang ini sedikit kehilangan greget terutama dalam klimaks-klimaksnya yang eksplosif dan intensitas yang seharusnya tinggi dalam gerakan ritmis akibat saling menunggu antar pemain. Namun demikian, keberanian dan semangat dari setiap penampil malam itu untuk memberikan yang terbaik dapat kita acungi jempol.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: