Kabar Terkini

Héau dan Hangatnya Buaian Klarinet


Klarinet mungkin sebuah instrumen tiup yang namanya agak jarang terdengar walaupun sebenarnya merupakan keluarga inti alat musik tiup kayu.  Sehingga tidak heran juga apabila kita juga jarang menemui resital tunggal klarinet di Jakarta ini. Namun Rabu di awal bulan September ini sedikit berbeda karena kedatangan klarinetis asal Prancis, Florent Héau.

Atas inisiatif PT Indonesia Strings selaku distributor tunggal alat musik tiup Buffet Crampon yang digunakan Héau mengadakan resital di Goethe Haus. Diiringi Lilian Lenggono dan Siah Lily pada piano, Héau mengetengahkan tema varia musik klarinet yang terinspirasi dari musik di berbagai belahan dunia.

Pergelaran malam itu sungguh memperkaya mereka yang menonton. Tampil dengan dengan dua klarinet dalam A dan Bes, Héau bermain dengan memukau. Klarinet sendiri bukanlah instrumen yang mudah dikuasai. Sebagai alat musik yang memiliki kekayaan suara dan intonasi yang begitu kaya, adalah tantangan tersendiri bagi pemain untuk mampu memaksimalkan potensi alat musik ini. Lebih mudah bagi seorang pemain klarinet yang berbakat untuk terperangkap dalam permainan aman dan sekedar terdengar, dibanding dengan keberaniannya mengeksplorasi suaranya hingga batasnya.

Tampil dengan sungguh menguasai spektrum instrumen yang dimainkan, peraih Premier Prix akademi musik ternama Prancis Conservatoire Natonal Supérieur de Musique Paris ini manampilkan permainan dengan rentang kemungkinan suara yang begitu luas dari Sonata Klarinet dan Piano dari Saint-Saens hingga 3 karya Carlos Guastavino Se equivoco la paloma, El Sampedrino dan Encatamiento. Permainannya yang bersih pun tergarap dengan intonasi dan stamina yang luar biasa serta penuh kelincahan seperti pada 3 Pieces for Clarinet karya Igor Stravinsky. Sedangkan pada karya Fauré Après un rêve dan Oblivion karya Piazzolla, kabut haru biru mengisi seluruh ruang auditorium.

Sungguh terasa bahwa dosen klarinet di CNR de Rueil-Malmaison ini mencoba merentangkan segala kemungkinan warna di atas klarinet yang ia mainkan, dan bermain hingga tepat di tepi batas kemampuan instrumen tersebut tanpa merusak musik yang ia mainkan seperti pada karya Kovacs Shalom alekhem rov Feidman. Kelincahan penjariannya dan kontrol pernafasan yang seksama juga bisa terlihat pada aransemennya bertajuk East European Dances.

Dua pianis Lilian Lenggono dan Siah Lily bermain dengan baik, mensupport permainan klarinetis ulung ini dari belakang. Musikalitas Siah Lily pun terlihat begitu menonjol walaupun efek dari pedal una corda yang dimainkan di sepanjang semua karya. Ketenangan mengalir manis dalam nuansa hening, namun di beberapa tempat kolaborasi dengan piano terdengar sangat redup dibanding dengan proyeksi tone klarinet yang mantap dan hangat menyebabkan diskoneksi dan kesan berjarak di antara keduanya.

Namun demikian secara umum, resital ini sungguh memukau. Tidak heran penonton tidak berhenti memberi aplaus hingga Héau harus menjawab sambutan meriah ini dengan permainannya yang unik, bermain klarinet sembari tap dancing, juga memainkan Czardas di atas selang berlubang dengan mouthpiece dan reed di atasnya yang menyebabkan penonton bersorak riuh rendah. Di tengah jarangnya resital tunggal klarinet di Indonesia, Florent Héau membuka perspektif banyak orang akan kekayaan alat musik tiup kayu ini dan tentunya menyuguhkan hiburan di ibukota yang sibuk.

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

10 Comments on Héau dan Hangatnya Buaian Klarinet

  1. telinga anda membutuhkan improvement. tolong dengar musik lebih banyak……

  2. terimakasih mas Ken sudah berkenan membaca… kalau boleh tahu di bagian mana mas ken tidak setuju dengan pendapat saya? bagian bahwa Heau bermain dengan sangat baikkah? atau di bagian lain dari tulisan saya? supaya saya bisa introspeksi juga dan belajar dari mas ken…

  3. karya apa yang dimainkan pianis Siah Lili dengan una corda dlm seluruh karya? Atau pianis Lilian yang memakai una corda seluruh karya?

  4. Sonata saint saens salah satunya dan juga oblivion dari piazzolla.. Itu sepenangkapan saya… Btw Anda belum jawab pertanyaan saya sebelumnya?

  5. Saya sdh jawab pertanyaan anda. apakah anda belum mengerti jawaban saya? pianis mana yg memainkan Saint Saens? mengapa menurut anda ,dia memakai unacorda DISELURUH Karya? dan Oblivion Piazolla? apakah pianis nya sama?

    Seperti saya bilang, kalau anda tdk bisa membedakan antara piano dgn unacorda dan piano dgn tehnik perancis yg halus…….apa boleh buat…….karena itu saya sarankan anda untuk mengembangkan pendengaran anda , sebelum menulis kritik yg dapat mengakibatkan salah persepsi dari pembaca yang awam atau tdk menghadiri konser.

  6. Kalau boleh share beda teknik piano Prancis yang halus dengan teknik piano pada umumnya?
    Karena bagaimanapun permainan piano kmrn kehilangan kontras dan greget karena teknik halus ‘ala Prancis’ yang anda klaim tersebut, walaupun secara umum berhasil mendukung klarinet terutama di tempat2 halus… Sungguh sayang, mengapa tidak menggunakan spektrum penuh dari piano namun menggunakan half-lid sehingga proyeksi bisa ditekan namun tidak kehilangan kontrasnya?
    Kalau memungkinkan apakah Anda bisa menshare pemikiran Anda dalam tulisan Anda sendiri? Nanti kita bisa berdiskusi lebih banyak dan memperkaya ilmu, tanpa keinginan menjatuhkan orang lain… Saya rasa diskusi sperti ini penting dalam mengembangkan apresiasi musik..

  7. Di setiap instument ada tehnik 2 khusus negara masing masing , yang pada akhir ujung ujungnya , tergantung bakat masing2 musisi akan menghasilkan musik yg mendunia , sekelas dunia.

    Kalau anda membandingkan pemain pemain piano dari jerman , perancis dan russia, maka bunyi yang dikeluarkan masing2 pemain , yg disebut warna musik juga berbeda, itu kalau anda punya telinga yang dianugerahi Tuhan.

    Ambil contoh antara permainan Cortot, Yvonne lefebuer, Mitsuko Uchida dan Claudio Arrau dan Martha Argerich.
    Apakah menurt anda suara yang mereka hasilkan sama?

    Atau Yehudi Menuhin, Itzhak Perlman, Maxim Vengerov, Michael Rabin, Kennedy, menghasilkan warna yang sama?

    Saya tdk mau menjatuhkan anda, dari tulisan saya yang pertama beberapa tahun yang lalu, saya sdh menghimbau ttg kekurangan anda dalam menganalisa musik dan pemainnya..
    Anda berkapasitas membahas karya karya musiknya , belum sp kpd tehnik bermain mereka , karena pengetahuan anda dan telinga anda msh harus banyak belajar.
    Jangan sampai mengacu kepada pemberitaan dan pengajaran yang salah kepada orang awam.

    Dulu ada 2 org penulis yang saya anggap berkapasitas utk mengulas kritik musik, Pak Gus Kairupan dan Pak Bintang Prakasa.

    Pak Bintang , dgn pengetahuannya yang luar biasa, tidak berani mengulas pemain pemain dgn tehnik 2nya , karena menganggap dirinya masih kurang mengerti tentang itu.
    Walaupan saya berbincang dgn beliau dan mendukung beliau untuk menulis kritik ttg permainan artisnya.

    Tapi anda, merasa sdh mengetahui semuanya, padhl msh banyak dar tulisan2 anda yang lain yang sangat menyesatkan orang banyak, yang pengetahuan musiknya kurang.

    Karena itu saya sangat menyarankan anda untuk tdk menulis ttg pemain , tp hanya mengulas ttg karya2 yang mereka mainkan,, sampai anda benar2menjadi musisi yang mengetahui semua tehnik 2 permainan yang ada di dunia ini.

  8. Terimakasih mas Ken untuk sarannya akan bentuk penulisan, namun mungkin bisa ditunjukkan bagaimana penulisan yang tidak menyangkut pemusiknya?

    Karena seperti yang anda sebutkan tadi bahwa setiap pemusik memiliki kekhasannya masing-masing. Dan untuk melihat musik hanya dari segi karyanya, tentu adalah pendekatan yang kurang menyeluruh.

    Adalah keprihatinan saya sekarang ini adalah tidak ada penulis dan pengulas yang berani mengapresiasi permainan musik… Semua hanya menulis berdasarkan apa yang mereka baca di buku program, yang agaknya saya tangkap seperti yang anda inginkan. Sayangnya saya terlalu keras kepala untuk menyerahkan jurnalisme musik dan seni pada umumnya pada pengamatan kulit seperti itu saja. Pun saat ini Pak Gus dan Pak Bintang, dengan segala hormat, sudah sangat jarang menulis, apalagi mengingat Pak Bintang sudah membaktikan diri untuk Tuhan.

    Dan tentunya saya dengan hormat tidak bisa mengikuti saran anda untuk tidak menulis sampai dengan mengerti semua teknik alat musik, yang tentunya terus berkembang tiada henti. Pun mengenal semua teknik alat musik adalah suatu hal yang nyaris mustahil. Untuk itu saya akan terus menulis, terus belajar tentang musik dan instrumennya, mengasah telinga dan perasaan saya, banyak membaca dan belajar menyusun kata… Mungkin ini adalah pembelajaran seumur hidup, tapi ini bentuk kontribusi saya yang terbatas ini untuk berusaha mengerti musik yang sedalam lautan…

    Apabila memang tulisan saya menyesatkan, saya mohon maaf. Saya hanya menyuarakan kecintaan saya terhadap musik… Tapi seperti di twitter, setiap orang berhak untuk tidak menyetujui tulisan saya, namun terlebih saya mengharapkan adanya opini alternatif dalam bentuk tulisan ulasan yang lebih berbobot dari kawan-kawan yang lebih mengerti tentang musik… Media dan sekeliling kita sangat membutuhkannya…

  9. KERAS KEPALA atau SOMBONG? MENYESATKAN…. = DOSA? Jika anda menyesatkan orang-orang…. “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu…., daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yg lemah ini”. Ini adalah prinsip bagi semua yg salah dalam mengajar/ hal yg sehubungan dengan hal pengajaran (seperti mengemukakan pendapat yg salah). “Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi”

  10. Mungkin untuk sombong ataupun dosa, bukan kapasitas saya untuk menyatakan ya atau tidak dan juga bukan kapasitas Anda untuk menilai… Biar Tuhan yang tahu isi hati saja yang menghakimi… 🙂

    Semoga Anda bisa bersabar melihat kami-kami yang belajar ini berproses untuk menggapai kualitas yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: