Kabar Terkini

5 Tahun Menulis Musik, Tidak Terasa


Setelah sekian lama tidak pernah melakukan update pada website links di blog ini, akhirnya saya coba menambahkan beberapa links yang sepertinya menarik, chicagoclassicalreview.com dan musicalcriticism.com di site roll A Musical Promenade. Dua site ini secara konsisten menulis dan menerbitkan tulisan dan ulasan tentang kehidupan musik klasik khususnya di Chicago AS dan London Inggris. Saya juga sedikit terpengaruh oleh beberapa pendapat bahwa kritik musik di dunia maya bisa jadi jauh lebih berkembang daripada di media massa nyata, terlebih berbagai tanggapan muncul di dunia kritik musik terutama setelah kritikus musik NYTimes, Allan Kozinn, dimutasikan ke departemen budaya sebagai jurnalis budaya.

Pun iseng-iseng saya mengunjungi beberapa site yang jarang saya kunjungi yang linknya pernah saya taruh di siteroll itu. Jujur, awalnya sempat terpikir, apa saja yang telah saya lewati dalam beberapa waktu ini. Tulisan-tulisan macam apa yang sudah menghidupi blog mereka. Menyadari bahwa mereka masih setia menulis tentunya sudah menjadi penghiburan tersendiri bahwa bukan hanya saya yang masih menulis.

Namun, ternyata saya mendapati banyak blog dari kawan-kawan non-musik maupun blog musik yang ternyata sudah mati suri, melayang-layang dalam dunia maya dengan tulisan dan rentetan sejarahnya, namun rupanya terlupakan oleh penulisnya. Alhasil menambah 2 link, saya malah harus menghapus lebih dari 10 link dikarenakan ditinggal mati oleh pemiliknya. Sedih memang bahwa tradisi menulis sepertinya banyak ditinggalkan oleh pecandu 140 huruf lewat twitternya. Mungkin itulah sebabnya blog agaknya ditinggalkan.

Tapi sungguh, karenanya saya jadi tersadar bahwa blog ini yang juga mengawali kebiasaan saya mengulas konser, sudah berdiri cukup lama. Bermula dari pergelaran The Jakarta Symphony di bulan Agustus 2007 yang kebetulan juga didukung oleh guru saya Aisha Pletscher sebagai pianis. Dari konser itulah saya mulai berani menulis musik, pun berpikir bahwa dari tulisan ini saya bisa berdiskusi dan belajar dari guru saya.

Bulan November pun saya iseng-iseng membuka blog untuk sekedar orat-oret, daripada hilang tulisannya, pikir saya. Pun terpikir, andai ada orang yang membaca tulisan saya, alangkah senangnya. Ini juga bisa menjadi alat bagi saya untuk berlatih menulis musik dan belajar. Saya pun menulis tentang beberapa konser yang diadakan di kampus maupun di tempat umum yang saya hadiri.

Tidak terasa sudah 5 tahun telah lewat sejak tulisan pertama ditulis dan entah sudah berapa banyak tulisan dihasilkan selama ini (setelah dicek tulisan ini akan jadi yang ke-425), baik dari yang sifatnya diskursus, informasi, opini maupun ulasan konser. Sampai saat ini juga belum pernah ada sepeser pun uang diberikan untuk mengulas sebuah konser, walaupun beberapa kali diundang secara khusus untuk meliput sebuah konser. Banyak kritik, masukan dan umpatan juga ditujukan kepada penulis, pun tidak sedikit pujian dan apresiasi yang dilayangkan. Semuanya ditampung dan diinternalisasikan tentunya untuk semakin membangun kualitas penulisan dan tentunya lebih penting, untuk membangun kualitas saya sebagai pribadi yang lebih baik lagi.

Entah, bagaimana tapi saya sedikitnya agak terhibur melihat bahwa media massa khususnya di Jakarta mulai bergeliat kembali untuk memberi perhatian pada pegelaran musik klasik. Tapi tentunya harapan tidak hanya bertumpu pada pegelaran yang bersifat bombastis dan menarik perhatian orang banyak saja, tapi juga pada pegelaran-pegelaran yang tidak seberapa heboh namun tetap berkualitas.

Namun jujur, kita semua termasuk saya masih banyak yang harus dikembangkan, termasuk dalam kualitas dan wawasan mengenai musik. Setelah 5 tahun mengamati, kita masih kekurangan tulisan yang berani beropini mengenai seni musik klasik di media massa. Banyak tulisan hanya jadi sekedar gimmick untuk menyukseskan sebuah acara ataupun laporan cerita yang bisa kita dapatkan dari buku acara saja, tanpa berani menyentuh konten musik yang dipersembahkan oleh seniman tersebut. Dan di antara blog dan website yang kembang kempis, serta tulisan seni di media massa yang pasang surut, saya bersyukur masih diperbolehkan menulis dan berdiskusi lebih jauh tentang musik yang saya cintai – walaupun di blog online seperti sekarang ini.

Mungkin 5 tahun berlalu dengan cukup cepat. Tidak semua pegelaran bisa ditulis oleh dua pasang mata, tangan dan telinga ini. Seorang teman sesama penulis, Roy Thaniago yang sekarang aktif di Remotivi, pernah menaruh komen di blog ini, “Mungkin ini akan jadi pekerjaan seumur hidup.” Mungkin ini juga bentuk kekecewaan namun penuh harap akan jurnalisme seni dan khususnya musik untuk kembali bangkit.

Terimakasih saya ucapkan kepada pembaca yang telah setia mendukung selama 5 tahun ini.  Dan mungkin inilah jawaban saya untuk kawan saya Roy, “Yah, mungkin saja akan jadi pekerjaan seumur hidup, siapa tahu… 5 tahun man… But, I love doing it, kita lihat saja masihkah saya bisa menulis 5 tahun ke depan… :)”

Salam,
Michael

Pict:

http://2brk.files.wordpress.com/2012/05/merenung-jiwasukses.jpg

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: