Kabar Terkini

Sebuah Pesan untuk Indonesia


Di malam menjelang Pilkada DKI, Jakarta kembali disuguhkan sebuah konser dalam rangka kemerdekaan Indonesia. Konser “Simfoni Untuk Bangsa” ini dipersembahkan oleh Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers dengan konduktor Avip Priatna yang didukung oleh sederet musisi. Mengambil tema kemerdekaan, agaknya konser ini mengetengahkan ide yang sedikit berbeda dengan konser kemerdekaan pada umumnya yang banyak diwarnai lagu-lagu wajib perjuangan. Di konser ini justru lagu-lagu daerah dan komisi karya musik baru khusus untuk konser ini yang mendapat banyak tempat, sebuah ide yang bukan hanya berbeda namun juga memberi pemaknaan lain yang tidak kalah istimewa akan khasanah musik dalam negeri.

Setelah dibuka dengan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, konser ini melaju dengan warna menyala dan semangat yang membara melalui karya ‘Overture Fatahillah’ yang sekaligus adalah pertunjukan perdana karya ini di hadapan publik. Fero Aldiansya selaku penggubah, dengan cerdas mengetengahkan pergulatan seorang pahlawan yang khas dengan jati dirinya sebagai ulama dan panglima dalam bentuk musik yang bergelora yang penuh idiom musik Timur Tengah. Fero juga menggubah karya anak-anak Pak Kasur, AT Mahmud dan Ibu Sud dengan cemerlang dengan tajuk Dari Anak untuk Negeri, pun serunya Ondel-ondel juga sedemikian terasa ketika dibawakan oleh The Resonanz Children Choir.

Batavia Madrigal Singers sebagai paduan suara berprestasi Indonesia yang mengisi konser juga secara berkelas membawakan karya paduan suara ‘History’ dari FA Warsono yang terkesan sederhana namun mampu menyedot perhatian penonton dan kaya karakter. Terlihat juga kualitas finalis European Grand Prix ini pada karya-karya khas paduan suara dari Budi S. Yohanes dan A. Bambang Jusana yang mengetengahkan karya-karya musik daerah dalam format paduan suara yang kali ini dibalut aransemen orkestra oleh Irsa Destiwi seperti Tak Tong Tong dan Marencong-rencong. Selain itu, orkestrasi Renaldi Wicaksono pada karya asal Kalimantan ‘Paris Berantai’ juga menjadi highlight tersendiri karena gayanya yang khas sehingga dikreasikan dengan musik latin samba.

Randy Ryan sebagai pianis muda pada karya Singgih Sanjaya ‘Kidung Mahardika’ tampil dengan temperamen yang luar biasa serta teknik yang mantap, melibas karya yang didominasi titinada slendro dengan stamina yang luar biasa. Kerja sama pun terlihat apik antara Randy dengan Avip selaku konduktor orkes. Klarinetis Nino Wijaya sebagai solois juga tampil memukau dengan permainan yang musikal dan hidup pada karya yang menantang secara teknis, ‘Variasi dari Tema “Tanah Air”’ gubahan Joko Suprayitno. Dengan bentuk khas variasi di era klasik dan romantik Barat, Nino menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah instrumen tiup itu sehingga agaknya layak disebut pemain klarinet terbaik Indonesia, seperti yang disebutkan oleh Avip Priatna sendiri dalam publikasi konser.

Selain solois instrumen tampil pula soprano Fitri Muliati yang tampak nyaman di berbagai gaya musik, klasik maupun jazz terutama kenyamanannya scat singing dalam mengolah ‘Sepasang Mata Bola’ bersama tamu khusus malam itu Bapak Menteri Perdagangan Gita Wiryawan yang juga dikenal sebagai pianis jazz diiringi JCO. Tenor Farman Purnama pun tampil dengan ekspresif pada beberapa nomor, di antaranya ‘Sarinande’ dan Tribute to Sam Maimun. Selain itu tampil juga Diani Sitompul dan Untung Siahaan yang membawakan nomor Puing karya N. Simanungkalit.

Secara umum, konser warna-warni ini bisa begitu menarik dikarenakan keberhasilan Avip Priatna dalam mengolah musik secara orisinal, terarah dengan tetap menjaga spontanitas yang energik. Musisi pun tampak nyaman dalam bereksplorasi dan terlihat menikmati penampilan mereka. Terlihat jelas Avip mampu memberikan koridor-koridor yang cocok untuk eksplorasi itu, menjadikannya kolaborasi apik. Dengan pementasan yang sepertinya terkesan sederhana, Simfoni Untuk Bangsa sukses mengetengahkan musik Indonesia yang beragam bagi publik Jakarta terutama mereka yang memadati Aula Simfonia Jakarta malam itu. Dan sudah sepatutnya kita berbangga akan keragaman Indonesia ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Sebuah Pesan untuk Indonesia

  1. Senang sekali bacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: