Kabar Terkini

Enigma Sudiarso Piano Duo


Sudiarso Duo dan Sardono ~photo by: Adrianus Wisnu

Di antara banyak pertunjukan seni di tanah air, sebagian besar tergolong sebagai buku yang terbuka, yang maksud dan maknanya dapat dibaca dengan sendirinya. Musik sebagai seni, memang paling mudah dijabarkan tanpa tendeng aling-aling, dijabarkan apa adanya. Namun pertunjukan malam ini di Gedung Kesenian Jakarta dapat dikatakan sebagai pertunjukan yang kriptik dan perlu refleksi yang lebih mendalam untuk mengerti dan mencerna makna dari setiap momen yang muncul daripadanya.

Adalah Duo Sudiarso – duo piano ibu dan anak Iravati M Sudiarso dan Aisha Sudiarso Pletscher – yang mengetengahkan teka-teki seni ini. Sebagai duo yang telah berdiri hampir dua dekade ini, nampak bahwa kedalaman ini menjadi sebuah pencapaian artistik tersendiri. Bermain dengan energi yang begitu terolah dan terfokus, permainan piano keduanya di permukaan sangat indah dan menghanyutkan, dan memang sungguh demikian. Namun semakin dalam pendengar terhanyut di dalamnya, semakin pendengar menyadari bahwa ada impuls lain yang lebih kuat selain yang terdengar di permukaan.

Dengan karya Sonata K.545 dari W.A. Mozart yang cukup populer dan diaransemen untuk dua piano oleh E. Grieg seabad kemudian, duo ini membuka pagelaran malam ini dengan kesan enigmatik yang sudah terasa. Perpaduan gaya era klasik khas Mozart dipadu dgn romantisme Grieg disertai dengan kekayaan harmoni abad 19 yang jelas lebih kaya dari masa Mozart menjadi suatu tantangan tersendiri. Namun duo ini menanggapi dengan cerdas dan berimbang pada masing-masing komposer yang keduanya memiliki nama besar dengan tetap mempertahankan pendekatan klasik yang terukur pada rangka asli Mozart dan sedangkan pada pengayaan harmoni dan warna dari Grieg, duo ini sungguh mengambil nuansa romantis yang menggebu. Sesuatu yang agaknya sulit dibayangkan namun nyatanya bisa diwujudkan.

Suite Op.5 “Fantaisie Tableaux” Rachmaninoff menjadi suguhan berikutnya. Diangkat dari 4 puisi ‘Barkarolla’ dari Lermontov, ‘Malam, Cinta’ dari Byron, ‘Air Mata’ Tyutcev dan ‘Paskah’ Khonyakov. Dengan terjemahan puisi dibacakan oleh Jajang C. Noer, Iravati dan Aisha mengetengahkan Rachmaninoff muda yang mencari jati diri dalam gubahannya, musik yang tidak serta-merta berderai bersamaan dengan riak air Barkarolla dan derai Air Mata, di antara dentuman subjektivitas musik yang didengungkan Wagner dan nasionalisme Rusia yang melekat di benak komposer. Enggan berpacu dengan tempo cepat, duo yang baru kembali dari misi budaya ke Thailand ini bermain dengan intensitas yang begitu pekat, bertutur dengan jujur tapi juga menuturkan tanya yang tak berjawab ke audiens.

Lutoslawski, komposer Polandia abad 20, mengikuti jejak Rachmaninoff dengan menggubah Variasi dari Tema Paganini. Sebagai karya modern, karya ini diangkat dari tema-tema caprice dari pebiola handal abad 19 Nicolo Paganini, mengemasnya secara jenaka dan riang terlebih jika pendengar telah mengenal versi asli Paganini dan variasi dari Rachmaninoff sebelumnya. Dengan keriaan dan notasi yang seakan bermunculan dari gaib mengisi tema-tema utama Paganini, karya 5 bagian ini terkesan pendek namun penuh tenaga dan eksekusi yang mendetail dalam mengolah kesan chaos dalam kerangka formal Paganini, menantang kembali pemahaman yang sebelumnya kita miliki. Sekali lagi sebuah tanda tanya akan eksistensi kita.

Pegelaran malam itu lantas dipuncaki oleh kehadiran penari dan koreografer Sardono W. Kusumo dengan gerak di atas kanvas musik ‘Danse Sacrée et Danse Profane’ karya Debussy. Dengan pergerakan yang lepas dan ekspresif, Sardono memaknai Debussy dan akarnya yang sama-sama memaknai ibu bumi dan langit serta eksistensi manusia yang tidak bisa terlepas daripadanya, tradisi dan kosmopolit, baru dan lama, gila dan waras, hidup dan mati. Seluruh mata terpaku pada tubuh yang terentang, bergerak memaknai keindahan dan distorsi, semua seakan terlepas dari kefanaan tubuh, melintasi batas kelaziman dalam gerak tak berujung, berpacu dalam rentang nafas yang saling terpaut.

Kembali sebuah tanya akan pesona misteri kehidupan dilantunkan dalam nada dan gerak, dan jawaban yang entah kapan akan bersahut…

update on photo, 24 Sept 11:38

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: