Kabar Terkini

Brahms, Requiemnya dan Impresionisme


Perenungan seorang bujang di kota Wina akan kematian dan kebangkitan hidup, seorang komposer yang menjadi tonggak musik klasik di masanya dan terkenal dengan janggutnya yang lebat, Johannes Brahms. ‘Ein Deutches Requiem’ atau Sebuah Requiem Jerman adalah salah satu karya besar Brahms baik untuk musik simfonik maupun paduan suara yang telah menjadi repertoar standar yang semenjak jamannya dinilai berbeda dengan kebanyakan pakem requiem, sebuah doa liturgis Katolik bagi mereka yang telah wafat. Berbeda karena menggunakan teks Alkitab berbahasa Jerman yang dipilih secara pribadi oleh Brahms sehingga sering disebut ‘requiem’ Protestan.

Jakarta Simfonia Orchestra dan Reformed Oratorio Society Singapura bekerjasama dengan Medan Oratorio Society, Jakarta Oratorio Society dan Cappella Martialis dibawah pimpinan Billy Kristanto membawakan karya monumental ini dengan tekad.

Sebagai karya di zaman romantik dengan spektrum ekspresi yang luas, seluruh penampil mampu membawakan karya dengan stamina yang tergolong prima dan daya gempur yang tidak setengah-setengah untuk sebuah karya yang panjangnya mencapai satu jam dan terbagi menjadi 7 bagian.

Billy Kristanto sebagai conductor tampil dengan konsep yang cukup jelas untuk requiem yang megah ini, sehingga bentuk dasar arsitekturnya dapat terlihat. Namun tampaknya eksekusi yang didapat baik dari paduan suara dan orkes belum dapat dikatakan optimal. Presisi dan permainan nuansa menjadi kendala bagi orkes untuk mengekspresikan musik yang pernah diyakini sebagai cermin luapan emosi dan hasrat seorang Brahms yang memilih untuk membujang seumur hidupnya. Alhasil seringkali terjadi tarik ulur yang tidak sedikit yang mungkin saja bisa berakibat fatal, namun untungnya musik bisa berjalan dengan cukup lancar sedari awal hingga akhir. Demikian juga dengan paduan suara yang walaupun memiliki range dinamik yang besar, belum mampu menciptakan berbagai suasana dari kegentaran, kekhidmatan hingga manisnya sebuah pengharapan.

Dua orang solois tampil malam ini, salah satunya soprano Suminah Kusuma. Suminah yang tampil di satu nomor, tampil dengan meyakinkan dan ekspresif. Proyeksinya pun juga begitu luas dengan palet warna yang beragam, hanya saja pendekatannya yang berat untuk agaknya kurang sesuai dengan cita rasa musik Jerman romantik kala itu yang sedikit lebih ringan. Jimmy Naga sebagai bariton juga tampil malam itu.

Di babak pertama, Billy Kristanto memilih Overtur William Tell yang membuka acara malam itu dengan gegap gempita. Lalu, program dilanjutkan dengan karya-karya puitik simfonik (Symphonic Poem) impresionistik Prancis yang khas dan populer. Ravel dengan Pavane pour une Infante Défunte, Debussy yang merayakan 150 tahun hari lahirnya di tahun ini dengan karya Clair de Lune dan karya yang menjadi tonggak sejarah musik impresionisme yang begitu kaya dengan warna harmoni dan wholetone scalenya Prelude á l’Après Midi d’un Faune. Dengan permainan yang mencakup spektrum yang begitu kaya, fleksibilitas seringkali menjadi isu yang harus ditangani secara khusus dan nampaknya semalam belum terlalu sukses dikelola.

Namun demikian konser yang bertajuk ‘from Classicism to Impressionism’ ini bisa menjadi satu titik tolak tersendiri dengan pemilihan karya yang begitu menantang dan bisa menjadi pembelajaran tersendiri bagi pendengarnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: