Kabar Terkini

Menggenggam Repertoar Musik Baru


Mengaca dari pertunjukan piano duo Laura Sandee dan Anna von Nieukerken yang membawakan 100% karya musik baru ini di Salihara pekan lalu, didapati bahwa minat pendengar akan musik jenis ini masih sangat rendah. Kehadiran penonton juga masih sangat rendah, padahal dari segi musik, ide dan karya yang dibawakan sudah beraneka ragam, terbagi menjadi dua hari dengan program yang berbeda. Pun pianis yang didatangkan oleh kurator sekaligus komposer Tony Prabowo ini juga mengenal repertoar tersebut dan membawakannya dengan konsep dan kecemerlangan tersendiri (ulasan bisa dilihat di blog pianistaholic). Kalau dilihat dari instrumen, yang agaknya masih menentukan jumlah kehadiran penonton dalam pertunjukan, pegerlaran ini mengetengahkan instrumen piano yang ‘digemari dan dipelajari oleh cukup banyak orang’.

Lantas pertanyaan sekarang, ke mana musik modern ini pergi? Sesungguhnya pertanyaan ini juga ditanyakan oleh berbagai pengamat musik di berbagai belahan dunia. Ke mana interest pemusik dan publik akan musik modern?

Mungkin banyak orang yang berkata, “WOW, musik klasik tampaknya berkembang ya di Indonesia, terutama Jakarta… ” Mungkin ada benarnya, bahwa kecenderungan seperti ini yang sepertinya sering terjadi. Semakin banyaknya sekolah musik bertebaran di Ibukota. Pun kita lihat semakin banyaknya sekolah musik ini juga diimbangi dengan perkembangan peserta didik yang tidak kalah sedikit.

Tapi perkembangan bukan cuma kita lihat dari jumlah peserta didik dan sekolah musik yang berkembang. Pun perkumpulan orkestra juga tidak kalah banyak baik yang bersifat proyek, tetap maupun orkes komunitas. Bisa dibilang semua sedang berkembang dengan cukup pesat, baik dari jumlah peserta didik, pengajar, pemusik maupun institusi ataupun grup musik dan pertunjukan-pertunjukan.

Harus jadi sebuah kesadaran bersama bahwa musik klasik dunia tidak hanya terbatas pada musik yang tercipta hingga tahun 1920 saja, akan tetapi apabila kita melihat seluruh spektrum musik seni, hingga hari ini pun repertoir ataupun karya musik seni pun terus berkembang dan bertambah. Ya, musik baru atau mungkin kita lebih terbiasa dengan istilah musik kontemporer, musik avant-garde.

Musik Indonesia = Musik Baru?
Perlu dicatat bahwa hampir semua musisi asli Indonesia adalah pemusik kontemporer, banyak menciptakan karya pada abad ke-20 dan abad ke-21. Tidak dipungkiri memang masih banyak musisi tradisional yang malang melintang. Namun di dunia musik seni (yang memang berbau Barat), di satu titik kita bisa melihat banyak penggiat bidang musik bergerak di dunia yang dua tapi satu, musik yang tonal maupun atonal, belum lagi diperkaya dengan bebunyian musik tradisional dan musik tradisi dunia. Semua pemusik berusaha menjelajah spektrum musik tersebut, ada yang konsisten di satu sisi, ada yang dengan riang hati berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain. Kesemuanya tidak mengurangi hak mereka sebagai komposer dan musisi yang produktif dan aktif dalam berkarya.

Namun nampaknya kita perlu prihatin dengan output musik seni yang berdiri secara mandiri. Masih sangat sedikit musik ini ditulis di Indonesia, masih sedikit pula musik ini digarap dan ditampilkan di panggung-panggung. Pun banyak publik termasuk kita mudah terbuai oleh musik yang dianggap klasik, yang sebenarnya adalah aransemen baru dari musik-musik negeri yang akrab di telinga pendengar. Musik macam inilah yang akhirnya banyak disajikan, dan malangnya dianggap musik klasik dikarenakan diaransemen untuk alat musik barat yang kental dengan pendekatan orkestrasi, aransemen barat. Lucu? Tapi memang ini keadaannya.

Kun Adnyana, The Order Parlements, mix media on canvas, 2009

Lantas ke mana perginya musik-musik baru? Ya, bisa dikatakan hilang. Beruntung beberapa pagelaran memang masih mengetengahkan sebagian dari program musiknya untuk musik baru bahkan musik baru dari karya anak negeri seperti Simfoni untuk Bangsa beberapa waktu lalu yang cukup berkomitmen untuk mengangkat musik anak negeri. Namun persoalan penjualan tiket dan jangkauan penonton seringkali membatasi keberanian penyelenggara untuk menjelajah musik baru lebih jauh.

Sedangkan banyak pagelaran yang lebih memiliki perhatian pada musik baru hanya berhenti pada pertunjukan antar komunitas komposer, pemain musik dan pendengar tertentu saja yang benar-benar punya kepedulian terhadap musik baru dan kekayaan tradisi, seperti kawan-kawan komunitas komposer di Yogyakarta TeMBI Rumah Budaya dan tentunya Salihara di Jakarta. Patut diacungi jempol, musisi-musisi muda kita yang berani mendedikasikan diri untuk perkembangan musik baru, terus berkarya walaupun dalam lingkungan yang mungkin amat terbatas untuk menggarap dunia suara yang berbeda dari sebelumnya.

Kita semua menyadari bahwa musik baru terus berkembang, musik baru lokal karya anak bangsa dan juga karya musik baru dari luar negeri. Apresiasi kita yang mau menolehkan kepala sedikit untuk melihat apa yang terjadi di khasanah musik dunia, seperti pada pagelaran hari Selasa dan Rabu lalu di Salihara sebenarnya bisa menjadi cermin bagi kita untuk melihat kembali perkembangan musik kita, apresiasi publik dan bagaimana menginternalisasikannya dalam karya kita dan bahkan dalam sistem pendidikan musik yang sudah seharusnya mulai mengintegrasikan musik abad 20 sebagai bagian dari kekayaan perkembangan musik dunia.

Sebenarnya kekayaan ini begitu luar biasa, dan bahkan karya musik baru karya anak bangsa bisa menjadi suatu ciri khas musik seni Indonesia yang kosmopolis yang juga masih berakar pada tradisi dan kearifan lokal. Nah, pertanyaannya sekarang: Siapa yang mau peduli apresiasi dan memperkenalkannya pada khalayak ramai?

Picts:
http://market.mthai.com/pic/jpeg/1067365

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Menggenggam Repertoar Musik Baru

  1. 1) Reading books can help you become more productive with your time. If you’ve nothing to do while waiting for something to happen as you follow your schedule, you better read a book. While waiting for time, you may just read something good from a book. While waiting for the traffic to move, or while going to and fro your destination, you may also read a few pages of a book (it’s a different matter altogether if you’re the one driving – you need to listen then to an audio book, or books in a different format). Or read a book to someone who’s driving and those willing and ready to listen, if that works for you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: