Kabar Terkini

Rusia Dari Kacamata Seorang Gita Bayuratri


Apabila muncul pertanyaan apakah uniknya musik klasik, mungkin melewatkan resital piano di malam yang sejuk yang dipersembahkan oleh Gita Bayuratri adalah sesuatu yang disayangkan.

Tidak mudah untuk dipahami bagaimana karakter dan sifat seseorang bisa mewarnai permainan musik klasik yang menurut khalayak sudah dipatok ruang geraknya. Not sudah tertulis rapi, tempo sudah ditentukan, dinamika pun sudah dijabarkan. Lantas di mana ekspresi dan lebih lagi di mana kekhasan seseorang?

Permainan Gita semalam di Erasmus Huis bisa menjadi titik tolak pembicaraan akan ekspresi musik. Sebagai pianis yang mengenyam pendidikan di Rusia, Gita menjadi segelintir pianis Indonesia yang agaknya cukup paham dengan tradisi dan gaya hidup negara beriklim dingin yang membentang dari daratan Eropa hingga Asia itu. Demikian pula dengan karakter musiknya yang mendarah daging dalam tradisi musik seni Eropa, terutama sejak abad ke-19 yang juga menjadi konsentrasi Gita pada program malam ini.

Namun di sinilah kita mampu melihat karakteristik dari seorang Gita. Musik Rusia selalu identik dengan kesan megah, bulat berisi dan kokoh, tapi di tangannya musik ini mendapat sorotan yang berbeda dari stereotipe yang banyak diyakini mereka yang bahkan cukup akrab dengan musik klasik. Meninggalkan kesan maskulin yang diharapkan pendengar malam itu, Gita mengambil pendekatan unik yang terkesan lebih feminin dalam permainan musiknya. Karya Glinka Nocturne “La Séparation” dan Rachmaninoff Etude de Tableau no.1 dan 3 menunjukkan segalanya. Alih-alih sibuk membentuk tone (warna nada) yang besar dan beresiko keruh, Gita lebih menekankan pada aspek kejernihan dan jalinan alur melodi yang terkesan bebas bernyanyi.

Demikian juga pada karya ‘Sarkasme op.17’ karya Prokofiev yang sarat permainan perkusionistik berdentang dan menekankan penguasaan rentang nada pada papan tuts, Gita mampu mempertontonkan sindiran-sindiran pada musik dalam balutan yang cenderung sopan namun tidak kalah tajam.

Di babak pertama, pada permainan Adagio dari Oboe Concerto Alessandro Marcello dan diaransemen untuk alat musik keyboard oleh J.S. Bach yang membuka konser sudah jelas terlihat karakter permainan Gita yang mencoba mengolah tone dengan teliti sembari mengimbangi pakem gaya permainan historis. Pendekatan macam ini selanjutnya sungguh terlihat pada Sonata Beethoven no.31 op.110. Di sini Gita mencoba untuk tidak terjebak dalam permainan piano bergaya romantic yang penuh ekspresi, mungkin mengingat Romantisisme awal khas Wina di paruh pertama abad 19 yang juga masih kental dengan pengaruh fuga barok yang muncul di bagian akhir Sonata. Namun demikian kecenderungan untuk melimitasi diri ini agaknya juga berpengaruh pada ekspresivitas umum karya ini sehingga di beberapa tempat kehilangan gregetnya.

Walaupun begitu, public di Erasmus malam itu agaknya bisa melihat bahwa permainan piano dan musik khas Romantik Rusia dan perkembangannya tidak melulu berciri besar menggelegar. Dan sangat jelas, sejentik cita rasa seorang Gita Bayuratri bisa mewarnai dan menjelaskan uniknya musik klasik di mata penonton malam itu.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Rusia Dari Kacamata Seorang Gita Bayuratri

  1. Terimakasih saudara Teo untuk ralatnya. Seperti tertera di atas yang benar adalah oboe concerto Marcello dan Rachmaninoff etude tableau no.1 dan no.3. Mohon maaf atas kealpaan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: