Kabar Terkini

Ekspresi Musik Dalam Berbagai Idiom, Musik Kita


Siapa bilang musik baru tidak bisa berekspresi? Musik baru, musik modern, musik avant-garde, musik kontemporer, istilah yang begitu banyak dan seakan mengotak-ngotakkan musik sebagai musik yang mengejutkan dan sulit dinikmati. Namun pagelaran malam itu seakan membongkar itu semua.

Dibuka dengan fokus pada komposer muda Matius Shan Boone. Di tangannya, musik yang seakan terdengar carut-marut itu punya nyawa dan maksudnya tersendiri. Digarap dengan modal refleksi pada keseharian dan kehidupan pribadinya, karya-karya itu berbicara dengan terus terang kepada pendengar. Pujian juga harus disampaikan kepada para pemusik malam itu yang berhasil membawakan karya dengan apik.

Berangkat dari keseharian kehidupan penyanyi yang berkutat dengan pemanasan vokal yang kaya dengan huruf hidup, Matius melalui “Vocalise” mencoba bereksplorasi dengan permainan suara konsonan yang ritmis tak banyak bernada sebagai bentuk lain suara yang sebenarnya sama-sama penting dalam perangkat bernyanyi. Soprano Fidella Graine dan pianis Ade Satrio membawakannya dengan apik.

Starry City Night – Adaptasi dari karya Van Gogh

Berangkat sebagai seorang pianis, karya-karya Shan Boone yang ditampilkan malam ini banyak mengeksplorasi bunyi dari piano sebagai fondasi. “Starry Night” contoh yang menarik, menggarap warna-warna dan denting piano, namun menyorot permainan cello Rahman Noor yang bernuansa gelap yang bertanya jawab dengan biola dari Giovanni Biga yang kesemuanya begitu ekspresif. Akar Matius sebagai seorang Jawa pun terdengar melalui lintasan motif tangga nada Jawa yang sengaja dialter, bercampur dengan tangga nada pentatonis lain yang menggambarkan kekayaan kosmos. Gemerlap dan hingar-bingar kota dengan bermodal dua nada sekon minor tergambar begitu menghimpit dalam “Song of City” hantaman dan lengkingan jiwa tergambar dalam permainan klarinet Nino A. Wijaya yang perlahan hanyut dalam sunyi, entah refleksi dari kesunyian dan penerimaan batin ataupun sunyi mati rasa menyerah akibat himpitan dan kompleksnya kehidupan perkotaan yang menjadi modal Shan Boone.

Jeritan Recitation No.2 yang merupakan refleksi dari karya puisi Subagyo Sastrowardoyo “Adam di Firdaus” memberikan makna lain. Penuh dengan makna maskulinitas yang terkesan menjajah, menggambarkan derik dan hantaman seorang pria dan kesepiannya perhambaan pada nafsu yang begitu keruh pekat. Dramatis, Fatkurrahman A. Karim sebagai narator membacakan puisi dalam samudera suara yang seakan timbul tenggelam. Fidella dan Nino bergantian berjerit dari perspektif feminitas yang berkelahi dengan primodialisme dari perkusi yang dimainkan Thressia dan cello Rahman.

Musik sebagai ekspresi diri, sebagai buah dari keberadaan pribadi sang komposer. Inilah musik yang mencoba dikomunikasikan Dewan Kesenian Jakarta lewat Pekan Komposer Indonesia 2012, sebuah program yang 33 tahun lalu sempat terbilang sukses dan selama 7 tahun terakhir sempat tertidur. Dan kekayaan musik bukanlah eksklusif milik idiom tertentu saja, dan di acara gratis ini semua komposer diajak untuk berdialog dan bertutur tentang karyanya dan juga saling berkolaborasi satu dengan yang lain.

Di bagian kedua konser, giliran komposer Mery Kasiman yang menjadi sorotan di Gedung Kesenian Jakarta malam itu. Berangkat sebagai seorang pianis jazz, Mery menggugah dengan memberikan warna lain yang lebih laidback namun tidak kalah dalam berekspresi. Dalam jazz yang tertulis ala big band, Mery membawa tradisi big band tersebut ke dalam small ensemble, terstruktur dan sistemik namun tetap mengandalkan improvisasi sebagai ekspresi dasar.

Bermain dengan struktur ritme yang cukup kompleks dalam 3 karya diketengahkan Mery dari kumpulan lagu karyanya Glimpses yang mengambil tematik dari keseharian. Mery sendiri menggiring ensemblenya lewat permainan piano, sedang Doni Sundjoyo pada double bass dan Elfa Zulham Syah berperan sebagai penabuh drum. Kali ini klarinetis Eugen Bounty yang menjadi warna yang disorot malam itu. Klarinet sebagai alat musik kayu diajak menghentak dan bersinkop ria membawa arah permainan lewat karya “Fireflies”. “Simplified” agaknya juga menjadi kata judul yang malah berlawanan dengan maksud sang komposer, tertata dalam struktur ritmik yang seakan mengaburkan pandangan karena cukup kompleks namun sungguh lebih sederhana dalam guidance melodi dengan dibubuhi warna permainan musik gesek yang dimainkan Rahman Noor – ironi yang membawa keindahan.

“Time” yang diperdanakan malam itu juga spesial, dibawakan oleh vokalis Meilita Kasiman, membawakan gambar yang deskriptif akan penulisan sebuah lagu. Dengan naskah diambil dari kitab suci, Mery mengemas karya ini sebagai refleksi akan waktu dan bahwa segala hal akan ada musimnya dan tergambar dalam ketenangan dan buaian, dalam progresi akor yang tidak biasa dan mengingatkan pendengar akan eksperimentasi dalam karya-karya teater musikal oleh Stephen Sondheim. Agaknya dari karya ini menjeritkan kepiawaian Mery dalam menjalin lantunan lagu yang mengena namun bertutur dengan lugas.

Persistence of Memory -Dali

Viewing Dali (Persistence of Memory) juga patut dicatat, diperdanakan di acara ini, karya ini mengetengahkan lukisan Salvador Dali, seniman catalan abad-20 yang begitu ternama yang juga merefleksikan tentang waktu-suatu tema besar yang tampaknya menjadi concern bagi Mery secara sadar maupun tidak. Bukan hanya piawai dalam mengolah ritme dalam berimprovisasi yang menjadi sorotan di karya Glimpses, namun juga piawai mengolah rangkaian motif yang terjalin dan saling berkomunikasi antara piano, klarinet dan cello. Penggarapannya yang cenderung menggunakan metode konservatif juga menandakan bahwa Mery paham akan teknik konservatif dan dalam pengembangan counterpoint.

Banyak yang bisa didapat dari acara Dewan Kesenian Jakarta mengetengahkan 6 orang komposer muda Indonesia dalam 3 hari ini. Keenam komposer muda ini agaknya didorong untuk berekspresi melalui idiomnya masing-masing. Dan malam pertama dari 4 hari acara ini, tampaknya berhasil menaruh standar acara ini pada level yang cukup tinggi dan kaya. Mari kita saksikan bersama hingga hari Rabu.

Pekan Komposer Jakarta 25-29 November 2012 GRATIS
Tanggal 25-28 Nov: Lokakarya pukul 17.00 dan ditutup dengan konser pukul 20.00 (Gedung Kesenian Jakarta)
29 Nov: People on Sunday 14:15 (Kineforum, Taman Ismail Marzuki)

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

7 Comments on Ekspresi Musik Dalam Berbagai Idiom, Musik Kita

  1. Tommy Prabowo // 26 November 2012 pukul 10:38 am //

    Terimakasih .. kayaknya ini ulasan pertama yang saya temukan…

  2. Tommy Prabowo // 26 November 2012 pukul 10:52 am //

    er … no more kata “muda” setelah komponis ..

  3. Hmm… Mungkin sudah tertulis demikian, akan tetapi yang muda bukan berarti tidak berkualitas kan? Yang pasti semalam sudah terbukti demikian…🙂
    Saya pun percaya bahwa kekuatan ada pada para pemuda kita, pergerakan ada di tangan mereka. Pun saya masih merasa muda…

  4. Matius Shan Boone // 26 November 2012 pukul 11:29 am //

    Tetap muda selalu hehe.. terima kasih untuk ulasannya.. membuat saya tetap semangat untuk berkarya🙂

  5. Terima kasih🙂

  6. wah..lupa menulis nama.., sekali lagi terima kasih ulasannya Mas🙂

  7. sama-sama the pleasure is mine…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: