Kabar Terkini

Eksplorasi dan Makna: Malam Kedua Pekan Komponis


Penciptaan musik bisa berangkat dari materi yang sedikit namun berbekalkan niat untuk bereksplorasi. Mungkin inilah yang menjadi ciri utama dari musik Soe Tjen Marching, salah satu dari dua komponis yang ditampilkan pada malam kedua Pekan Komponis Indonesia 2012 ini.

Berbeda dengan karya pada malam sebelumnya yang dibangun dengan lebih deskriptif, Soe Tjen menggarap membentuk karyanya atas dasar niat bereksplorasi dan melihat lebih mendalam unsur-unsur musik seperti intonasi, timbre (warna suara) dan lapisannya yang tumpuk-menumpuk. Karyanya “Nun” untuk trio biola, biola alto dan cello seakan berusaha menelanjangi nada-nada yang minimalis yang dikemukakan dimulai dari sebuah ketenangan drone/nada panjang yang seakan diam namun hingga akhir menyiratkan kepedihan yang tidak terucap. Dimainkan oleh Oscar Artunes pada biola, Sagaf Adzkia pada biola alto, dan Jeremia K. Bukit pada cello, trio gesek ini secara lambat dan terukur seakan membelah vibrasi dari setiap unsur nadanya, semakin cepat hingga kulminasi pada nadanya, demikian juga intonasi di sepanjang papan jari hingga eksplorasi harmonik dalam sunyi. Dengan durasi karya yang cukup panjang, pergerakan jadi seakan nihil dan gradasi yang hanya dapat ditangkap dalam pergerakan pun seakan berhenti, unik tapi cukup menguras perhatian penonton malam itu.

Duet pianis Angelica Liviana dan Lia R. Damanik pada “Angen” kemudian menuturkan ide Soe Tjen akan nada alat musik piano yang sebenarnya adalah alat musik perkusi. Berbekal nada Es, seluruh karya digubah berdasarkan repetisi cepat nada ini dalam warna yang berbeda-beda, dinamika yang cenderung ekstrim yang teramat menantang bagi kontrol permainan dua orang pianis ini. Nada-nada lain juga bermunculan seakan menjadi implikasi dari nada dasar ini, muncul untuk beberapa saat, menghilang dan kembali ke nada Es dan terus demikian berulang-ulang seakan terlupa tapi teringat kembali.

Karya terakhir yang disajikan adalah Alexander yang dimainkan oleh trio M. Januar Affandi Dhukhawan pada biola, Ade Sinata pada cello dan Angelica Liviana pada piano. Ditujukan bagi Alex Aan, seorang atheis yang dihukum atas dasar keatheisannya tersebut di awal tahun ini, Soe Tjen mengutarakan ratapan kesedihan yang bersahutan akan kondisi ‘minoritas’ Alex yang membuatnya tersudut bahkan bersalah di mata hukum. Berbeda, ratapan ini bukan berhenti pada kesedihan namun pada sebuah kegerakan yang dinamis seakan berlari sebagai sebuah bentuk amarah dan perlawanan.

Beda Soe Tjen Marching, beda pula Michael Asmara yang mengambil tempat di babak kedua. Michael Asmara memberikan cara lain dalam memandang musik dalam keragaman karya yang ia ketengahkan di hadapan penonton malam itu.

Sebagai komposer yang sudah cukup lama malang melintang di ranah musik baru, terlihat cukup jelas karakter yang cukup berbeda dalam karya-karyanya. Sebuah quartet dengan eksplorasi pada flute yang dimainkan Andika Candra juga cukup menarik, mengangkat dialog dengan piano, biola dan cello, kesemuanya berbalut bersama, bukan untuk melebur namun untuk bergerak dalam dirinya sendiri membentuk ikatan yang menawan. Terinspirasi dari gender Jawa sebagai rangka Michael Asmara mencoba merekonstruksinya pada “Duo” dengan eksplorasi pada bunyi biola dan piano. Ketenangan gender memang terciri jelas lewat kelembutan karya ini, namun biola bernyanyi acak sesekali dengan suara yang lembut parau seakan membaliknya dari kejernihan gender tradisional yang sudah membekas di telinga pendengar. Karya solo cello “Dream after Dreaming” yang dimainkan Ade Sinata, pendengar juga diajak berputar-putar dalam rumitnya permainan teknik. Terkesan sekali, kerumitan itu perlu untuk mengungkapkan hal yang sederhana.

Permainan piano Liviana pada 3 Short Pieces no.2, no.5 dan no.X juga berangkat dari minimalisme yang garis sederhana. Nomor 5 sedikit berbeda dengan kekayaan bunyi kord yang ditampilkan dengan keberanian menyalak perkusif pada piano yang meskipun bukan akor trinada dasar murni, agaknya melegakan bagi penonton yang semalaman digempur dengan atonalitas dan disonan menjadikan karya ini yang sengaja diletakkan di tengah sebagai pivot point. Nomor X pun Michael melalui permainan Liviana menghembuskan rangkaian melodius sembari menawarkan bayang-bayang harmoni yang seakan tetap dijaga berjarak dengan melodinya seakan berasal dari ruang yang berbeda.

Dua buah Kuartet Gesek “Fantasia” dan “Kuartet no.7” yang ditulis belasan tahun lalu namun keduanya baru diperdanakan di Indonesia, bahkan salah satunya, “Fantasia” baru pertama kali ini diperdengarkan di depan khalayak. Dengan digawangi Artunes, Bagus Retoridka pada biola, Sagaf Adkia pada viola dan Jeremia pada cello, sang komponis yang bermukim di Yogya ini mengaku bahwa karyanya ini masih merupakan eksperimentasinya terhadap teknik serial.  Namun istimewanya dalam ekperimentasi dan proses belajarnya, karya ini menyajikan pergerakan yang luar biasa, permainan pergeseran tempi atas motif, menjadikan karya-karya ini sedemikian hidup dengan dialog yang tak kunjung henti antar instrumen. Tingkat kesulitan yang tinggi berhasil ditangani oleh kuartet ini dengan akurat. Kualitas permainan dan warna yang terkesan mentereng dengan ketegangan yang terjaga di segala momen bahkan dalam kesunyian menandakan struktur yang cukup kuat dengan permainan yang membius. Kuartet ini pulalah yang menutup konser malam itu.

Ya, penonton musik baru harus siap untuk disegarkan sekaligus pulang dengan tanya menggema di kepala. Kedua komponis malam ini telah menyajikan keduanya di Gedung Kesenian Jakarta, musik yang menyegarkan dan berujung pada rasa puas. Lain daripada itu, juga muncul sebuah tanya, “Sejauh manakah eksplorasi itu? Seberapa patut dan perlu? Lalu mau dibawa ke mana?” Akhirnya, adalah pekerjaan rumah bagi penonton untuk memaknai esensi lewat bisik batin malam ini….

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Eksplorasi dan Makna: Malam Kedua Pekan Komponis

  1. Tommy Prabowo // 27 November 2012 pukul 10:02 am //

    netes nih airmata.

  2. Semoga karena indah ya mas, bukan kelilipan… 🙂

  3. Michael Asmara // 1 Desember 2012 pukul 9:40 pm //

    Wuaduhh….makasih mas atas ulasannya….

  4. Mas As, terimakasih atas musiknya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: