Kabar Terkini

Mengenal Ruang dan Sekitar, Malam Ketiga


Memasuki hari ketiga dari rangkaian Pekan Komponis Indonesia, sekali lagi penonton di Gedung Kesenian Jakarta diajak untuk memandang musik dengan dimensi yang cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya. Adalah Chozin Mukti dan Andreas Arianto yang mendapat kesempatannya malam ini dan mengemukakan ide musikalnya yang berbeda namun menggunakan konsep yang agaknya memiliki kesamaan satu dengan yang lain.

Babak pertama, flutis Andika Candra, cellist Jeremia Bukit dan pianis Lia Damanik, mengangkat tema “Rungon-Rungon” yang berarti sambil lalu terdengar. Sebagai musik tradisional tanah Jawa, rungon-rungon umumnya untuk didengarkan dengan santai dan sederhana dengan instrumen yang minim seperti seruling dan sitar.

Di tangan Chozin, piano menggantikan peran sitar yang sekali dipetik, sekali-kali dimainkan dengan konvensional memberikan peran benang merah yang menjadi fondasi musik. Candra menimpali dengan kalimat-kalimat yang perlahan berubah menyalak-nyalak sejalan dengan berkembangnya karya menuju akhir. Bentuknya secara jelas mengungkapkan rangka yang berakar dari tanah Jawa, tempat musik ini berkembang.

Chozin yang enggan menuliskan pengantar musiknya demi sebuah pengalaman mendengarkan yang mengejutkan, kemudian beranjak pada karya kuartet geseknya dengan judul “Cunang-cuning”. Penulis ketika membaca tajuk ini sudah mengira bahwa kata ini adalah plesetan dari tuning/stem nada yang di mulut banyak orang Indonesia dibaca cuning. Karya pun dimulai dengan beranjaknya Oscar Artunes ke depan piano untuk mengambil nada, mulailah keriuhan instrumen gesek mencoba menala alat musik masing-masing lewat peg ataupun fine tuner. Pergeseran nada masing-masing biola Bagus Retoridka, Oscar, Sagaf Adzkia pada biola alto dan Jeremia pada cello dengan munculnya nada panjang bagai drone yang terus bergerak yang timbul dan tenggelam serta berpindah instrumen. Yang menarik dari karya ini bukan saja pada pergeseran mikrotonal (geser sedikit demi sedikit frekuensi nada) namun keberaniannya untuk menggoda konsep resolusi yang sepertinya ada terjadi namun tidak pernah sampai hingga muncul lecutan kuat di penghujung karya. Sesekali spicatto cello terkekeh sembari merekatkan karya ini menjadi satu.

“Halusinasi” adalah karya Chozin yang menantang konsep ruang dan improvisasi digawangi Chozin sendiri pada siter dan kemong, soprano Devie Liana, flutis Candra, biolis Oscar, Sagaf dan Dwipa Pratala pada cello duduk berjajar bersila di panggung bersama Firly Fauzia dengan kethuk di tangan dan suara yang siap nembang. Musik pun sarat dengan improvisasi, dengan kontrol banyak pada Chozin dan Candra, suara yang minimal dan cenderung berulang serta berbayang suara Devie dan Firly yang terbang seakan melingkupi panggung dengan nuansa mistis yang secara teatrikal dibawakan langsung ke jajaran bangku penonton. Tangis terdengar dari beberapa sisi ruangan dari antara penonton. “Keluar!” teriakan dari bangku penonton, mengusir pemusik satu persatu dari panggung, mengingatkan penulis pada Symphony no.45 Haydn yang juga ditinggal satu per satu tapi tanpa usiran.

“Racetha” yang menutup babak pertama adalah karya Chozin untuk alat musik unik: garu dan keluarga yang diolah dari bajak sawah yang diberi senar dan digesek dan dipukul yang suaranya diamplifikasi. Piano yang dimainkan Devie sembari bernyanyi di sini mengambil laras tradisi seakan menekankan aspek tradisi yang agaknya ditembus lewat alat musik seukurang bajak sawah yang berdiri melintang di atas panggung.

Di babak kedua, Andreas Arianto muncul dengan satu karyanya berjudul “Takut?” dengan durasi hampir satu jam. Dengan idiom dan gaya tutur yang berbeda, Andreas mencoba mengetengahkan warna yang lain lagi. Mengetengahkan tema utama dalam bentuk lagu layaknya karya musik popular, seakan mengejutkan bagi banyak penonton seperti juga pada pagelaran Mery Kasiman di hari Minggu yang lalu.

Andreas sendiri di panggung bersama dengan Aria Prayogi dan Iswara Giovani dengan musik elektroniknya, Gihon Lohanda dan Zoltan Renaldi pada gitar dan bas elektrik, Tobias Ringga pada perkusi, Rachman Noor pada cello dan vokalis Narendra Pawaka. Dan dengan bersenjatakan akordeon dan speaker 5.1 di seantero ruang teater GKJ, Andreas mencoba memanipulasi ruang dengan musik elektronik yang digarap di atas panggung lewat Mac workstation yang parkir di kanan panggung.

Di antara lagu yang beraroma progresif dengan eksploitasi birama ganjil, Andreas seakan berusaha merajut satu lagu dan tema ini menjadi satu dengan permainan musik elektronik yang mengolah jam berdetak, berpadu dengan jantung yang berdegup semakin cepat yang kesemuanya coba dieksekusi langsung oleh pemain di atas panggung dengan teknik elektroakustik live dengan suara yang tersebar dan menyahut di seantero ruangan. Beberapa kalipun dengung dan kekayaan suara membawa imajinasi penonton melayang. Permainan tata cahaya pun menjadi satu stimulus teatrikal tersendiri dalam membentuk suasana karya yang digarap oleh Boy Marpaung.

Lenguhan dan buaian Narendra berkali membawa penonton terlena, sedang ritme gitar penuh membahana, sesekali akordeon Andreas yang menjadi penjalin yang menjahit karya menjadi satu. Namun di beberapa tempat, karya ini terkesan bagaikan revue satu penampil dengan konsentrasi penuh pada penuturan lagu yang cukup panjang mengaburkan batas musik industri populer dengan musik eksperimentasi modern. Seakan bermain banyak di wilayah abu-abu, Andreas menambah ambiguitas ini dengan teks lagu yang juga agaknya tidak mudah untuk ditangkap telinga telanjang. Namun agaknya karya Andreas ini adalah satu-satunya contoh musik yang digarap secara elektronik di sepanjang acara Pekan Komponis Indonesia tahun ini.

Tiga malam sudah lewat bersama 6 komponis Indonesia, melihat karakteristik masing-masing komponis dalam karya-karyanya. Bagaikan sebuah pistol revolver yang sudah penuh terisi 6 peluru, kini kita menunggu hari di mana keenam peluru ini akan dibidikkan pada secuplik film “People on Sunday” di mana keenam komponis ini diajak untuk menuliskan musik untuk satu cuplikan yang sama dari film bisu ini. Bagaimana jadinya di tangan masing-masing komponis ini? Mari kita saksikan esok hari di GKJ.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Mengenal Ruang dan Sekitar, Malam Ketiga

  1. Tommy Prabowo // 28 November 2012 pukul 2:05 pm //

    Deg degan … saya mau dong ditembak sama enam peluru … enam-enamnya di kepala juga gpp. Saya tidak akan berkedip …*ngahokbentar*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: