Kabar Terkini

Satu Film Bisu, 6 Interpretasi Komponis


Film bisu dan musik mungkin adalah barang baru bagi kebanyakan komponis Indonesia, sebuah bentuk seni yang baru namun sebenarnya sudah sedemikian lama dan bahkan sempat mati. Namun tantangan inilah yang ingin dibawa oleh Dewan Kesenian Jakarta ke hadapan enam komponis yang dalam 3 hari sebelumnya telah mempresentasikan karya mereka masing-masing dalam Pekan Komponis Indonesia 2012 di Gedung Kesenian Jakarta. Rabu itu, bentuk seni yang saat ini banyak dihidupkan kembali di berbagai panggung dunia dan nampaknya belum pernah menyentuh Indonesia, diberikan aksesnya, mengingat film bisu sekalipun ada di masa kolonial belum mendarah daging di koloni Hindia Belanda ini.

Adalah “People on Sunday” sebuah film bisu Jerman yang dirilis tahun 1930. Secuplik film sepanjang 15 menit di ambil daripadanya dan cuplikan yang sama ini diberikan kepada keenam komponis sebagai rangsangan untuk menulis musik untuk film bisu ini. Lantas dalam pagelaran hari ini, cuplikan itu diputar di hadapan audiens sembari mendengarkan musik yang diciptakan berdasarkan cuplikan film ini. Di sini, seluruh penonton bisa menyaksikan bagaimana persepsi seorang komposer akan musik film bisu dan persepsinya akan film itu sendiri.

Mery Kasiman menjadi yang pertama maju mengetengahkan musiknya di hadapan penonton. Menyerap ide akan hari Minggu yang cerah, santai dan menyenangkan, musik Mery diisi dengan waltz dan swing birama perempatan dengan suasana melodius sepanjang karya seakan penonton dibawa kembali ke awal abad 20 Eropa. Lagi-lagi klarinet menyanyi dengan lepasnya, Mery sendiri bermain piano dan ensemble dengan perkusi cello dan contrabas dipimpin oleh Indra Perkasa yang berhadapan langsung dengan film dan mengatur seluruh titik masuk. Mery sendiri memberikan perhatian khusus pada pergantian scene dan dengan cara ini dia membentuk setiap suasana dengan berbagai gaya dan irama. Di tangannya cuplikan terasa begitu terang dan menyenangkan sedari scene kota hingga scene bermain dan piknik di pantai. Semua terasa bak hari Minggu yang diidamkan semua orang, dengan suasana yang begitu indah.

Lain Mery, lain lagi Matius Shan Boone. Kali ini dia memimpin sendiri ensemblenya menyamping dengan layar dan seluruh pemainnya bisa bersisian dengan layar. Di tangannya, Matius bergerak dengan dinamikanya sendiri dengan tutur yang natural baginya. Memperhatikan pergerakan scene dengan cukup baik, dan beberapa event dalam cerita, Matius mengembangkan karya ini dengan diwarnai disonan dan percakapan violin dengan cello yang cukup intens, mewakili karakter pria dan wanita di sana. Cukup menarik bahwa, Matius menggarapnya dengan interpolasi dan pengembangannya dari sebuah tema dan leitmotiv terdengar cukup jelas menggambarkan efek-efek penting dan berinteraksi dengan film. Di tangannya cuplikan yang sama berubah menjadi kisah di hari Minggu yang mendung dan retrospektif, tapi mengena dengan kisahnya.

Berikutnya giliran Chozin yang maju dengan ensemblenya. Dengan biola, piano, cello dan soprano yang hampir seluruhnya menghadap layar, Chozin menggerakkan karya lewat piano yang berdentang bagai saron yang tidak pernah sungguh terputus. Gaya bertuturnya sebagai seorang Jawa muncul berkali-kali dalam laras imitasi pelog, sedangkan flute berkonsentrasi pada aspek atmosferis dan kaya celoteh alam seperti kicau burung yang bersahut. Beberapa kali cello dan soprano mempersonifikasi tokoh. Karya ini Chozin nampak memposisikan wanita dalam cuplikan sebagai pihak yang lemah akibat penyusunan klimaktik musik pada adegan penamparan sang pria yang diposisikan lewat musik menjadi pihak penindas. Suasana yang tercipta agaknya juga lain daripada dua sebelumnya, di sini musik seakan secara simbolik mengesankan “jarak” namun tetap mempertahankan kemampuannya berkisah dengan akhir yang menggantung seperti akhir dari musiknya.

People on Sunday

Dimulai dengan recorded ambience dari sebuah kota, masuknya duet instrumen biola dan cello dalam karya Michael Asmara yang menandakan kehadiran manusia dalam scene sebagai titik awal kisah dalam cuplikan ini. Kedua pemain bermain berinteraksi satu dengan yang lain dengan sangat apik, keduanya seakan bernafas jadi satu dalam pergeseran nada. Karya ini sendiri terbagi menjadi 5 bagian dengan 4 bagian berfokus pada instrumen. Adanya kegerakan musik tersendiri menjadikannya sebagai karya independen yang bisa berdiri sendiri dengan pesannya yang cukup jelas pada para penonton. Mungkin pesan itulah yang diolah sang komponis berdasarkan cuplikan film ini secara utuh bahwa manusia adalah manusia yang berkelebat dengan dirinya sendiri.

Soe Tjen Marching lain lagi. Ia juga menggunakan idiom musiknya sendiri dalam karya ini. Lewat laju ekpresi dan eksploitasi pewarnaan suara/tone, Soe Tjen menggerakkan karya ini di sepanjang pementasan secara mikroskopis. Pendekatannya yang cenderung minimalis dan bergerak lambat ini memberikan nuansa berbeda. Tidak ada kesan ekstravagan di dalamnya. Pergerakan film pun sungguh terasa lambat dimulai dari kesunyian namun terus bertumbuh hingga titik kulminasi yang berkorespondensi dengan adegan walaupun tidak secara langsung. Kompleksitas pun muncul ketika lapisan demi lapisan nada bertambah seakan menambah nada dan keramaian. Mungkin di beberapa tempat sempat terdengar bahwa Soe Tjen merancang beberapa titik untuk pindah namun agaknya terlambat dari segi eksekusi.

Sebagai penampil terakhir, agaknya seluruh penonton dikembalikan ke perspektif semula akan hari Minggu yang menyenangkan. Berbalut ragtime 2/4 sebagai rangka ritme dasar, musik Andreas Arianto ini mengadopsi gaya musik yang memang melekat di banyak orang akan film bisu hitam-putih di Amerika Serikat di tahun 1900-1920. Dengan kelompoknya, Andreas cukup cerdik untuk memposisikan film ini sebagai celoteh yang humoris yang mudah ditangkap oleh penonton. Gitar elektrik ia tempatkan langsung menghadap layar dan merespon setiap adegan dan event, entah dialog pria dan wanita, daun-daun dan grasak-gruruk hingga sekedar angle-angle dasar. Apabila dilihat dari sisi detail kejadian, musik Andreas berhasil menggarap semuanya. Tempo ragtimenya pun ia buat fleksibel dengan nuansa setiap scene dan terus terjaga sebagai nadi dan berkesan cukup aksesibel dengan nyanyian melodi cello dan akordeon.

Konser pun ditutup dengan sangat elegan yang mengantar penonton pulang ke rumah sembari berpikir akan interpretasi film seperti apa yang sebenarnya ingin diraih. Alhasil program menutup seluruh rangkaian konser Pekan Komponis Indonesia 2012, sebuah kesempatan yang bagus buat pembelajaran semua, baik publik maupun para komponis sendiri. Semoga acara ini bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang…

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

7 Comments on Satu Film Bisu, 6 Interpretasi Komponis

  1. Menurut diskusi dengan komponis Chozin Mukti, beliau sarat memasukkan unsur Sunda di dalamnya… Menarik!

  2. Mike, mau lihat jg dong ulasan tmn2, ada di mana aja ya?

  3. well bos, ini tugas yang dikumpulin murid-murid… ini pun belum semua ngumpulin nih…🙂

  4. Yang kakak tangkep sama yang saya tangkep beda banget kak. Catatan saya di HP sepanjang konser lebih teknis daripada tentang kesan saya sih, tapi… Ternyata subjektif banget kalo ngebahas impresi. Tadinya pengen cari inspirasi biar besok nulis laporan lancar, tapi malah makin bingung dan canggung nulis kesan sendiri di laporan… Oh well😦

  5. Well rene, kuping masing2 org beda banget… Pun lo termasuk org yg diberkahi absolute pitch, so apa yg gw tangkap pastinya beda dengan lo… Nanti kalo lo liat tulisan adit nanti pasti beda lagi, belom lagi gaya penulisan masing-masing orang… So itulah serunya jurnalisme musik, kita bertukar ide dan perspektif…

  6. Berhubung kemarin perintahnya “ulasan” dan bukan tulisan jurnalisme, gua gak berani ah neko2 kak haha. Agak membatasi diri ke guidelines dari Bu Ratna aja, jadi akhirnya analisanya lebih teknis daripada gua nyampein pendapat pribadi gua. Malu kak hahaha

  7. thanks ya Mike🙂 really appreciate it🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: