Kabar Terkini

Soshi Koyama, Kehalusan Sebuah Permainan Piano


Soshi on the Stage

Tidak semua pianis memiliki sentuhan ajaib, tidak semua pianis mampu menggarap nada dengan kecermatan tone yang luar biasa pun tereksekusi dengan bersih, sigap dan lincah. Inilah yang publik saksikan dalam konser Soshi Koyama di Gedung konser baru Soehanna Hall, Energy Building SCBD Jakarta.

Konser malam itu adalah kali pertama penulis menginjakkan kaki di dalam hall dengan kapasitas 375 orang tersebut. Sebuah ruang auditorium yang tergolong menarik dan modern, dengan panel kayu di sekeliling dan diperlengkapi dengan piano berkualitas asal Italia yang diproduksi hanya 100 buah per tahun dengan banyak detail dan pembuatan menggunakan kerajinan tenaga manusia, Fazioli.

Sebagai pemenang kategori senior kompetisi piano internasional Indonesia Pusaka 2011, Soshi Koyama muncul sebagai pianis dengan kelincahan dan detail teknik yang tinggi. Pun pewarnaannya begitu beraneka dengan eksekusi yang terkesan ringan, tanpa beban dan sedemikian mudah. Berbagai nuansa dalam sentuhan yang sangat lembut dapat ia buat dengan sedemikian teliti dan dapat disaksikan pada karya Michio Mamiya “Lullaby of Hikage-dori” yang kemudian ia lanjutkan dengan paripurna lewat French Suite No.5 J.S. Bach BWV 816. Dalam karya ini permainannya begitu jernih, dengan permainan pedal sustain yang sedemikian tertakar untuk memperbesar volume dan menyambung nada. Kalimatnya pun terdengar begitu natural keluar dari permainan tangannya didukung oleh respon jernih pada frekuensi tinggi dari ruangan hall itu.

Mungkin sedikit masukan bagi pengelola gedung, perlunya rekayasa khusus untuk pendingin ruangan yang agaknya menderu cukup keras untuk sebuah pergelaran solo piano sehingga beberapa kali mengganggu permainan yang paling subtil. Demikian juga range tengah yang agaknya terlibas penggunaan karpet yang cukup tebal. Namun reflektor di langit2 sungguh menjalankan fungsinya dengan baik.

Suasana yang subliminal kali ini muncul dalam Sonata no.29 op.101 karya Beethoven. Semuanya terkesan begitu introspektif di tangan Soshi, namun tetap tergarap dengan kontras yang berenergi dengan timing eksekusi yang tepat dan musikal. Attacka terdengar meyakinkan dipadu dengan kepiawaiannya menjalin kelembutan, demikian juga dengan kefasihannya menggalang fuga dan tema-temanya dengan ketegasan berkarakter menjadikannya eksekusi yang dewasa, mendalam namun tidak ekspresif berlebihan.

Memasuki babak kedua, Grieg dengan Peer Gynt Suite op.46 yang diketengahkan. Dengan ciri permainannya yang cenderung dengan sentuhan dan volume kecil namun dengan kontrol gradasi yang luar biasa, memberikan kesan lain dari Peer Gynt Suite op.46 yang diambil dari musik insidentil untuk drama panggung dengan judul yang sama yang awalnya diciptakan untuk orkestra lengkap yang umumnya bersuara tebal, dramatis dan cenderung berat. Namun demikian, perbedaan ini menjadi sebuah pandangan tersendiri yang tidak kalah menarik akan musik ini.

Sajian berikutnya adalah Java Suite part II karya L. Godowsky yang menjadi refleksinya akan kedatangannya ke Hindia Belanda khususnya pulau Jawa di awal abad ke-20 kemarin. Refleksinya tertuang dalam karya piano yang berkisah tentang ramainya monyet di Danau Wendil, cahaya purnama di Borobudur dan subuh di Gunung Bromo. Di tangan Soshi, Godowsky pun tercermin sebagai pribadi yang bereksperimentasi dengan impresionisme dan keajaiban musik gamelan. Patut dicatat bahwa teknik relaksasi yang dicetuskan Godowsky seakan menyatu benar dengan teknik permainan dari pianis muda Jepang ini.

Persembahan berikutnya adalah karya Jaya Suprana “Uro-Uro” yang menggunakan idiom Jawa tengah. Menarik di sini bahwa Soshi terlihat sebagai pianis yang metodologis dengan approach teknik yang sedemikian terukur dan pengaturan pergerakan yang sedemikian detail. Bagi banyak orang Jawa, mungkin mendapati inklinasi touch dan slurnya di beberapa tempat tidak terkesan Jawa, namun itulah yang menjadi kekayaan dari interpretasi sebuah musik, bahwa musik yang menggunakan pendekatan laras pelog pun bisa semakin diperkaya lewat interpretasi mereka yang bukan orang Jawa.

Sebagai penutup Soshi mencoba mengangkat karya Waltz dari Faust ciptaan Gounod yang ditranskripsikan sebagai Concert Paraphrase oleh Franz Liszt yang mempertunjukkan presisi dan intensitas dari pianis ini. Sambutan meriah pun membahana di auditorium tersebut membawa Soshi masuk kembali untuk membawakan dua buah encore. Sebuah sajian yang menarik, dan agaknya tidak sabar untuk melihat perkembangan lebih lanjut dari pianis belia ini…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: