Kabar Terkini

Jati Diri Seorang Sang Kuriang


Beberapa tahun terakhir ini memang menjadi suatu momen tersendiri bagi perkembangan teater musikal di Indonesia, khususnya Jakarta. Semakin banyaknya insan-insan musik dan teater yang semakin getol terjun dalam lingkup seni yang tergolong segar memikat namun tetap memiliki skala keseriusan dan seni penggarapan yang tidak main-main.

Merayakan 50 tahun berdirinya Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, mereka kembali ke panggung dengan mengusung identitas diri mereka dalam premier drama musikal Sang Kuriang, sebuah kisah cinta berbuah tragedi dari tanah Sunda dan diangkat langsung dari teks Utuy Tatang Sontani, seorang pujangga dan penulis naskah Indonesia di masa-masa awal paska-kemerdekaan.

Mengangkat kisah Oedipus complex Sangkuriang, seorang anak yang mengasihi ibunya dan bersikeras ingin memperistrinya, Sang Kuriang di tangan Utuy yang wafat 1979 di Moskow menjadi sarat akan metafora. Pencarian jati diri dan keangkuhan menjadi titik nadi seluruh pagelaran ini. Keengganan untuk mengakui kebenaran dan berpegang teguh hanya pada keyakinannya sendiri akhirnya menjadi pembawa mudarat bagi mereka yang berada di sekelilingnya.

Sebagai karya seorang penulis yang aktif di Lekra di tahun 1960-an, karya ini sempat dilarang dan mati suri karena dianggap sebagai karya antek PKI dan adalah sebuah prestasi tersendiri bagi penyelenggara untuk mampu melihat makna artistik di balik cap dam embel-embel politis yang ada. Utuy pun dalam karya ini mengangkat dan menggeser kisah Sangkuriang turun dari kisah para raja, menjadi kisah rakyat jelata. Kata “Sangkuriang” pun dipisahnya menjadi “Sang Kuriang” untuk menekankan makna titisan dewa dan berpusat pada egosentrisitas Sang Kuriang. Di tangan Utuy yang proletariat, masyarakat desa memegang peranan yang luar biasa sebagai gelombang pengubah sejarah dan menjadi aktor yang membakar pepohonan di Timur dan akhirnya menipu Sang Kuriang yang sedang membangun telaga dan perahu bahwa hari kadung siang dan ia terlambat melaksanakan tantangan yang diberikan Dayang Sumbi.

Farman dan Sita – Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Sutradara Wawan Sofyan mengemas karya drama yang populer bahkan di kalangan penggiat teater di sekolah menengah di tahun 1950an, ini dengan style minimalis sembari juga didukung dengan bahasa yang sama akan penataan panggung oleh Sunaryo. Interpretasi pun cukup hidup walau di beberapa tempat tampak celah makna dari akting pemain utama sore itu, Gabriel Harvianto dan Christine Tambunan. Namun dari segi vokal keduanya tampak prima dan menguasai peran mereka, mengingat mereka berbagi peran bersama Farman Purnama dan Sita Nursanti sebagai Sang Kuriang dan Dayang Sumbi di malam pembuka. Suasana sendu dan tawar hati sudah nampak di saat pertama ketika panggung didominasi warna putih berpadu dengan warna salem metalik dan gelap kecoklatan dari kostum pemain yang didesain oleh Deden Siswanto.

Namun memang menjadi tantangan tersendiri bagi komponis Dian HP untuk mengemas libretto dari Utuy dalam komposisi musik. Libretto/naskah Utuy yang diperuntukkan untuk panggung sesungguhnya sangat kuat. Penguasaannya akan bahasa dan metafora menjadikan naskahnya sebagai karya sastra murni dengan daya pikatnya sendiri. Dengan sentuhan musik tanah pasundan dan kemasan pop, Dian HP berhasil membawa nuansa tradisional lewat korps Jakarta Concert Orchestra di bawah arahan Avip Priatna yang solid. Dian HP pun memberi peran lebih pada ensemble dan paduan suara mahasiswa sebagai karakter rakyat jelata dan dedemit yang membantu Sang Kuriang. Namun sebagai sebuah naskah drama konvensional yang ditulis sekitar dari 50 tahun lalu, Utuy dengan kepiawaiannya mengemas kata dengan begitu kuat sehingga sering terasa berbaku hantam dengan sisi emosi yang juga berpotensi kuat dari musik Dian HP, sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan memang sulit untuk tergapai sempurna. Alhasil, tensi pertunjukan sedemikian tinggi selama 100 menit lebih terlebih dengan usaha untuk menyecap kekayaan bahasa dari Utuy.

Sang Kuriang, drama musikal ini menjadi sebuah pencapaian tersendiri dan gebrakan di ranah paduan suara mahasiswa, bahkan dalam ranah paduan suara Indonesia pada umumnya. Sebuah inisiatif untuk mengembangkan budaya sendiri dalam bentuk teatrikal dengan kualitas adalah sebuah terobosan bagi dunia perpaduansuaraan di Indonesia. Dan tentunya layak bahwa acara ini menjadi salah satu bagian dari khasanah penting dunia sastra, musik dan teater di Indonesia.

~Penulis menonton pertunjukan matinee Sabtu sore

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: