Kabar Terkini

Segenap Hati Menyambut Musim Semi


SpringConcertMusim semi adalah musim yang ditunggu-tunggu di banyak negeri empat musim, sebagai sebuah awal baru dan berakhirnya kelam dan dingin musim dingin. Namun di tengah musim penghujan di Jakarta ini tidak menutup kemungkinan Jakarta Simfonia Orchestra untuk menggali semerbak melalui konser bertajuk Spring Concert.

Konser malam ini dibuka dengan Prelude dan Marzurka dari ballet Coppelia karya Leo Delibes yang menyegarkan bersama konduktor Rebecca Tong yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan musiknya di Cincinnati, AS. Lalu kemudian dilanjutkan dengan Concerto untuk Dua Piano dan Orkestra dalam D minor karya Francis Poulenc, kali ini dengan duo pianis suami istri Jessie Chang – Jahja Ling. Karya ini sendiri memiliki makna yang cukup mendalam dan sungguh mencerminkan eksperimen yang dilakukan Poulenc untuk menemukan warna komposisinya sendiri yang unik. Concerto Dua Piano Mozart pun tergambar sebagai acuan dasar klasik karya yang semakin unik karena berbalut kental suara gamelan Bali yang menginspirasinya. Struktur ritmis gamelan pentatonis yang hening juga kompleks bersahut dengan fondasi musik diatonis Barat yang ekspresif dan terus bergerak, menjadikannya musik indah yang seakan setiap unsur-unsurnya saling kontradiktif.

Duo Jessie Chang dan Jahja Ling bekerja sama dengan sangat apik, sembari digawangi Rebecca Tong. Percakapan pun terasa sungguh mengalir dalam karya ini, terutama dalam permainan duo piano yang seakan tidak lepas satu dari yang lain. Permainan Jessie Chang yang terkesan berani dan penuh warna berpadu dengan ketenangan permainan Jahja Ling. Di sisi lain, Rebecca Tong berhasil menggerakkan pemain dengan gerakan minimal dan jelas, sehingga semua pemain seakan berbaris rapi mendukung permainan dua piano. Sisi artifisial dari karya ini pun berhasil disampaikan, dengan makna yang seakan hanya bergerak di permukaan, tanpa harus terjun dalam ekspresivitas romantis yang berlebih namun kaya dengan unsur-unsur ketimuran yang memberi ruang bernafas bagi dunia musik modern di tahun 1930an.

JahjaPianoWebDi bagian kedua, pianis Jahja Ling pun bertransformasi menjadi konduktor yang memimpin Symphony no.8 dalam G Mayor karya Antonin Dvořák. Sebagai sajian utama, karya 4 bagian ini memang menjadi nuansa musim semi konser Sabtu malam itu. Semerbak musim semi yang bergairah dan lincah pun tercipta lewat lantunan melodius yang indah yang berpadu dalam kesenduan.

Sungguh berbeda dengan karya konserto di bagian pertama, karya ini malah menuntut para pemain untuk sungguh menyelami setiap rasa yang ada. Memang sempat terkesan di bagian pertama Allegro con brio bahwa pemain sempat sedikit kaget dengan kharisma konduktor yang saat ini bertugas sebagai Direktur Musik San Diego Symphony Orchestra. Namun perlahan namun pasti, penasihat artistik Jakarta Simfonia Orchestra ini secara ajaib dan penuh wibawa menggiring para pemain untuk masuk dalam kolam romantisme dan perasaan yang tumpah ruah terlebih di bagian kedua karya yang ditulis komponis asal Ceko yang dikenal dengan kemampuannya menyulam melodi dalam orkestrasi yang penuh. Ajaib, karena memang jarang sekali pemain orkestra di Jakarta berani berekspresi tidak tanggung-tanggung, walaupun di beberapa tempat seakan terkukung oleh kapabilitas ekspresi alat musik masing-masing. Garis melodi panjang serta ritmis di seksi gesek yang dipimpin concertmaster tamu asal Rusia Lev Polyakin dengan semburat suara alat tiup logam dan diselingi kelincahan alat tiup kayu sungguh terlihat nyata dan kaya. Ya, semua pemain dengan jelas berusaha menampilkan yang terbaik di bawah pimpinan maestro Jahja Ling yang memimpin rombongan pemusik dengan antusiasme dan penguasaan penuh pada karya dan pemusik.

Konser ini meninggalkan jejak senyum di muka hadirin dan para pemain. Sungguh menjadi sebuah kepuasan tersendiri melihat musik disampaikan dengan porsinya dan kesungguhan yang tidak setengah-setengah, sebuah oleh-oleh manis untuk dibawa pulang di tengah gerimis mengundang Sabtu itu.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: