Kabar Terkini

Lebih Dekat Bersama Les Musiciens du Louvre Grenoble


Les Musiciens du Louvre GrenobleOrkestra dengan instrumen otentik mungkin menjadi sebuah tanda tanya bahkan bagi kebanyakan pecinta musik, termasuk pecinta musik klasik. Orkes macam apa dan apa bedanya dengan orkestra yang biasa kita kenal? Nampaknya hanya Institut Français Indonesia (IFI) yang secara konsisten mencoba memperkenalkan bentuk seni musik ini kepada khalayak di Jakarta selama 2 tahun terakhir ini. Tahun lalu IFI mendatangkan ensemble Le Poeme Harmonique di Gedung Kesenian Jakarta. Namun kali ini, giliran orkes 40 instrumen otentik Les Musiciens du Louvre Grenoble (MDLG) yang hadir di Teater Jakarta malam Jumat ini.

Orkestra instrumen otentik adalah sebuah orkestra dengan format mirip orkestra yang kita kenal namun yang berbeda adalah dalam instrumen yang digunakan. Ya, orkestra instrumen otentik menggunakan instrumen dengan konstruksi desain alat musik sekitar 300-400 tahun lalu yang agaknya berbeda dengan instrumen modern turunannya yang sekarang kita kenal. Alhasil tercipta karakter suara yang berbeda yang sebenarnya lebih otentik dan mungkin lebih menggambarkan lebih dekat konsep suara komponis monumental Eropa.

Semangat mengangkat alat musik otentik ini sebenarnya dimulai di akhir dekade 1970an dan terus berkembang hingga saat ini. Les Musiciens du Louvre Grenoble adalah salah satu orkes ternama dan semenjak hari lahirnya di tahun 1982 menjadi orkestra yang identik dengan kebangkitan orkes barok otentik khas Prancis yang akhirnya merambah ke kancah dunia bersama dengan konduktor sekaligus pendirinya Marc Minkowski.

Membawakan karya cuplikan musik untuk pagelaran balet dari komponis C.W. Gluck Dom Juan ou le Festin de pierre, orkes ini bermain dengan presisi yang luar biasa dan kontrol intonasi yang mencengangkan. Perlu dicatat bahwa instrumen musik kuno memang mampu menciptakan suara yang cerah, lincah dan hangat namun sulit untuk dikontrol baik dari segi dinamika, warna dan bahkan intonasi. Namun di tangan 40 musisi ini, karya yang berkisah tentang si playboy legendaris Don Juan ini meluncur dengan elegan dan begitu dinamis.

Terlihat dengan sangat jelas bahwa setiap pemain secara mental selalu siap, bahkan ketika Marc menceritakan narasi kisah Don Juan dengan penuh humor sehingga nada pertama orkes selalu mencengangkan di telinga pendengar. Menjadi catatan menarik bahwa 40 orang personel dalam orkes ini bermain layaknya sebuah ensembel kecil musik kamar yang bermain musik sembari dengan seksama mendengarkan dan merespon kalimat musikal dari kolega mereka. Tidak lupa mereka pun bertukar senyum ketika kalimat musik mereka direspon dengan indah dan antusias oleh kolega mereka. Sungguh melihat orkes ini bermain, bahkan penonton mengerti bahwa semua musisi menikmati permainan musik mereka sendiri dan bukan hanya sekedar ’bertugas’.

Bagi mereka yang berpendapat bahwa musik barok adalah musik yang membosankan, babak kedua konser ini mutlak akan merubah pandangan mereka. Une Symphonie Imaginaire merupakan kompilasi karya simfonik komponis besar Prancis Jean-Philippe Rameau yang menjadi salah satu pilar akhir musik Prancis sebelum akhirnya tertelan oleh gelombang musik Austro-German selama seabad di Eropa. Rameau sendiri tidak pernah secara spesifik menuliskan musik simfonik instrumental yang berdiri sendiri, melainkan selalu merupakan musik yang mengiringi opera dan balet. Alhasil simfoni imajiner yang disusun lewat 17 cuplikan musik asli Rameau dengan selang-seling menjadi obat kerinduan MDLG ini akan musik simfonik karya Rameau yang memang selalu memikat. Musik yang hidup dengan tabuhan genderang kemudian dijalin dengan musik melankolis yang menyedot penonton masuk ke dalam hening reflektif silih berganti, menghantar penonton malam itu untuk mengenal lebih jauh musik Rameau yang jarang terdengar di Jakarta dan membuang jauh pendapat bahwa musik barok tidak ekspresif dan membosankan.

Marc Minkowski sendiri mengarahkan musik dengan sentuhan seorang bapak. Menggiring musik dengan cermat, Minkowski berhasil memberi makna hampir dalam setiap frase yang dimainkan malam itu, seakan semuanya berarti. Menarik, terdengar jelas bahwa konduktor yang sekarang juga tampil dengan orkes besar seperti Berlin Philharmonic, Cleveland Orchestra, Dresden Staatskapelle dan juga Wiener Symphony Orchestra, bahkan BBC Symphony serta Mariinsky Philharmonic berhasil memberi sentuhan spontanitas yang mengundang senyum dan menjadikan karyanya selalu berevolusi dan berbeda. Alhasil orkes pun terasa selalu berkreasi dengan hal baru ketika bermain dan bukan sekedar rutinitas not semata.

Tepuk tangan dan sambutan meriah akhirnya membahana di Teater Jakarta, memaksa mereka untuk memainkan 3 buah encore, sebuah bagian dari Symphony no.5 Schubert, Rondo dari Mozart dan ditutup dengan dendang dari salah satu bagian dari karya Rameau yang telah dimainkan sebelumnya. Sungguh sebuah pengalaman yang memperkaya khasanah bunyi dan suara, bertamasya dari cita rasa Prancis Rameau sampai masuk ke musik romantik awal di Wina lewat karya Schubert terlebih dengan suara instrumen otentik, malam itu Les Musiciens du Louvre Grenoble membuat kita selangkah lebih dekat dengan ide komponis-komponis yang namanya telah tercatat di lembar sejarah.

~ticket is courtesy of Aditya Setiadi

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: