Kabar Terkini

Secercah Keindahan dari Tanah Palestina


Seni pun bisa menjadi sarana untuk menunjukkan identitas diri dan kecintaan pada tanah air. Semangat inilah yang menjadi alasan dibentuknya The Palestine National Orchestra (PNO) yang sekaligus menjadi duta budaya bangsa yang saat ini carut-marut oleh perselisihan dan peperangan.

Musisi dari orkestra ini adalah musisi Palestina dan Palestina diaspora, mereka yang peduli akan bangsa mereka dan ingin menunjukkan wajah terbaik dari bangsa yang sesungguhnya pada masa sebelum perang dunia kedua pernah menjadi wajah negara Timur Tengah yang fasih dengan budaya dan seni musik klasik Barat. PNO yang merupakan orkestra festival, menjadi tempat berkumpul pemusik-pemusik keturunan Palestina yang tersebar di Eropa, Amerika dan Asia untuk berkontribusi bagi bangsa mereka.

Tampil di Aula Simfonia Jakarta, PNO tampil lengkap dengan hanya dibantu 5 musisi Indonesia. Penampilannya kali ini dipimpin oleh Matthew Coorey, konduktor keturunan Libanon, lahir di Australia dan kini bermukim di Inggris. PNO pun muncul dengan formasi orkes khas zaman klasik dan romantik awal dengan format gesek kedua biola berseberangan, dan cello dan bass bersebelahan dengan biola 1.

Tancap gas di babak pertama dengan langsung menyuguhkan karya populer Simfoni no.41 ”Jupiter” karya W.A. Mozart, PNO bermain dengan berani. Sebagai karya simfoni terakhir dari Mozart, tampak bahwa PNO menampilkan sisi maskulin dari karya yang memang menjadi titik kulminasi penulisan karya simfonik dari Mozart. Agaknya permainan malam itu menjadi testimoni dari banyak opini yang mencoba menggolongkan Mozart sebagai salah satu komponis transisi dari periode klasik ke periode romantik. Malam itu, orkes yang menjadi proyek unggulan Edward Said National Conservatory of Music Palestina menyuguhkan arah kalimat klasikal yang elegan dan terarah. Namun secara umum, orkes ini seakan memiliki warna keseriusan tersendiri yang sedikit berbeda dengan kebanyakan pendekatan karya Mozart yang lincah dan penuh canda.

Soprano Mariam Tamari berikutnya yang maju dengan karya Rossini Non si da Follia Maggiore dari opera Il Turco in Italia yang juga menjadi cermin keadaan bangsa Palestina diaspora yang tersebar di penjuru dunia yang ingin pulang ke tanah air mereka. Mariam sendiri tampil dengan kontrol yang luar biasa atas instrumen sopran koloraturnya, mengeksekusi dengan pasti dan penuh tenaga dan proyeksi yang cukup terjaga. Ia pun juga menyanyikan Martern Aller Arten dari opera Il Seraglio karya Mozart.

Selain karya Mozart, karya musisi orkes pun juga diketengahkan. Klarinetis Kinan Azmeh pun maju dengan gubahannya berjudul “Wedding” yang mengisahkan sukaria perkawinan adat Arab. Mengapit bagian lembut dengan dua bagian ritmis, Kinan yang juga menjadi solois klarinet dan mengecap pendidikan di Juilliard School New York menciptakan karya ini dengan citarasa seorang Arab di Amerika. Bermain dengan birama 4+3, kehadiran tabla dan modus Arab namun bersimbah progresi ala jazz menjadikan karya ini mengetengahkan fantasia seorang yang rindu kampung halaman, penuh dengan perkawinan unsur kosmopolit dan tradisi. Flutis Wissam Boustany juga mengetengahkan karyanya untuk solo flute bertajuk “And the Wind Whispered” yang mengisahkan angin yang melintasi dunia. Di sini profesor bidang flute di The Northern College of Music Manchester, Inggris menunjukkan virtuositasnya. Permainannya dengan berani dan penuh kendali melibas multifoni yang bertenaga dan dengan flute modernnya mampu mengimitasi kesyahduan seruling dizi dari China dan Shakuhachi dari Jepang yang tenang dan meditatif. Sungguh mencengangkan.

Karya pemuncak adalah karya dari Ludwig van Beethoven yang identik dengan nafas kebebasan dan nilai kemanusiaan. Simfoninya yang ketujuh menjadi suguhan penutup malam itu. Menarik bahwa karya Beethoven yang ternama ini ditampilkan dengan bertenaga dan penuh semangat. Tempo yang cenderung cepat memaksa para pemain untuk selalu siaga dengan energi yang seakan tidak pernah habis sepanjang karya dengan intonasi yang cukup prima. Karya ini juga menjadi favorit kalangan muda yang pernah menikmati serial manga Jepang Nodame Cantabile. Alhasil tepuk tangan meriah menutup konser ini dan memaksa mereka menyuguhkan sebuah tanda persaudaraan lewat karya “Tanah Airku” karya Ibu Sud dan diaransemen oleh Addie MS.

Matthew Coorey yang pernah tampil untuk berbagai orkes seperti BBC Symphony, London Symphony, Seattle Symphony dan Philharmonia di Inggris, menggawangi permainan dengan cukup baik. Perawakannya yang cenderung elegan, memberikan gambar besar bagi musik yang ada lewat gerakannya yang efisien menyapu seluruh orkestra. Namun agaknya, dikarenakan orkes yang melakukan debutnya di tahun 2010 ini adalah orkes festival yang berkumpul sekali waktu untuk sebuah misi, dibutuhkan tangan dingin yang mampu merangkul seluruh permain untuk bermain lebih cermat namun tetap terasa spontan dan lepas.

Namun demikian secara umum, The Palestine National Orchestra malam ini tampil dengan cukup mengesankan dan menarik. Terlihat pemain juga antusias membagikan musik yang mereka miliki kepada audiens yang agaknya tergolong sedikit malam itu. Misi perdamaian ini juga menjadi sarana belajar juga bagi kita, bahwa musik dalam universalitasnya berbicara bagi semua. Dan musisi ini adalah duta bagi bangsanya, bangsa yang memiliki afinitas khusus dengan bangsa Indonesia.

~ The Palestine National Orchestra akan kembali tampil di hari Minggu tanggal 31 Maret 19:30 di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran dan konser edukasi di Universitas Pelita Harapan di tanggal 1 April.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Secercah Keindahan dari Tanah Palestina

  1. Siffieldh // 24 April 2013 pukul 5:55 am //

    Kerenn bung artikelnya !🙂

  2. Terimakasih Bung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: