Kabar Terkini

Wahai Direktur Artistik, Tempatkanlah Dirimu di Sisi Penonton!


Direktur artistik marilah sedikit lebih peka.

Direktur Artistik adalah sebuah jabatan yang sesungguhnya cukup berat dan malah seringkali dianggap remeh oleh banyak organisasi seni pertunjukan. Ya, berat karena direktur ini bertugas sebagai pemikir dan pencetus ide dan visi dari sebuah pertunjukan secara keseluruhan, baik dari segi konsep maupun juga bertanggungjawab pada operasional dan eksekusinya. Memang pada prakteknya direktur artistik akan dibantu oleh stage manager/manajer panggung, manajer produksi maupun direktur teknis. Namun dia yang memegang peranan penting dalam membentuk keseluruhan visi berkesenian dari kelompok tersebut. Pun seringkali dalam keadaan yang terbatas, sang direktur artistiklah yang merangkap akan tugas-tugas tersebut.

Dalam berkesenian tentulah sebuah keharusan apabila seorang seniman, termasuk direktur artistik memiliki idealisme tertentu dalam menggarap pertunjukan. Namun sering karena begitu tenggelam dalam idealisme itu, aspek penonton yang terlupakan. Walhasil, penonton menjadi tidak nyaman dan seringkali makna yang ingin disampaikan lewat pertunjukan yang dibawakan tidak lagi tersampaikan. Lantas untuk apa sebuah pertunjukan? Hanya untuk menyenangkan dan memuaskan diri? Atau hanya untuk ambisi pribadi?

Berbagai macam permasalahan kecil yang seringkali menjadi pertanda hal ini terjadi. Keterlambatan waktu dimulainya acara misalnya bisa menjadi momok bagi penonton yang telah dengan setia memenuhi janji dari panitia dalam melangsungkan sebuah acara. Sebuah toleransi memang memungkinkan barang 15 menit karena keadaan lalulintas Jakarta yang memang tidak memungkinkan. Tapi apabila sampai 40 menit? Bahkan bioskop saja tetap berjalan tepat waktu walau yang menonton hanya 4 orang di dalam, tapi bagaimana dengan sebuah konser yang sudah ada 20 orang di dalamnya? Haruskah menunggu? Mungkin ini yang perlu kita jawab bersama.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan secara menyeluruh adalah kesinambungan dramaturgi dari sebuah pertunjukan. Dan untuk pertunjukan musik, seringkali hal inilah yang dilupakan banyak direktur artistik dari organisasi seni musik. Konser misalnya tidak digarap secara mendetail. Bagaimana perlengkapan keluar dan masuk, bahkan bagaimana pendukung dan pemusik keluar-masuk area pertunjukan harus menjadi hal yang sungguh diperhatikan. Seberapa banyak kita melihat pertunjukan yang hampir separuhnya diisi dengan kesibukan keluar masuk panggung dan menata perlengkapan. Belum lagi dengan ketidaksigapan yang mengakibatkan penonton melongo menyaksikan panggung yang mengganggur, kosong tiada penampil tetapi juga tidak ada kegiatan apapun di atasnya bahkan di tengah-tengah pertunjukan. Seringkali direktur artistik tidak sadar bahwa hal ini sungguh dapat merusak kesatuan dari pertunjukan itu sendiri, seberapapun baiknya penampil yang menunjukkan kebolehannya di pertunjukan itu. Pun adalah sebuah bentuk ketidakmampuan penyelenggara untuk menghargai waktu dan perhatian dari ratusan penonton yang hadir dalam acara tersebut.

Menghargai adalah sebuah perbuatan yang timbal-balik. Penonton menghargai penampil, begitu juga penampil menghargai keputusan penyelenggara dan penyelenggara sudah sepantasnya menghargai penonton yang sudah meluangkan waktu menyaksikan acara. Para direktur artistik, tempatkanlah dirimu sebagai penonton. Ketahui apa yang ingin disaksikan penonton, apa yang tidak ingin disaksikan penonton lalu mulai menyusun pertunjukan berdasarkan pengetahuan tersebut.

Idealisme penting, tapi pergunakan hati dan kebijaksanaan dalam menyusun setiap detail pertunjukan agar setiap menit yang diluangkan penonton sungguh berharga dan setiap mereka pulang dengan puas dan diperkaya. Hanya dengan kemauan untuk memutar otak dengan sungguhlah maka akan muncul sebuah konsep yang matang yang sungguh berbela rasa pada penonton, namun tetap menjaga idealisme yang kita junjung. Hanya dengan demikian penonton akan mampu memetik hikmah dari pertunjukan tersebut. Pun kerja keras seniman dan penampil tidak sia-sia terhapus oleh catatan buruk penyelenggaraan yang dikelola secara setengah-setengah.

Sekali lagi, Direktur Artistik, tempatkanlah dirimu di sisi penonton! Dan pikirkan dengan baik, apa yang bisa kau lakukan agar penonton dapat membawa pulang pesan dari konser malam itu.

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Wahai Direktur Artistik, Tempatkanlah Dirimu di Sisi Penonton!

  1. TeoMinaroy // 22 April 2013 pukul 12:43 pm //

    Terimakasih banyak Mike BM atas tulisannya, mudah2an dapat menjadi masukan bagi banyak orang ya. Sebagai masukan tambahan, saya sebagai penonton pentas2 seni pun memiliki keterbatasan konsentrasi, agak lelah kalau menonton pentas dengan durasi agak panjang. Mungkin 90-120 menit itu durasi yang tepat ya. Tapi ini hanya opini saya saja sebagai penonton.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: