Kabar Terkini

Gita Cinta: Bertutur dari Hati


Gita CintaKisah asmara di masa SMA sungguh indah mewarna dan juga penuh dengan drama dan terkadang duka. Inilah yang menjadi tema sentral dari drama musikal Gita Cinta yang ditampilkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada akhir pekan lalu. Kisah sepasang kekasih di sekolah, Ratna dan Galih, yang berlawanan dengan kehendak ayah Ratna adalah garapan atas materi novel Eddy D. Iskandar Gita Cinta dari SMA dan juga film di tahun 1979 yang diperankan Rano Karno dan Yessi Gusman. Rangkaian pertunjukan di tahun 2013 yang dipimpin oleh produser Cindy R. Briere ini adalah rangkaian pertunjukan kedua setelah sukses di rangkaian pertunjukan pertama di tahun 2010.

Kecintaan Dian HP yang menjadi librettist, komponis dan pengarah musik pada karya dan materi ini sungguh nyata dan menjadi testimoni tersendiri. Kekuatan alur musikal yang disuguhkan benar mengena dan terasa begitu kuat. Keriangan dan cinta yang bersemi begitu nyata di setiap jalinan nada dan melodi di babak pertama, membawa penonton terbang ke awan. Demikian juga dengan konflik dan kepedihan yang kuat di babak kedua, meninggalkan jejak yang mendalam. Di sini Dian HP selain fasih bertutur juga menunjukkan kemampuannya untuk menggarap teknik-teknik komposisi yang cukup rumit seperti teknik quodlibet, untuk menjahit berbagai melodi populer 80an dalam adegan We Love The 80’s. Ia pun mengolah berbagai gaya dan irama musik dunia seperti tango, waltz dan sentuhan musik ranah Sunda untuk memberi warna pada karya ini sembari tetap menjaga kesatuannya.

Penataan panggung dan cahaya pun mendapat tempat yang istimewa di tangan sutradara Adjeng MJ, penata artistik Angga Prasetyo, penata panggung Hardiman Radjab, dan penata cahaya Donie Debirkud. Semua tertata pada tempatnya, dan penggarapan yang mendalam akan tata panggung dan dekor terasa cerdas dan seksama. Koreografi oleh Groho Widagdo pun terasa begitu kuat, bertenaga dan menantang secara fisik. Adalah sebuah pujian tersendiri bagi seluruh cast malam itu yang telah menempa fisik dan teknik vokal prima terlebih dengan koregrafi yang begitu menuntut. Perlu dicatat bahwa secara istimewa eksekusi gerak para pemeran bukan merusak musik namun seakan bahu-membahu bersama eksekusi nada dan suara, menjadikannya sebuah paket yang utuh. Dan secara ensembel pun semua terdengar solid dan jitu.

Pujian secara khusus dilayangkan kepada pemeran utama Andrea Miranda yang tampil begitu menggerakkan hati. Setiap aspek dari Ratna seakan terukir begitu kuat dalam setiap gerak dan nafasnya, mengundang penonton untuk ikut merasakan suara hati dan gejolak dalam Ratna. Gabriel Harvianto juga tampil dengan jujur sebagai Galih yang cerdas dan menarik. Di tangan kedua orang ini, Ratna dan Galih seakan bukan hanya sekedar menyanyi dengan indah – dimana begitu mungkin terjadi karena kepiawaian Dian HP mengolah melodi –  namun sungguh menjadi peran yang mengakar, menjadikan lakon ini meyakinkan dan secara istimewa dekat dengan penonton.

Netta KD juga patut mendapat acungan jempol atas perannya yang komikal sebagai Ibu Kantin yang luwes dan juga mengundang tawa. Sentuhan melankoli juga dengan setia digambarkan Sita Nursanti sebagai Mbak Ning, pun tokoh antagonis Ayah Ratna diperankan dengan meyakinkan oleh Chandra Satria. Dendy Hamid pun tampil menggigit dengan suara paraunya sebagai Anto yang menghalangi kisah kasih Ratna dan Galih.

Adalah sebuah kepuasan batin tersendiri menyaksikan sebuah karya yang terlahir sebagai buah hati para pemerannya. Semua asa tertumpah dalam karya ini, baik secara penggarapan musik, akting para pemeran maupun penataan panggung. Sebuah karya yang jujur bertutur dan berekspresi dari hati tentu menyentuh insan penonton. Semoga produksi kali ini menjadi sebuah harta tersendiri bagi mereka yang menyaksikan…

~ penulis menyaksikan pergelaran terakhir di hari Minggu malam 22 April 2013

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: