Kabar Terkini

Resital dan Latihan? Pertunjukan Beragam Rasa


Erasmus Huis malam ini menyuguhkan acara yang sedikit berbeda. Resital berbaur latihan terbuka/open rehearsal, adalah pengalaman pertunjukan yang agaknya tidak biasa. Namun inilah yang disuguhkan Pusat Kebudayaan Belanda di Kamis malam ini.

Mungkin tidak banyak yang bisa kita diskusikan dari sebuah latihan terbuka yang dipaparkan oleh Paduan Suara Mahasiswa Agriaswara dari Institut Pertanian Bogor, dikarenakan memang istilah yang digunakan latihan terbuka. Memang ada beberapa pendekatan bisa dilakukan dalam mengadakan latihan terbuka, latihan terbuka layaknya sebuah gladi resik untuk seluruh program tanpa jeda ataupun latihan terbuka layaknya latihan sehari-hari dengan sesekali menghentikan musik untuk memberikan koreksi. Namun malam ini, Agriaswara dan Arvin Zeinullah memilih pendekatan pertama di panggung Erasmus, sehingga walaupun bernama rehearsal untuk hari besar naik tahtanya raja baru Belanda di bulan Mei ini, namun terasa sebagai sebuah bagian dari konser.

Secara umum, setelah membuka dengan lagu kebangsaan Belanda dan Indonesia Raya, Agriaswara terjun untuk menggali khasanah madrigal Orlando di Lassus dari aliran musik renaisans Burgundy, hingga karya-karya modern dari Eric Whitacre, Heikki Sarmanto, Jussi Chydenius dan ditutup dengan lagu tradisional Lisoi.

Agriaswara tampil dengan cukup meyakinkan dan penguasaan karya yang penuh yang menurut seorang penonton malam itu dan aktivis paduan suara Jay Wijayanto, baru saja dibawakan dalam konser mereka yang lalu, juga di Erasmus Huis. Mungkin sedikit perhatian perlu ditujukan bagi kestabilan intonasi pada suara bass yang sungguh memegang peranan penting, dan relaksasi yang cukup pada lini suara, terutama tenor untuk mendukung proyeksi yang lebih mantap. Selain itu kejelasan dalam aba-aba akan mampu memoles lebih jauh Two Moves and The Slow Cat karya Dennis Kam yang terbilang paling rumit, namun seluruh paduan suara patut diacungi jempol karena mampu menyanyikan karya ini dengan penguasaan yang mendalam pada lagu. Sungguh open rehearsal ini sudah mencapai taraf layak konser, sehingga agaknya cukup jenaka apabila penampilan mereka hanya digolong sebagai latihan belaka.

Di babak kedua, giliran aroma resital tiga dara yang disuguhkan. Pieternel Berkers (akordeon), Bernadeta Astari (Soprano), dan Kanako Inoue (piano) berkolaborasi dalam sebuah resital yang seru dan menggelitik. Menarik karena kolaborasi tiga instrumen ini bukan hal yang biasa kita dengar. Dua lagu Poulenc Les Chemins de l’amour dan Voyage a Paris yang aslinya ditulis hanya untuk piano dan vokal bertambah warna dengan akordeon yang membawa napas romantisme dan eklektik tersendiri. Demikian juga karya Dansa dari Bachianas Brasileiras no.5 dari Villa Lobos dan sebuah potongan dari Cosi fan Tutte dari Mozart, Una donna a quindici anni, mendapat warnanya tersendiri dengan dimainkan oleh trio ini.

Bergantian karya vokal dengan piano seperti Ständchen dari Strauss dan Quel guardo il cavaliere… so anch’io dari Donizetti, piano dengan Akordeon seperti Oblivion dan Adios Noniño dari Piazzolla. Berkers, sang akordeonis, bermain dengan penguasaan total pada instrumennya. Pemilihan register yang membius dan beraneka warna dimampukan oleh akordeon tombol yang ia mainkan, sehingga musik yang disuguhkan pun variatif. Karya Amalgame dari Angelis menjadi bukti dari permainannya yang begitu asyik. Sedangkan Inoue tampil dengan nafas yang berbeda pada salah satu Nocturne Chopin yang ia bawakan malam itu. Permainannya yang lembut memberi kesan berjarak yang memberikan efek santai dan ringan pada karya opus 27 no.2 ini.

Bernadeta Astari sebagai seorang soprano lokal yang telah berhasil gemilang menimba ilmu di negeri Belanda tampil dengan maksimal. Dengan berani ia mengeksplorasi panggung dengan kemampuan aktingnya yang baik. Ekspresi wajah begitu jelas menggambarkan nuansa hatinya yang dengan lincah berinteraksi dengan instrumentalis lainnya. Dari segi vokal pun ia sungguh matang dengan penguasaan suara yang mumpuni. Proyeksinya pun terasa lega dengan kemampuan bermain warna dan emosi langsung pada suaranya yang merdu namun memiliki ketajaman yang cukup untuk menembus suara akordeon yang bisa saja menghadang. Sungguh sebuah paket musikal yang lengkap untuk seorang vokalis. Alhasil sambutan terdengar meriah di akhir pertunjukan dan trio ini menutup seluruh persembahan dengan Bengawan Solo yang dimainkan di atas piano, akordeon yang mengiringi Deta yang bernyanyi bersama penonton.

Konser malam ini memang beda baik dari segi konsep maupun penampilan tapi cukup seru untuk dinikmati dan dicermati. Penonton pun pulang dengan perasaan puas.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Resital dan Latihan? Pertunjukan Beragam Rasa

  1. Wahh, gue ketinggalan infonya!!

  2. Sayang sekali bro… Seru juga konsernya…

  3. aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: