Kabar Terkini

Lantangnya Sajian Amadeus


AmadeusGB1

Tema “Full Blast” memang bisa dikatakan cocok dengan kisah hari ini. Amadeus yang identik dengan Orkes Gesek Capella Amadeus hari ini mengetengahkan barisan tiupnya sebagai kelanjutan dari program mereka bersama Goethe Institut memupuk bibit baru seksi tiup yang akan menjadi bagian dari inisiatif Amadeus Symphony Orchestra yang telah dirintis selama dua tahun terakhir ini.

Bagian pertama konser menjadi sajian tematik Amadeus Goes Brass dengan tampilnya berbagai seksi tiup di 13 karya-karya pendek. Seksi tiup baik ensembel trombon, horn, tiup kayu dan Amadeus Brass pun terlihat bermain bersama sebagai sebuah kesatuan dengan nafas yang mudah diikuti. Mulai dari trio hingga oktet semua dijelajahi.

Mungkin tidak banyak ekspektasi dari seksi tiup dengan umur bermain 2 tahun, terlebih banyak dari pemain ini bermain alat musik tiup sebagai instrumen kedua setelah alat gesek yang menjadi primadona di Sekolah Musik Amadeus. Namun menarik bahwa terjadi perkembangan yang cukup signifikan dari teknik pemain yang pernah kita dengar 2 tahun sebelumnya. Permainan Ragtime pada brass sungguh menjadi suguhan menarik malam itu, seperti pada lagu tradisional populer “Oh When The Saints” dan Kraken karya Chris Hazell. Obois Benjamin Fischer yang didatangkan Goethe sebagai pengajar pun tampil mempesona dengan kontrol yang menakjubkan dalam variasi besutan Beethoven dari aria “La ci darem la Mano” karya Mozart. Juga permainan fagot Vernita Sjarif dan trombon dari Dede Pardede juga menarik hati.AmadeusGB4

Di bagian kedua konser, giliran Neo Amadeus Symphony Orchestra yang tampil dengan format 43 orang pemain memenuhi panggung Goethe Haus Kamis malam itu, lengkap dengan 3 orang di seksi perkusi, dan 7 pada seksi tiup. Memainkan dongeng musikal anak “Peter and the Wolf” karya Sergei Prokofiev, orkes yang dipimpin oleh Lilian Lenggono berkolaborasi dengan narator Sisilia Wiratama yang menceritakan kisah dengan seru.

Dengan titel Neo, orkes ini merupakan orkes yang digawangi oleh anak-anak didik/pelajar dari Sekolah Musik Amadeus. Namun yang mampu mengundang decak kagum adalah bagaimana eksekusi dari seksi gesek yang sedemikian bersih dan mengena. Nampak sebenarnya seksi gesek sudah sangat siap untuk ditantang lebih untuk penggarapan yang jauh lebih mendalam walaupun mereka masih menyandang status pelajar. Ketelitian intonasi dan kematangan teknik fundamental dari suara sudah teramu dengan baik, tinggal bagaimana mengeksplorasinya lebih jauh.

AmadeusGB5

Lilian Lenggono sebagai pengaba juga tampil dengan cermat. Berbagai dinamika, karakter sudah tergambar dengan jelas, tinggal bagaimana menantang pemusik untuk teliti terhadap nuansa yang ingin dibentuk melalui interaksi musik kamar yang sebenarnya selalu menjadi ciri khas permainan orkes gesek Capella Amadeus senior selama ini. Agaknya kesatuan itu masih dapat diasah, terlebih dengan hadirnya seksi tiup di orkes muda ini. Memang akan menjadi tantangan tersendiri bagi Grace Sudargo selaku pimpinan dari Amadeus untuk mengisi dan membentuk seksi gesek low strings. Berlimpahnya pemain violin namun kurangnya pemain viola, cello dan bass agaknya sudah harus menjadi sorotan tersendiri karena berpengaruh terhadap keseimbangan suara orkestra secara utuh yang seringkali membutuhkan nada-nada rendah yang berwibawa.

AmadeusGB2Namun satu catatan tersendiri adalah bagaimana mengemas konser ini secara utuh. Sisilia yang berkisah secara seru dan lantang pada mikrofon agaknya malah mengganggu pendengar secara umum dikarenakan volume suara yang terlalu keras di pengeras suara ruangan. Dengan kapasitas ruangan 300 orang di Goethe, orkes 43 orang sudah bersuara besar apalagi ketika grandcasa (bassdrum) dan timpani bergemuruh, namun nyatanya suara sang narator lebih keras lagi, sehingga memekakkan 300 lebih pasang telinga audiens memadati auditorium ini. Sungguh sayang, karena akhirnya sajian musik pun sulit dinikmati karena perbedaan volume suara yang sedemikian drastis, menyulitkan pemain maupun penonton untuk menikmati detail-detail suara yang dihasilkan. Alhasil, solidnya permainan ensembel terutama dari segi warna dan kolorasi sulit tercapai. Mungkin adalah lebih bijak untuk sedikit mempertimbangkan keseimbangan volume suara narator, orkes dan juga ukuran ruangan secara menyeluruh dalam sebuah pagelaran agar pesan dari musik tersampaikan secara optimal.

AmadeusGB3

Secara umum, sajian musik kamar tiup bukanlah sesuatu yang bisa kita saksikan setiap waktu, terlebih di Jakarta. Adalah sebuah kemewahan untuk bisa menyaksikan sebuah babak konser yang didedikasikan untuk musik kamar khusus instrumen tiup dengan level permainan yang cukup baik. Dan karenanya, sajian Amadeus ini layak untuk dinantikan.

~ticket courtesy of Edu S

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: